LPPM Unisba Dorong Ketahanan Pesantren Hadapi Krisis Iklim melalui Pengelolaan Kompos Berkelanjutan di ABS Bandung

METRO BANDUNG, bandungpos.id – Peran pesantren dalam menghadapi tantangan perubahan iklim terus diperkuat melalui berbagai program pemberdayaan berbasis lingkungan. Salah satunya dilakukan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Islam Bandung (Unisba) yang menggelar Program Kemitraan Masyarakat (PKM) di Aisyiyah Boarding School (ABS) Bandung, Kabupaten Bandung.
Program yang mengusung tema Penguatan Ketahanan Pesantren Aisyiyah Boarding School Bandung melalui Pengelolaan Sampah Organik Berbasis Kompos Berkelanjutan dengan Pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) ini menjadi langkah nyata dalam membangun budaya ramah lingkungan di lingkungan pesantren.
Kegiatan tersebut melibatkan tim dosen lintas keilmuan dari Fakultas Ilmu Komunikasi dan Fakultas Syariah Unisba, yaitu Mohamad Subur Drajat, Dede Lilis Chaerowati, Tia Muthiah Umar, Sandy Rizki Febriadi, serta dua mahasiswa pendamping, Muthia Syahidah dan Fadhilah Razanah Syazwina.
Program ini selaras dengan visi pendidikan yang diterapkan ABS Bandung yang mengedepankan tiga prinsip utama, yakni ramah pengasuhan, ramah minat dan bakat, serta ramah lingkungan. Karena itu, penguatan ketahanan pesantren tidak hanya berorientasi pada pengelolaan lingkungan secara fisik, tetapi juga diarahkan pada pembentukan karakter santri yang peduli terhadap keberlanjutan lingkungan.
Pengelolaan sampah organik melalui sistem kompos berkelanjutan dijadikan sebagai media pembelajaran yang mampu mengintegrasikan aspek edukasi, keterampilan, dan pembentukan karakter. Melalui kegiatan ini, santri didorong untuk lebih peduli terhadap lingkungan, mengembangkan kreativitas, serta meningkatkan keterampilan praktis dalam suasana pembelajaran yang partisipatif dan edukatif.
ABS Bandung sendiri merupakan salah satu pilot project Eco Green Pesantren yang dikembangkan oleh Pengurus Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Barat. Kehadiran program ini semakin memperkuat posisi pesantren sebagai model pendidikan berbasis keberlanjutan yang relevan dengan tantangan zaman.
Pendekatan ABCD Libatkan Santri dan Ustaz sebagai Agen Perubahan
Pelaksanaan PKM menggunakan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) yang menitikberatkan pada pemanfaatan dan penguatan potensi yang telah dimiliki komunitas pesantren. Dalam pendekatan ini, ustaz, ustazah, dan santri menjadi pelaku utama dalam proses perubahan dan pengembangan program.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Pembentukan Pengelola Kompos Berkelanjutan ABS Bandung yang melibatkan pimpinan pesantren serta pengelola program Eco Green. Forum tersebut menjadi langkah awal dalam menyusun sistem pengelolaan kompos yang terencana dan berkelanjutan.
Setelah itu, sebanyak 30 santri yang tergabung dalam Tim Eco Rangers ABS Bandung mengikuti pelatihan khusus yang bertujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan teknis, serta kemampuan komunikasi mereka dalam mengampanyekan isu-isu lingkungan.
Mengintegrasikan Nilai Islam dan Kesadaran Lingkungan
Materi pelatihan dirancang secara komprehensif dengan memadukan nilai-nilai keislaman, keterampilan praktis, dan komunikasi lingkungan.
Pada sesi mengenai nilai Islam dalam pengelolaan lingkungan, peserta diajak memahami bahwa menjaga kelestarian alam merupakan bagian dari amanah sebagai khalifah di muka bumi. Pengelolaan sampah dan praktik pembuatan kompos diposisikan sebagai bentuk tanggung jawab sekaligus implementasi akhlak Islami dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, para santri juga mendapatkan materi tentang komunikasi lingkungan dan kampanye hijau. Mereka dilatih untuk menyampaikan pesan-pesan pelestarian lingkungan secara efektif melalui berbagai media, termasuk platform digital yang dekat dengan generasi muda.
Cetak Santri Kreatif melalui Program Eco Content Creator
Salah satu materi yang mendapat perhatian peserta adalah pelatihan Eco Content Creator. Dalam sesi ini, para santri didorong untuk menjadi kreator konten digital yang mampu menyebarluaskan pesan-pesan lingkungan secara kreatif dan inspiratif.
Pelatihan mencakup proses penyusunan ide kampanye, produksi video, hingga teknik penyuntingan konten. Hasil karya para santri nantinya akan dipublikasikan melalui media sosial resmi ABS Bandung sebagai bagian dari kampanye hijau pesantren.
Program ini tidak hanya menjadi sarana edukasi lingkungan, tetapi juga membuka ruang bagi santri untuk mengembangkan bakat di bidang teknologi dan kreativitas digital.
Ketua Tim PKM Unisba, Mohamad Subur Drajat, menegaskan bahwa program tersebut merupakan bentuk integrasi antara pendidikan, nilai-nilai Islam, dan aksi nyata pelestarian lingkungan berbasis komunitas.
Menurutnya, pengelolaan kompos berkelanjutan dapat menjadi pintu masuk dalam membangun kesadaran ekologis yang kuat di kalangan santri. Kesadaran tersebut kemudian diperkuat melalui kemampuan komunikasi yang relevan dengan perkembangan era digital.
Menuju Green Pesantren yang Berkelanjutan
Kepala Pesantren ABS Bandung, Dede Kurniawan, menyampaikan bahwa program yang dijalankan LPPM Unisba sangat sejalan dengan arah pengembangan pesantren yang selama ini diterapkan.
Menurutnya, kegiatan tersebut memperkuat implementasi tiga prinsip pendidikan ABS Bandung, yaitu ramah pengasuhan, ramah minat dan bakat, serta ramah lingkungan. Para santri tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga pengalaman langsung yang mampu membentuk karakter peduli lingkungan.
Sebagai bagian dari program Eco Green Pesantren, ABS Bandung berkomitmen menjadikan pengelolaan sampah berbasis kompos sebagai budaya yang tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan di lingkungan pesantren.
Melalui program ini diharapkan lahir unit pengelola kompos yang terstruktur, meningkatnya kapasitas ustaz dan santri dalam pengelolaan lingkungan, serta tumbuhnya kesadaran ekologis yang lebih kuat di lingkungan pesantren.
Lebih jauh, ABS Bandung diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi pesantren lain dalam mengintegrasikan pendidikan, nilai keislaman, dan praktik keberlanjutan lingkungan. Dengan memadukan pendekatan ilmiah, nilai spiritual, dan kreativitas generasi muda, pesantren dapat menjadi garda terdepan dalam menghadapi krisis iklim sekaligus mengembangkan gerakan hijau di tengah masyarakat.(ask)***



