Bandung Raya

Sidang Terbuka Dr. Tia Muthiah Umar: Merumuskan Moderasi Beragama Lewat Televisi Muhammadiyah

Program Doktor Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung untuk pertama kalinya menyelenggarakan Sidang Terbuka Promosi Doktor Promovendus Tia Muthiah Umar. Sidang yang dipimpin langsung oleh Rektor Universitas Islam Bandung Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng, dilaksanakan di Auditorium Gedung Dekanat Lantai 8 Unisba Jalan Tamansari Nomor 24-26 Bandung.(foto: komhumas unisba)
283views

METRO BANDUNG, bandungpos.id – Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (Unisba) untuk pertama kalinya menggelar Sidang Terbuka Promosi Doktor. Momentum bersejarah ini menghadirkan Promovendus Tia Muthiah Umar yang sukses mempertahankan disertasinya di hadapan para penguji. Sidang dipimpin langsung oleh Rektor Unisba, Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., dan berlangsung di Auditorium Gedung Dekanat lantai 8, Jalan Tamansari 24–26, Bandung. Peristiwa ini tidak hanya penting bagi perjalanan akademik Tia, tetapi juga menjadi kontribusi besar bagi pengembangan ilmu komunikasi, terutama di ranah media dan agama di Indonesia.

Disertasi Tia mengangkat tema “Wacana Keagamaan di Televisi Muhammadiyah: Kajian Wacana Kritis Tindakan Komunikatif dalam Konteks Moderasi Beragama.” Fokus penelitiannya menelaah bagaimana TV Muhammadiyah (TVMu) melalui program Dialektika membentuk narasi keagamaan yang moderat, terbuka, dan berpihak pada kepentingan publik.

Dengan memakai kerangka Analisis Wacana Kritis Teun A. van Dijk serta Teori Tindakan Komunikatif Jürgen Habermas, Tia menemukan bahwa TVMu konsisten menghadirkan diskursus keagamaan yang menyeimbangkan ajaran Islam dengan realitas kebangsaan. Temuan ini dinilai mampu merespons tantangan serius seperti polarisasi sosial-politik dan isu sensitif seputar agama di ruang publik.

Temuan Penting: Wasathiyyah Journalism dan Wasathiyyah Media Economics

Dalam sidang terbuka, Tia berhasil memaparkan dua model konseptual dari penelitiannya. Pertama, Wasathiyyah Journalism – Ethical and Balanced Journalism, yang ditandai dengan tiga indikator utama: etika jurnalistik, keseimbangan pemberitaan, dan validitas wacana. Kedua, Wasathiyyah Media Economics – Ethical Media Economics, dengan empat indikator: etika bisnis media, keseimbangan antara misi sosial dan keberlanjutan ekonomi, prinsip keadilan dalam praktik media, serta posisi media sebagai institusi publik yang bertanggung jawab.

Kedua model ini mempertegas bahwa media Islam, khususnya TVMu, dapat menjadi arena diskursus publik yang sehat, memupuk saling pengertian, sekaligus menghidupkan prinsip Islam Wasathiyyah yang sejalan dengan semangat kebangsaan Indonesia.

Promotor utama, Prof. Dr. Atie Rachmiatie, Dra., M.Si., menilai disertasi tersebut bukan sekadar menambah khazanah akademik, melainkan juga memberi arah praktis bagi pembangunan media Islam yang etis dan berintegritas. Ia didampingi dua promotor lain, Prof. Dr. Karim Suryadi, M.S. (Guru Besar UPI Bandung) dan Dr. Kiki Zakiah, Dra., M.Si., yang menekankan bahwa penelitian ini sejalan dengan upaya nasional dalam mengarusutamakan toleransi, dialog, dan persatuan bangsa.

Pakar komunikasi Prof. Alex Sobur pun memberikan apresiasi. Menurutnya, disertasi Tia sangat kuat dalam menampilkan narasi jurnalisme, keislaman, dan keindonesiaan yang berpadu secara harmonis.

Tia Muthiah Umar sendiri dikenal sebagai akademisi sekaligus aktivis komunikasi publik, pernah menjabat Ketua Aisyiyah Jawa Barat. Ia memiliki perhatian besar terhadap isu-isu media, keagamaan, dan kebangsaan. Melalui penelitian doktoralnya, Tia menegaskan pentingnya media Islam tampil dengan wajah rasional, inklusif, serta mampu menjadi jembatan bagi keragaman masyarakat Indonesia.

Sidang terbuka ini sekaligus menjadi bukti komitmen Unisba dalam melahirkan doktor komunikasi yang adaptif terhadap tantangan zaman. Harapannya, hasil riset Tia bukan hanya memperkaya literatur akademik, tetapi juga menjadi panduan nyata bagi pengelola media, regulator, dan masyarakat luas dalam membangun ruang komunikasi publik yang sehat, kritis, dan mencerahkan.(sani/bnn)

Leave a Response