Kolom Sosial Politik

Beras Oplosan: Khianat Kartel Pangan!

272views

 

Oleh Budi Setiawan

Celakalah orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (Surat Al-Muthaffifin: 1–3)

SUDAH sebulan ini saya membeli beras “premium” dari minimarket dekat rumah. Kemasan rapi, merek terkenal, harganya pun premium. Tapi kenyataannya? Saya tertipu.

Aroma dan kualitas beras itu tidak sebanding dengan label dan harganya. Semula saya mengira hanya kurang beruntung. Namun dugaan saya terbukti ketika membaca berita yang membongkar dugaan praktik pengoplosan beras oleh lebih 200 merek ternama di pasaran (Fortune Indonesia, 16/07/25)

Ini bukan sekadar soal kualitas pangan. Ini adalah pengkhianatan sistematis terhadap konsumen dan etika niaga. Yang lebih mengejutkan, para pelaku bukan pemain eceran kelas teri, melainkan perusahaan besar yang selama ini begitu giat membangun pencitraan merek. Dalam kasus ini, yang lebih kuat dari hukum ternyata adalah branding—dan lebih dominan dari etika adalah orientasi laba.

Praktik pengoplosan ini tampaknya bukan sekadar kelalaian, tapi merupakan bagian dari strategi bisnis jangka panjang yang terstruktur: memanipulasi kemasan, menyesatkan konsumen, dan menyerap keuntungan dari kebohongan. Ini bukan lagi persaingan usaha, tapi rekayasa pasar ala kartel pangan yang tak tersentuh hukum.

Pemerintah, melalui Satgas Pangan atau Kemendag sekalipun, tampak tak berdaya. Sanksi? Ringan. Penindakan? Tumpul. Lobi dan celah regulasi tampaknya lebih mudah dimainkan daripada menjamin keadilan dagang bagi rakyat. Bukankah seharusnya negara hadir melindungi konsumen dari praktik tadlis (penyamaran kualitas) dan ghisy (penipuan dagang) sebagaimana diharamkan dalam Islam?

Kecurangan dalam timbangan dan kualitas bukan perkara sepele. Ini soal moral yang hilang dari nadi perdagangan modern. Jika makanan pokok rakyat saja sudah dipermainkan, apa lagi yang tersisa dari urat nadi kepercayaan publik terhadap pasar?

Ini semestinya menjadi alarm keras. Pasar pangan telah berubah menjadi ladang manipulasi, dan para pelaku ekonomi besar mulai tak segan menempuh jalan khianat demi margin keuntungan. Di tengah tekanan ekonomi, rakyat bukan cuma dibebani harga mahal, tapi juga ditipu secara terang-terangan.

Kartel pangan dan para pemangku kepentingan yang membiarkan ini semua, sejatinya sedang menanam benih ketidakadilan struktural dalam perut rakyat. Kita tidak hanya butuh pengawasan, tapi juga pertobatan moral dalam praktik bisnis. *
   * Budi Setiawan, pemerhati sosial politik, mantan jurnalis senior, alumnus FISIP Unpad Bandung

Leave a Response