Kolom Sosial Politik

HOREE, NAIK KELAS!

283views

Oleh: Ridhazia

KEDUA  cucu saya, juga anak anak yang lain berbagi kebahagiaan karena sudah naik kelas.

Episode peralihan yang selalu indah untuk dikenang akan dimulai hari Senin (15/6/2025) ini.

Naik kelas menjadi hari pertama ke sekolah setelah libur cukup lama. Selain harus berpindah ruangan belajar. Juga berseragam baru. Tas baru, sepatu baru. Juga buku-buku pun baru. Mungkin saja wali kelas baru.

Hasil Evaluasi

Kenaikan kelas “tempo doeloe” mungkin berbeda. Tapi keduanya lazim berdasarkan hasil evaluasi dan data yang objektif dari proses pembelajaran.

Diukur berdasarkan pencapaian kompetensi siswa. Selain kriteria nilai minimal pada mata pelajaran, kehadiran, dan perilaku siswa.

Tidak Bodoh

Pembelajaran di Indoensia sudah memasuki babak baru pendidikan moderen. Terutama di sekolah perkotaan dengan asumsi tidak ada siswa yang secara intrinsik bodoh.

Artinya semua anak sekolah di dianggap memiliki kemampuan untuk belajar dan berkembang. Tanpa dibedakan latar belakang.

Agar tetap obyektif, kesetaraan kecerdasan di sekolah diukur dengan memberlakukan tes kecerdasannya dengan kriteria khusus.

Semisal, jika hasil test IQ 75-90 (misalnya mentok di angka 82) maka anak tersebut digolongkan “anak lambat”(slow learner). Anak slow learner masih bisa mengikuti sekolah biasa.

Namun, bila hasil tst IQ 50-75 (misalnya 63) maka anak tersebut disebut anak dungu (mentally retarded) yang harus masuk sekolah khusus.

Profesionalitas Guru

Apalagi kriteria pembelajaran di Indonesia sekarang bukan sebatas kecerdasan anak..Tapi
juga ditentukan oleh kecerdasan guru. Yaitu profesionalitas guru.

Guru memiliki peran krusial dalam memastikan bahwa setiap siswa mendapatkan kesempatan untuk belajar secara efektif.

Guru sekarang dituntut memilihkan metode pengajaran yang berbeda untuk setiap anak berbeda usia yang memungkinkan mengakomodasi gaya belajar yang berbeda-beda.

Berbeda zaman dulu sebatas bagaimana guru menyelesaikan semua mata pelajaran. Alias, asal tamat sekolah.*

* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response