Uncategorized

Pesantren Calon Dokter Unisba 2026 Diikuti 151 Mahasiswa, Perkuat Integrasi Ilmu Kedokteran dan Nilai Islam

90views

METRO BANDUNG, bandungpos.id – Universitas Islam Bandung (Unisba) melalui Fakultas Kedokteran (FK) bekerja sama dengan Lembaga Peningkatan Insan Mujahid, Mujtahid, dan Mujaddid (LPI3M) mengadakan Pesantren Calon Dokter Angkatan XI Tahun 2026. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, Selasa hingga Kamis (10–12 Maret 2026), di Kampus II Unisba Ciburial.

Program pembinaan tersebut diikuti oleh 151 mahasiswa Program Studi Tahap Profesi Fakultas Kedokteran Unisba, yang terdiri dari 49 peserta laki-laki dan 102 peserta perempuan. Pesantren ini menjadi bagian dari upaya pembentukan karakter bagi calon dokter muslim sebelum memasuki dunia profesi.

Dalam sambutannya, Rektor Unisba Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng. menekankan pentingnya integrasi antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keislaman dalam diri seorang dokter.

Menurutnya, para peserta merupakan calon dokter muslim yang dididik di lingkungan FK Unisba. Karena itu, mereka memiliki tanggung jawab tidak hanya dalam menguasai ilmu kedokteran, tetapi juga dalam mengamalkan nilai-nilai agama dalam praktik profesionalnya.

Rektor juga mengingatkan bahwa proses pendidikan yang telah dijalani mahasiswa merupakan bentuk ikhtiar. Sementara keberhasilan dalam menghadapi ujian kompetensi maupun perjalanan karier sebagai dokter harus diiringi dengan sikap tawakal kepada Allah SWT.

Ia berharap kegiatan pesantren ini dapat menjadi sarana refleksi diri bagi para peserta untuk meningkatkan kualitas iman dan takwa sekaligus mempersiapkan diri menjalankan profesi dokter dengan penuh amanah.

“Jadilah dokter muslim yang tidak hanya profesional, tetapi juga mampu mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan dan profesinya,” pesannya.

Mewujudkan Dokter Muslim Berakhlakul Karimah

Dekan Fakultas Kedokteran Unisba, Dr. Santun Bhekti Rahimah, dr., M.Kes., M.M., menegaskan bahwa FK Unisba memiliki visi untuk mencetak dokter yang tidak hanya kompeten secara profesional, tetapi juga memiliki karakter muslim dan berakhlakul karimah.

Ia menjelaskan bahwa pembentukan karakter memerlukan proses yang berkelanjutan dan tidak dapat dicapai secara instan. Oleh karena itu, kegiatan pesantren ini menjadi salah satu langkah penting dalam membekali mahasiswa sebelum mereka benar-benar menjalani profesi sebagai dokter.

“Selama tiga hari ini jangan dipandang sebagai beban, melainkan sebagai kesempatan sekaligus keberkahan untuk mempersiapkan diri menjadi dokter muslim yang profesional dan berakhlakul karimah,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa lulusan FK Unisba dikenal memiliki kemampuan keislaman yang baik di berbagai institusi kesehatan. Bahkan dalam kegiatan keagamaan di rumah sakit atau departemen, dokter lulusan Unisba kerap diminta memimpin doa, membaca Al-Qur’an, hingga menjadi khatib.

“Hal tersebut menjadi salah satu ciri khas lulusan FK Unisba,” ungkapnya.

Pembinaan Karakter Mujahid, Mujtahid, dan Mujaddid

Ketua LPI3M Unisba, Dr. Parihat, Dra., M.Si., dalam laporannya menyampaikan bahwa Pesantren Calon Dokter merupakan program pembinaan yang bertujuan membentuk dokter muslim dengan karakter mujahid, mujtahid, dan mujaddid. Karakter tersebut diharapkan selaras dengan akhlak mulia, etika yang baik, serta profesionalitas dalam bidang kesehatan.

Program ini juga dirancang untuk meningkatkan kemampuan praktis keislaman yang relevan dengan profesi dokter. Materi yang diberikan mencakup berbagai aspek, mulai dari keimanan, muamalah, akhlak, dakwah, hingga kemampuan membaca Al-Qur’an sesuai kaidah tajwid.

Kegiatan pesantren diselenggarakan dalam dua format pembelajaran, yaitu kelas besar dan kelas tutorial.

Pada kelas besar, peserta memperoleh materi terkait implementasi nilai-nilai Islam bagi dokter muslim, etika bermedia sosial, serta perspektif hukum Islam dan hukum positif dalam praktik kedokteran.

Sementara pada kelas tutorial, peserta mengikuti berbagai kegiatan praktik, antara lain salat berjamaah dan tarawih, pelatihan public speaking Islami, praktik salat sesuai sunnah, hafalan doa-doa yang biasa diamalkan dokter muslim, pembinaan Al-Qur’an, diskusi kasus medis dengan pendekatan maqashid syariah, praktik pemulasaraan jenazah, perhitungan zakat profesi, hingga bimbingan pernikahan.

Melalui kegiatan ini, diharapkan para peserta dapat menjadi dokter muslim yang tidak hanya kompeten secara medis, tetapi juga memiliki integritas moral dan spiritual dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. (ask)***

Leave a Response