Kolom Sosial Politik

KDM: “Di hati saya, selalu ada Ibu!”

426views

Oleh: Ridhazia

PAGI ini saya menonton dokumen tayangan Kang Dedi Mulyadi (KDM) yang hadir pada program “Kick Andy” yang dipandu Andy F Noya di Metro TV.

Saat itu KDM masih Bupati Purwakarta periode kedua. Juga belum “putus” dengan Ambu Aneu, sang permaisuri. Sebab, sang istri hadir distudio dan diperkenalkan oleh KDM.

Busana Putih

Saat wawancara, KDM sudah tampil memakai baju kebesaran “putih-putih” dengan ikat kepala yang juga putih — pakaian yang serupa ketika KDM sekarang menjadi Gubernur Jawa Barat– itu memancing kepenasaran host.

Lalu, KDM menjelaskan kalau busana serba putih sebagai filosofi kebersihan hati, ketulusan, kejujuran. Selain, komitmen dirinya pada lingkungan hidup. Khusus pada air yang harus terjaga kebersihannya.

Juga, busana putih itu terkait “mitos” . Seingatnya, suatu saat kesukaan pada pakaian serba putih dikomentari sesepuh sekampungnya kalau dirinya bakal jadi bupati. Bahkan gubernur.

Singkat saya, pejabat publik sekaligus Gubernur Jawa Barat yang juga berbusana kerja putih-putih Solihin GP (1926-2024)

Duh, Ibu!

Ia tak bisa menahan air mata yang mengalir deras ketika ia berkisah tentang sosok hidup ibunya.

“Dihati saya selalu ada ibu saya” komentarnya. Dan, berkat doa ibu seluruh rencana hidupnya selalu dikabulkan Tuhan.

Sejak sang ayah terbaring sakit, sang ibu menjadi tulang punggung keluarga untuk menghidupi sembilan anak-anaknya.

Lalu KDM pun bercerita, kalau sang ibu telah “mengajari” bagaimana menjadi sosok tangguh yang mampu bertahan hidup dalam keterbatasan ekonomi dan sosial.

Mengubur Impian

Sebelum menjadi tokoh publik, sebagai bupati, anggota DPR, Ketua DPD Golkar dan Gubernur Jawa Barat, KDM mengaku karirnya itu tidak semulus yang diduga orang lain.

Selain latar kemiskinan yang mendera hampir separuh hidupnya. Juga kerap gagal dan harus mengubur impian.

Cita cita menjadi tentara tak kesampaian. Lolos seleksi kuliah di UNPAD juga tidak dilanjutkan karena keterbatasan biaya.

Dan, untuk memenuhi harapan meraih pendidikan tinggi, ia akhirnya menjadi mahasiswa PTS saja.

KDM mengaku keputusannya kuliah harus tertatih-tatih karena membiayai sendiri. Untuk menyiasati keterbatasan, ia berdagang apa saja.

Bahkan, memilih menjadi aktivis kampus dan ekstra kampus untuk menajamkan pengalamannya. Selain untuk menumpang tidur. *

  * Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response