PendidikanPendidikan

Festival Literasi dan Denyut Buku-Buku di Jantung Kota Padang

16views

Oleh Muhammad Subhan

SUDAH malam saya tiba di Padang. Sebelum ke penginapan, saya sempatkan mampir ke Semesta Buku Gramedia di ruang utama Youth Centre, Jalan Bagindo Aziz Chan.

Sudah sepi, hanya tinggal beberapa orang, sebab sudah di penghujung waktu. Pameran ditutup pukul 21.00 WIB. Beberapa pengunjung antre di kasir. Imbauan dari pengeras suara mengingatkan bahwa beberapa saat lagi layanan akan ditutup.

Dalam sisa waktu itu, saya sempatkan berkeliling, melihat-lihat buku yang dipajang dengan harga diskon yang lumayan. Saya mencari buku yang saya minati. Serba cepat. Mata saya tertuju pada buku kumpulan esai “Harmonium” karya Budi Darma.

Tak menunggu lama, buku itu saya raih. Saya bergegas ke bagian kasir. Tak lagi antre, karena orang-orang sudah keluar ruangan. Tinggal saya, lalu membayar buku yang saya pilih itu.

Selama dua hari di Padang, buku bersampul hijau dengan lukisan abstrak itu menemani saya di sela-sela kegiatan. Buku yang asyik, tentu.

Di Padang, saya memenuhi undangan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Padang. Perpustakaan yang memiliki gedung baru yang rancak di jantung Kota Padang itu tengah menghelat Festival Literasi bekerja sama dengan Gramedia. Salah satu agendanya menerbitkan buku penulis Sumatra Barat sekaligus membedahnya.

Tahun ini, Dispusip Kota Padang menerbitkan enam buku karya penulis Sumatra Barat. Ada fiksi dan nonfiksi. Saya diundang, dan menyerahkan naskah fiksi berupa kumpulan cerita pendek berjudul “Yang Kutahu tentang Lahab”. Jumat, 1 Mei 2026, buku itu dibedah oleh empat narasumber: Heriza Syafani, S.STP., M.P.A. (Kepala Dispusip Kota Padang), Dr. Yona Primadesi, M.Hum. (penulis, akademisi), Deddy Arsya, M.Hum. (sastrawan, akademisi), dan Fatris M.F. (penulis).

Saya senang buku saya itu dibincangkan oleh para pakar di bidangnya, sehingga saya tahu lebih dan kurang isi buku itu.

Menerbitkan dan membedah buku penulis Sumatra Barat telah menjadi tradisi di Dispusip Kota Padang setiap tahun. Saya menilai program ini sangat menarik dan inovatif, karena tidak sekadar menghadirkan buku sebagai benda baca, tapi juga menghidupkan ekosistem literasi secara utuh.

Iklim literasi memang tidak lahir begitu saja. Iklim itu harus dibentuk, dipelihara, dan dirawat secara berkelanjutan. Dalam konteks ini, perpustakaan menjadi pintu masuk yang strategis sebab bukan hanya tempat menyimpan buku, tapi ruang bertumbuh bagi gagasan, pertemuan, dan percakapan intelektual.

Ketika perpustakaan mengambil peran aktif dengan memfasilitasi penulis, menerbitkan karya, meluncurkan buku, hingga mendiskusikannya, maka yang lahir bukan semata kegiatan seremonial, sebaliknya gerakan kultural. Buku tidak lagi berhenti di rak, tapi bergerak dari tangan ke tangan, dari pikiran ke pikiran.

Lebih jauh, kehadiran buku-buku karya penulis di perpustakaan menjadi sangat penting.

Selama ini, rak-rak perpustakaan di daerah cenderung didominasi oleh buku-buku penulis luar. Tentu itu tidak salah, tapi menghadirkan karya penulis di daerahnya berarti memberi ruang bagi suara sendiri untuk didengar.

Buku karya penulis di daerah memiliki kedekatan emosional dan kultural dengan pembacanya, karena sudah pasti merekam pengalaman, bahasa, dan realitas yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Dengan begitu, pembaca tidak hanya membaca, tapi juga menemukan dirinya di dalam teks.

Di sinilah pentingnya memperkaya koleksi perpustakaan dengan karya-karya lokal, agar literasi tidak terputus dari akar budaya masyarakatnya sendiri.

Selain itu, kegiatan bedah buku yang melibatkan pelajar dan guru menjadi ruang belajar yang hidup. Diskusi semacam ini tidak hanya membedah isi buku, tapi juga membuka wawasan tentang proses kreatif, cara berpikir penulis, dan keberanian menuangkan gagasan.

Dari ruang-ruang seperti inilah bibit-bibit baru dalam dunia kepenulisan dapat ditemukan.

Mungkin hari ini mereka hanya hadir sebagai peserta, tapi siapa tahu esok mereka bisa menjadi penulis yang karyanya dibaca dan didiskusikan.

Saya melihat upaya Dispusip Kota Padang ini sebagai langkah konkret yang patut diapresiasi. Di tengah tantangan zaman yang serba digital, ketika perhatian mudah terpecah dan minat baca sering dipertanyakan, menghadirkan kegiatan literasi yang menyentuh langsung masyarakat adalah pekerjaan yang tidak mudah. Namun, justru di situlah letak pentingnya literasi harus terus diperjuangkan dengan cara-cara yang relevan dan membumi.

Sementara pada Sabtu, 2 Mei 2026, bertepatan Hari Pendidikan Nasional, saya juga diundang Dispusip Kota Padang menjadi salah satu panelis yang membincangkan novel Pertemuan di Ujung Senja karya Fitriana, S.Pd. Novel ini berjenis romance. Panelis lainnya adalah Jumaidi, S.Pd., M.Pd. (Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat), Sukri Umar, S.Pt., M.Pd. (jurnalis), dan Diana, M.Pd. (peneliti pada Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat).

Acara ini diikuti peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, guru, dan masyarakat umum di Sumatera Barat. Momentum Hari Pendidikan Nasional memberi kesan tersendiri bagi kegiatan tersebut. Pendidikan dan literasi adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Membicarakan sebuah buku dalam forum terbuka bukan hanya soal mengulas cerita, tapi juga menegaskan bahwa membaca dan berdiskusi adalah bagian penting dari proses pendidikan itu sendiri. Dari diskusi, lahir pemahaman; dari pemahaman, tumbuh kesadaran; dan dari kesadaran, muncul keinginan untuk terus belajar.

Dua hari di Padang terasa singkat bagi saya, tapi meninggalkan kesan yang dalam. Dari sebuah buku yang saya beli di sudut pameran yang hampir tutup, hingga ruang-ruang diskusi yang hangat dan penuh gagasan, semuanya seperti terhubung dalam satu benang merah: literasi adalah kerja bersama. Kerja itu membutuhkan ruang, dukungan, dan keberlanjutan.

Dan di tengah semua itu, saya melihat harapan, bahwa buku masih akan terus dibaca, ditulis, dan dibicarakan. Bahwa perpustakaan masih akan menjadi tempat orang pulang untuk menemukan apa yang selama ini dicari. Bahwa di kota ini, di ruang-ruang seperti itu, masa depan sedang ditulis, perlahan tapi pasti. **Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis

Leave a Response