
Oleh: Kin Sanubary
DI awal tahun 1970-an, bioskop Indonesia dipenuhi film laga silat yang memikat penonton. Dari sekian banyak judul, Si Bongkok (1972) hadir dengan kisah yang tak biasa, bercerita tentang seorang pendekar cacat yang menjadikan derita masa lalu sebagai kekuatan untuk menuntut keadilan.
Pada penghujung tahun 1972, layar perak Indonesia kedatangan sebuah film laga silat yang hingga kini masih membekas dalam ingatan penonton era itu: Si Bongkok. Disutradarai oleh Lilik Sudjio, seorang sutradara produktif yang dikenal piawai menggarap film laga Si Bongkok menampilkan kisah klasik tentang dendam, cinta, dan perjuangan seorang pendekar cacat yang bangkit menuntut keadilan.
Dari Dendam Menjadi Legenda
Cerita bermula dari Rambe (Ratno Timoer) dan istrinya, Widuri (Farah Gladys), yang memilih mengasingkan diri di sebuah desa. Ketenangan itu hancur ketika muncul Bokor (Dicky Zulkarnaen), teman seperguruan Rambe yang menyimpan dendam karena kalah bersaing mendapatkan cinta Widuri.
Bokor membunuh Rambe, menculik Widuri, dan dengan kejam mencampakkan putra mereka, Gusti (Sophan Sophiaan), ke jurang. Selamat dari maut, Gusti tumbuh cacat punggung hingga mendapat julukan “Si Bongkok.” Namun takdir membawanya menjadi pendekar tangguh setelah ditempa oleh guru silat.
Dengan dendam membara, Gusti turun gunung mencari pembunuh ayahnya. Dalam perjalanannya, ia bertemu Nilam (Widyawati), seorang pendekar perempuan yang tengah mencari kitab pusaka perguruannya. Pertemuan mereka menyalakan ikatan batin sekaligus membawa keduanya ke pertarungan terakhir melawan Bokor, sebuah klimaks yang mempertemukan dendam masa lalu, cinta, dan keberanian.
Parade Bintang Layar Perak
Si Bongkok menjadi salah satu film penting yang mempertemukan pasangan layar lebar dan pasangan hidup nyata yakni Sophan Sophiaan dan Widyawati. Chemistry keduanya memberi nyawa pada film ini, ditopang oleh jajaran aktor papan atas era 1970-an seperti Dicky Zulkarnaen, Ratno Timoer, Sukarno M. Noor, Paula Rumokoy, hingga Ami Prijono.
Film ini juga menampilkan cameo dari tokoh penting perfilman Indonesia, Sjuman Djaja, yang lebih dikenal sebagai sutradara ternama.
Film produksi Gope T. Samtani ini menampilkan keahlian teknis dari beberapa nama besar di balik layar. Sjamsuddin Jusuf bertindak sebagai sinematografer, sementara Cassim Abbas menggarap penyuntingan. Dengan kekuatan produksi tersebut, Si Bongkok resmi dirilis pada 24 Desember 1972, menjadi salah satu sajian akhir tahun yang menyedot perhatian penonton bioskop kala itu.
Sebagai film silat, Si Bongkok menghadirkan bukan hanya aksi laga, tetapi juga drama keluarga, konflik batin, dan kisah cinta. Tema pendekar cacat yang bangkit melawan ketidakadilan juga memberi warna berbeda dalam tradisi film silat Indonesia yang kala itu sedang populer.
Hingga kini, Si Bongkok dikenang sebagai salah satu karya era keemasan film laga Indonesia, sekaligus tonggak yang memperkokoh reputasi Lilik Sudjio dalam sejarah perfilman nasional.
Lebih dari sekadar tontonan laga, Si Bongkok adalah refleksi tentang keberanian, kesetiaan, dan cinta yang tak padam meski diterpa dendam. Dengan jejak kuat yang ditinggalkannya, film ini tidak hanya menjadi pengingat masa keemasan layar perak Indonesia, tetapi juga bukti bahwa legenda bisa lahir dari luka dan keberanian untuk melawannya.*
* Kin Sanubary, kolektor, pendiri dan pengelola Rumah Media Lawas, penerima Penghargaan PWI Jawa Barat 2023 bidang pelestari media massa nasional, bermukim di Tanjungwangi Kabupaten Subang, Jawa Barat.





