OpiniPendidikan

Sarjana, Daya Juang, dan Adaptasi di Era Ketidakpastian

14views

Oleh Muhammad Subhan

Kontras antara latar pendidikan dan pekerjaan ini bukan sekedar anomali. Sebaliknya, ini adalah cermin bahwa hidup tidak selalu linier. Apa yang tidak dipelajari selalu menjadi apa yang dijalani. Pertanyaannya kemudian, apakah kita akan terus memelihara ilusi bahwa pendidikan tinggi adalah jaminan pekerjaan? Ataukah kita mulai berani mengubah paradigma bahwa pendidikan adalah kunci untuk bertahan, beradaptasi, dan menciptakan kemungkinan?

SEORANG kawan saya memberi tamsil menarik. Ia menempuh pendidikan sarjana dan magister di jurusan sastra. Secara logika, jalan hidupnya tidak jauh dari dunia akademik atau kepenulisan.

Namun, kenyataannya berkata lain. Sekarang ia malah membuka usaha bengkel las ketok dan reparasi peralatan rumah tangga.

“Kenapa tidak menulis atau menjadi guru saja?” tanya saya suatu hari.

“Peluang kerja terbatas, sementara dapur harus tetap mengepul,” ujarnya, tanpa beban. Jawabannya membuat saya terpekur dan merenung.

Begitulah, pilihan hidup sering kali dibesarkan oleh kebutuhan yang mendesak. Idealisme terjadi dalam negosiasi dengan kenyataan, dan dalam proses itu, tidak semua orang mampu bertahan pada jalur awalnya.

Kontras antara latar pendidikan dan pekerjaan ini bukan sekedar anomali. Sebaliknya, ini adalah cermin bahwa hidup tidak selalu linier. Apa yang tidak dipelajari selalu menjadi apa yang dijalani.

Pertanyaannya kemudian, apakah kita akan terus memelihara ilusi bahwa pendidikan tinggi adalah jaminan pekerjaan? Ataukah kita mulai berani mengubah paradigma bahwa pendidikan adalah kunci untuk bertahan, beradaptasi, dan menciptakan kemungkinan?

Di tengah dunia yang mudah berubah, jawaban terbaik bukanlah kepastian, namun kesiapan menghadapi ancaman itu sendiri.

Persoalannya, di tengah membeludaknya lulusan perguruan tinggi, sebagian malah terjebak dalam kategori ironis: “penganggur intelektual”. Mereka cenderung menunggu peluang alih-alih menciptakannya.

Ketika ditanya mengapa tidak merintis usaha mandiri, definisinya hampir seragam: “kendala modal”.

Di titik ini, logika kami diuji. Jika ukuran segalanya adalah modal finansial, lalu untuk investasi besar apa yang dihabiskan bertahun-tahun di bangku kuliah? Bukankah dana tersebut, jika hanya dijadikan ukuran utama, bisa langsung dialihkan menjadi modal usaha sejak awal?

Argumen ini tentu saja tidak bermaksud menjelaskan marwah pendidikan tinggi. Sebaliknya ingin menempatkan kembali hakikat pendidikan pada posisi yang seharusnya, sebagai jalan membangun kapasitas berpikir, kreativitas, dan keberanian mengambil risiko, bukan sekadar tiket memasuki dunia kerja formal yang pintunya kian menyempit.

Realitas hari ini menunjukkan kompetisi yang kian sengit. Bukan tidak mungkin di masa depan, sejumlah profesi akan “turun ke jalan” menawarkan keahlian secara langsung. Bukan tidak mungkin pula, karena lulusan terus bertambah, sejumlah profesi masuk kampung keluar kampung demi menawarkan keahlian mereka.

Saat ini, calon guru ratusan ribu masih menunggu kesempatan. Dokter, profesi paling bergengsi, pun bisa menghadapi cerita serupa ketika daya tampung rumah sakit tak lagi sebanding. Bayangkan, suatu hari, akan terdengar teriakan di tepi jalan, “Dokter… dokter… Jasa dokter, Pak, jasa dokter, Bu…. Ada yang sakit, Pak? Ada yang sakit, Bu?”

Imaji satir sekaligus getir itu mungkin terdengar menggelitik, namun sekaligus menyimpan kecemasan tentang ketimpangan antara jumlah tenaga profesional dan daya tampung lapangan kerja.

Yang paling dekat, kita bahkan sudah melihat para pesohor turun gunung ke ruang-ruang digital yang lebih cair demi menjaga eksistensi. Seorang penyanyi papan atas pun mau-maunya tinggal di pinggir jalan sambil menunggu saweran maupun taburan hadiah di TikTok.

Fenomena ini menegaskan bahwa sekat kaku antara “pekerjaan bergengsi” dan “pekerjaan biasa” telah terkikis. Semua kembali pada kemampuan adaptasi.

Namun, kemampuan adaptasi ini dipengaruhi oleh persoalan mentalitas generasional. Sebagian besar Generasi Z, misalnya, sering dianggap rentan dalam menghadapi tekanan dunia kerja. Teguran dari atasan terkait keteledoran atau sedikit kesalahan sering kali berakhir pada surat pengunduran diri keesokan hari. Tanpa perlu berpikir panjang.

Kondisi ini sangat kontras dengan generasi pendahulunya yang harus melewati birokrasi administratif yang rumit dan pengaturan batin yang hebat hanya untuk memutuskan keluar dari sebuah pekerjaan.

Perbedaan ini bukan semata-mata mentalitas, melainkan mencerminkan perubahan ekosistem sosial-ekonomi. Kecepatan informasi dan banyaknya pilihan membentuk cara pandang yang berbeda terhadap pekerjaan. Namun, tanpa fondasi ketahanan (resiliensi) dan daya juang, kemudahan tersebut justru menjadi jebakan.

Masalah ketahanan ini pun berakar dari budaya pendidikan kita yang belum mandiri. Banyak program baik, seperti gerakan literasi, hanya bergerak jika ada instruksi dari atas. Misalnya, ketika kebijakan wajib membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai didengungkan, sekolah tampak bergairah. Namun, saat proses melemah, aktivitas itu meredup. Pojok baca tinggal nama, raknya masih ada, namun bukunya entah ke mana. Belum lagi soal literasi program lainnya yang sering hilang timbul. Minim upaya mempertahankan keberlanjutan.

Di dalam benang merahnya, budaya, baik itu membaca maupun berwirausaha, tidak bisa tumbuh hanya melalui perintah. Diperlukan kesadaran, keteladanan, dan konsistensi.

Kemandirian yang kita cita-citakan sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi terutama dengan cara berpikir. Mampu menciptakan lapangan kerja bukan semata soal ketersediaan uang di bank, melainkan keberanian untuk memutus kemandirian pada sistem yang kaku dan mulai percaya pada kapasitas diri sendiri.

Gelar sarjana bukanlah garis finis, tetapi garis start dengan bekal mental yang lebih terasah. Jika dunia tidak lagi menyediakan kursi untuk kita duduk dengan nyaman, maka kita harus berani membuat kursi itu sendiri atau bahkan merubuhkan dinding-dinding pembatasnya. Kalau tak mendapat panggung, ciptakan panggung itu.

Menjadi sarjana yang berdaya saing berarti berhenti memuja ijazah sebagai jimat sakti, dan mulai memperlakukannya sebagai bukti bahwa kita pernah dilatih untuk berpikir sistematis dalam menyelesaikan masalah.

Ketidakpastian masa depan tidak seharusnya menghadapi kecemasan yang melemahkan, sebaliknya dengan kelincahan untuk banting setir. Kawan saya yang menjadi tukang las meskipun memegang ijazah magister sastra adalah pahlawan bagi dirinya sendiri, karena tidak membiarkan penghargaan semu sebuah gelar membuatnya mati kelaparan. Ia membuktikan bahwa intelektualitas sejati justru diuji saat seseorang mampu tetap berdiri tegak di atas kaki sendiri, apa pun profesi yang harus ia jalani demi kelangsungan hidup.

Masa depan hanya milik mereka yang punya daya pinjaman dan daya saing tinggi. Pendidikan memang memberi kita pengetahuan, namun kehidupanlah yang menuntut kebijaksanaan dan keberanian.

Di era yang serba tidak menyebutkan ini, menjadi pintar saja tidak lagi cukup. Kita harus menjadi tangguh, kreatif, dan paling penting, berani melepaskan gengsi demi sebuah martabat hidup yang mandiri. ** Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, pendiri Sekolah Menulis elipsis.

Editor : Rianto Muradi

Leave a Response