Kolom Sosial Politik

Zionisme: Menuju Fase Keruntuhan?

396views

 

Oleh: Budi Setiawan

KONFLIk militer antara Iran-Israel bukan sekadar soal rudal dan drone. Tapi juga suatu sinyal runtuhnya satu narasi ideologis yang selama ini tampak kokoh: Zionisme. Proyek ini, sejak awal abad ke-20, dibungkus dengan mitos suci, perlindungan kekuatan imperialis, dan kekuatan senjata. Namun, peristiwa terbaru menunjukkan bahwa daya tahan itu mulai lapuk, dari luar maupun dari dalam.

Serangan presisi Iran yang menembus sistem pertahanan Israel menunjukkan bahwa keunggulan militer bukan lagi milik eksklusif Negeri Bintang Daud. Ketika respons militer Israel terbukti lemah, yang dilakukan justru meminta Amerika Serikat turun tangan. Tapi respon AS telah berubah. Survei Reuters/Ipsos (2025) menunjukkan mayoritas rakyat AS kini menolak intervensi langsung dalam konflik Iran–Israel, mencerminkan bergesernya opini publik terhadap Israel.

Gejala ini telah lama dibaca Ilan Pappé, sejarawan Israel yang dikenal tajam mengkritik proyek Zionisme. Dalam artikelnya “The Brutal End of Zionism” (Sidecar, New Left Review, Oktober 2023), Pappé menegaskan bahwa apa yang kita saksikan sekarang bukanlah keberhasilan sebuah gerakan nasional, melainkan keruntuhan sebuah proyek kolonialisme pemukim yang dibangun atas penghapusan dan penyingkiran. Ia menulis bahwa “Zionisme sedang mendekati akhirnya—bukan karena telah mencapai tujuannya, tetapi karena cara-cara brutal yang digunakannya telah kehilangan legitimasi di mata dunia.”

Menurut Pappé, Zionisme bukanlah gerakan pembebasan, tetapi bentuk kolonialisme yang menjadikan pengusiran rakyat Palestina sebagai fondasi utamanya. Kini, proyek itu bukan hanya ditolak oleh dunia internasional, tetapi juga mulai retak dari dalam—di tengah perpecahan masyarakat Yahudi-Israel, tekanan sosial-ekonomi yang meningkat, dan krisis moral yang ditunjukkan oleh generasi muda diaspora Yahudi yang semakin vokal.

Menariknya, apa yang dibaca secara historis oleh Pappé ternyata beririsan dengan pandangan spiritual Syeikh Ahmad Yassin, pendiri Hamas, yang dalam wawancara dengan Al Jazeera pada 1999 menyatakan bahwa Israel akan runtuh pada 2027. Prediksi itu ia dasarkan pada pola 40 tahunan dari kisah Bani Israil yang disesatkan selama empat dekade akibat pembangkangan terhadap wahyu Tuhan. Bila dihitung sejak berdirinya Israel tahun 1948, maka tahun 2027 memang menjadi batas generasi ketiga—masa ketika suatu sistem kepercayaan yang rapuh mulai kolaps dari dalam.

Kini, narasi Zionisme kehilangan daya sihirnya. Dunia tak lagi melihat Israel sebagai korban, melainkan sebagai penindas. Di kampus-kampus AS, gerakan mahasiswa dan pemuda Yahudi progresif mulai menyebut Israel sebagai negara apartheid. Dukungan membabi buta dari Barat mulai digugat oleh opini publik yang lebih sadar dan kritis.

Zionisme memang belum tumbang secara militer. Tapi ia tengah kehilangan legitimasi moral dan ruh ideologisnya. Ketika sebuah entitas tak lagi dipercaya oleh pendukungnya sendiri, keruntuhan tinggal menunggu giliran. Seperti disimpulkan Pappé, Zionisme bukan sedang mencapai puncak keberhasilan, tetapi tengah menuju akhir yang brutal dan tak terhindarkan.

Akankah kita menyaksikan proses itu? Semoga…*

* Budi Setiawan, pemerhati sosial politik, alumnus FISIP Universitas Padjadjaran Bandung, salah satu inisiator Forum on Islamic World Studies (FIWS) di Bandung (1994-1995).

Leave a Response