PendidikanPendidikan

Suara Anak-Anak di Usia 98 Tahun SMPN 1 Padang Panjang

Lomba itu dihelat SMP Negeri 1 Padang Panjang, Selasa, 27 Januari 2026, bertempat di sebuah ruang kelas di lantai dua Gedung B

221views

HARI itu saya melihat anak-anak usia sekolah dasar yang begitu lincah bercerita. Yang mereka tuturkan adalah kisah keseharian sekaligus dongeng tentang Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH), sebuah program pembentukan karakter dari Kemendikbudristek RI.

Ada sekitar dua puluh anak yang tampil. Lomba itu dihelat SMP Negeri 1 Padang Panjang, Selasa, 27 Januari 2026, bertempat di sebuah ruang kelas di lantai dua Gedung B sekolah tersebut. Saya diundang sebagai juri bersama Dr. Sulaiman Juned, S.Sn., M.Sn.

Momen itu menjadi bagian dari rangkaian kegiatan menyemarakkan milad ke-98 SMP Negeri 1 Padang Panjang. Hampir satu abad usia sekolah ini. Sebuah usia yang panjang, yang menandai perjalanan sejarah pendidikan sejak zaman kolonial Belanda. Telah banyak alumninya yang tumbuh menjadi orang-orang sukses, berkiprah di berbagai bidang kehidupan.

Saya merasa bahagia menyaksikan anak-anak hebat Padang Panjang yang memiliki kemampuan bercerita dengan baik. Tentu, sebelum lomba, mereka telah melalui proses latihan. Ada yang dilatih oleh guru di sekolah, oleh orang tua di rumah, atau oleh seniman pendamping yang memang mumpuni di bidangnya.

Topik yang mereka ceritakan pun menarik dan relevan, yaitu menanamkan kebiasaan bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta tidur cepat dalam kehidupan sehari-hari anak. Melalui pembiasaan ini, anak dilatih hidup disiplin, sehat, religius, dan peduli sosial dengan dukungan keluarga serta sekolah.

Setiap kebiasaan itu saling melengkapi dalam membentuk keseimbangan fisik, mental, intelektual, dan spiritual. Jika benar-benar dibiasakan dan didampingi secara konsisten oleh orang tua dan guru, kelak akan tumbuh generasi yang cerdas, berkarakter, berdaya saing, dan siap menghadapi tantangan zaman menuju Generasi Emas Indonesia 2045.

Entah seperti apa persisnya tantangan zaman di tahun 2045 itu. Jika dihitung dari tahun 2026, masih sekitar 19 tahun lagi. Setidaknya akan lahir satu generasi baru. Di masa itu, anak-anak yang kini masih duduk di bangku sekolah dasar akan berusia setara mahasiswa semester awal atau bahkan telah menamatkan pendidikan sarjana. Anak-anak yang tampil lomba bercerita hari itu barangkali sudah bekerja, membangun keluarga, atau berkiprah di ruang-ruang publik.

Yang pasti, memasuki tahun 2045, tantangan yang dihadapi generasi muda Indonesia akan semakin kompleks dan dinamis. Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan menuntut kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan adaptif agar tidak tertinggal oleh perubahan zaman. Generasi tua yang enggan berubah dan tidak pandai mengikuti arus perkembangan, bisa saja tertinggal atau bahkan ditinggalkan.

Bukan itu saja. Persaingan global kian ketat, sementara masalah ketimpangan sosial, krisis lingkungan, dan perubahan iklim membutuhkan kepedulian serta tanggung jawab bersama. Arus informasi yang begitu cepat juga berpotensi mengikis nilai karakter apabila tidak disikapi dengan kebijaksanaan dan kecerdasan.

Karena itu, generasi 2045 dituntut tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat sikap, berintegritas, beriman, berdaya saing, serta mampu menjadi solusi bagi bangsa dan dunia.

Yang dimaksud mampu menjadi solusi bagi bangsa dan dunia adalah generasi yang tidak berhenti pada keberhasilan pribadi semata, tetapi menghadirkan manfaat nyata bagi lingkungan sekitarnya dan kemanusiaan secara luas. Mereka peka membaca persoalan bangsa yang terjadi di sekitar, seperti kemiskinan, ketimpangan pendidikan, kerusakan lingkungan, dan problem sosial lainnya, lalu menawarkan jalan keluar melalui ilmu pengetahuan, teknologi, kebijakan, serta karya nyata.

Di tingkat global, mereka mampu berkontribusi pada isu-isu bersama seperti perubahan iklim, perdamaian dunia, kesehatan, dan keadilan, dengan tetap berpijak pada nilai kemanusiaan dan kearifan lokal Indonesia. Mereka tidak tercerabut dari akar budaya, tetapi justru menjaga dan menguatkannya agar tidak terlindas oleh arus budaya asing.

Singkatnya, generasi ini hadir bukan sekadar sebagai pengguna zaman, melainkan sebagai penentu arah zaman.

Jika dikaitkan dengan kecakapan literasi membaca, menulis, dan bercerita, dampaknya bagi anak sangat mendasar dan jangka panjang. Membaca melatih anak memahami dunia, menafsirkan informasi secara kritis, serta membedakan fakta dan opini. Menulis membantu anak merapikan pikiran, mengekspresikan gagasan, dan melahirkan solusi atas persoalan yang ia pahami. Sementara bercerita menumbuhkan keberanian, empati, serta kemampuan menyampaikan ide secara persuasif.

Ketiga kecakapan ini membentuk anak menjadi pembelajar sepanjang hayat yang mampu berpikir jernih, berkomunikasi efektif, dan berperan aktif dalam menyelesaikan persoalan sosial, baik di lingkup lokal maupun global.

Saya teringat masa kecil saya sendiri. Dulu, ketika duduk di bangku sekolah dasar dan SMP, saya termasuk anak yang minder dan kurang percaya diri. Kedua orang tua saya berekonomi lemah, dan kondisi itu cukup memengaruhi psikologis serta mental saya. Syukurlah, meski hidup serba berkekurangan, saya memiliki guru-guru yang hebat. Merekalah yang membimbing saya agar berani “maju ke tengah”: berbicara, berpidato, bercerita, dan menulis. Dari tangan-tangan guru itulah, jalan hidup saya sebagai penulis bermula hingga hari ini.

Peran guru memang sangat penting dalam membangun mental dan karakter anak, tentu di samping peran utama orang tua. Tanpa guru-guru yang sabar, peka, dan percaya pada potensi muridnya, banyak anak mungkin akan kehilangan kepercayaan diri sejak dini. Karena itu, anak-anak perlu dikuatkan dengan literasi sejak dini, termasuk kemampuan bercerita sebagai fondasi keberanian, daya pikir, dan karakter.

Di SMP Negeri 1 Padang Panjang, saya melihat harapan itu tumbuh: anak-anak yang berani berbicara, menyusun cerita, dan menyampaikan nilai-nilai kebaikan dengan wajah penuh percaya diri. Semoga dari ruang-ruang seperti itulah kelak lahir generasi yang benar-benar siap menyongsong Indonesia Emas 2045.

Selamat milad ke-98 SMP Negeri 1 Padang Panjang. Teruslah menjadi ladang subur bagi tumbuhnya karakter, literasi, dan harapan masa depan Indonesia. ** Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.

Leave a Response