Keluarga

Bachtiar Adnan Kusuma, Meluruskan Arah Gerakan Literasi di Forum GLN

20views

Oleh: Muhammad Nur Rasul (Founder Zigid Indonesia)

Tokoh Literasi Nasional Bachtiar Adnan Kusuma (BAK) pagi ini, tampil menjadi pembicara pamungkas di Forum Diklat Talenta Ke-4 yang digelar Gerakan Literasi Nasional Geraulis dengan Tema” Wujudkan Generasi Cerdas Melalui Penguatan Literasi Masyarakat”, Sabtu, Tgl 6 Juni 2026. Bachtiar Adnan Kusuma, menjadi pembicara kedua dengan Judul “ Meluruskan Arah Gerakan Literasi Indonesia, Peran Aktivis Literasi di Tengah Darurat Akses Bacaan Bermutu” diikuti 401 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Sebelumnya, Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nurhadisaputra, menyampaikan materinya dengan mengurai lengkap Peran Perpustakaan Nasional Dalam Penguatan Budaya Baca di Indonesia.

Sebagai salah satu peserta Forum Talenta Gerakan Literasi Nasional Geraulis, penulis menyampaikan penghargaan tinggi kepada Bachtiar Adnan Kusuma karena tidak sekadar menyampaikan ide dan gagasan tentang literasi. Lebih dari itu, apa yang disampaikan beliau merupakan sebuah seruan moral untuk menghidupkan kembali semangat gerakan literasi Indonesia yang lebih nyata, membumi, dan berdampak.

Melalui pengalaman panjangnya sebagai aktivis literasi selama lebih dari tiga dekade, BAK mengingatkan bahwa tantangan terbesar bangsa ini bukan hanya rendahnya minat membaca, tetapi juga masih terbatasnya akses masyarakat terhadap bahan bacaan yang berkualitas. Oleh karena itu, sudah saatnya gerakan literasi tidak berhenti pada diskusi, seminar, atau slogan semata, melainkan bergerak menuju aksi nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Salah satu pesan penting yang sangat menggugah adalah perlunya mengubah cara pandang terhadap literasi. Literasi tidak boleh diposisikan sebagai aktivitas eksklusif yang hanya dinikmati kalangan tertentu. Literasi harus hadir sebagai kebutuhan hidup, menjadi bagian dari keseharian masyarakat, serta mampu menjangkau seluruh lapisan tanpa sekat sosial maupun ekonomi.

BAK juga mengingatkan bahwa kekuatan literasi tidak hanya terletak pada budaya membaca, tetapi juga pada keberanian menulis. Membaca dan menulis adalah dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Sebuah bangsa akan maju apabila masyarakatnya tidak hanya gemar menyerap pengetahuan, namun juga mampu menghasilkan gagasan dan karya yang bermanfaat bagi generasi berikutnya.

Oleh karena itu, berbagai gerakan yang beliau gagas seperti Gerakan Guru dan Pustakawan Menulis Satu Buku Indonesia, Gerakan Satu Masjid Satu Buku, Gerakan Santri Menulis Indonesia, hingga dorongan agar birokrat dan politisi juga ikut membaca serta menulis buku, merupakan langkah konkret yang layak mendapat dukungan bersama. “Perlu membaca pola pikir tentang literasi bahwa literasi tidak penting dan hanya tugas pemerintah, saat berpikir pola pikir bertumbuh (growth mindset). Jangan hanya mendorong masyarakat membaca, tapi tidak mendorong gerakan menulis. Keduanya harus sejurus” kata BAK.

Yang paling menginspirasi dari seluruh gagasan beliau adalah semangat pengabdian yang terus menyala. Prinsipnya “Tidak Digaji, Tetap Bergerak” menunjukkan bahwa perjuangan literasi lahir dari idealisme, ketulusan, dan keyakinan bahwa perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.

Akademi Literasi Nasional yang digagas Perpustakaan Nasional RI melalui Peraturan Perpustakaan Nasional Nomor 04 Tahun 2022 tentang Akademi Literasi wajib didorong terus menerus agar menjadi raung kolaborasi sesama aktivis literasi Indonesia yang jumlahnya sekitar 15.000 orang, selain sebagai ajang memperjuangkan nasib para aktivis literasi. Selain itu, BAK juga menggerakkan Gerakan Nasional Satu Masjid Satu Perpustakaan atas kerjsama Pengurus Pusat IKA BKPRMI dan Perpustakaan Nasional yang telah diluncurkan pada Tgl 14 Mei 2022 di Auditorium Perpustakaan Nasional Jalan Merdeka Selatan yang terus didorong oleh BAK, Gerakan Guru d, Pustakawan Menulis Satu Buku Indonesia.

Forum Gerakan Literasi Nasional dan Diklat Talenta Literasi Nasional ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan dan aktivis literasi Indonesia. Kepala Hadir Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nurhadisaputra, Ketua Dewan Pembina Gerakan Literasi Nasional Gareulis Syahril, SE, MIPol., Ketua Umum GLN Hj. Yulia Yulianti, M.Pd.

Sebagai sosok yang telah lama mengabdikan diri di panggung literasi nasional, BAK juga dikenal sebagai Ketua Forum Penerima Penghargaan Tertinggi Nugra Jasa Dharma Pustaloka Perpustakaan Nasional RI, penghargaan yang diberikan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia kepada individu yang memiliki kontribusi luar biasa dalam pengembangan perpustakaan dan literasi di Indonesia.

Pada akhirnya, ungkapan “Literasi adalah sebuah pilihan hidup, tidak mudah memang” menjadi penegasan bahwa perjuangan literasi bukan pekerjaan pada saat itu. Ia adalah jalan panjang yang membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan keberanian untuk terus bergerak meski tantangan menghadang.

Apa yang disampaikan BAK hari ini sejatinya bukan sekedar sebuah materi diskusi, melainkan sebuah ajakan untuk bersama-sama mengambil peran. Sebab masa depan bangsa yang cerdas tidak lahir dari banyaknya wacana, melainkan dari keberanian mengubah setiap diksi menjadi aksi nyata.

Ketua Umum Gerakan Literasi Nasional Gareulis R.Hj. Yulia Yulianti, M.Pd., menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi atas kehadiran Bachtiar Adnan Kusuma memberikan wawasan dan inspirasi yang sangat berharga bagi peserta Diklat Talenta Gerakan Literasi Nasional.” Sangat menggugah dan aplikatif” kunci Hj.Yulia.*** Penulis penggiat Founder Zigid Indonesia

Editor: Rianto Muradi

Leave a Response