Oleh Ridhazia
Quiet Quitting menjadi tren terbaru menolak budaya kerja keras. Tak terkecuali masalah loyalitas kepada atasan.
Istilah ini pertama kali muncul di Amerika Serikat pada tahun 2022 untuk menggambarkan kebiasaan bekerja secukupnya atau seminimal mungkin.
Di Jepang
Di negara Matahari Terbit yang penduduknya terkenal kerja dan disiplin kini mulai mengikuti fenomena baru quiet quitting.
Secara berangsur-angsur para pekerja di Jepang lebih memilih kerja tepat waktu dan pulang sesegera mungkin.
Tidak Tertarik Promosi
Sebuah studi mengungkapkan, quiet quitting telah merambah yang sebagian besar negara moderen di benua Amerika dan Eropa.
Para pekerja tidak lagi tertarik mencari promosi. Apalagi sebatas pujian dari atasan. Bahkan tidak pula tertarik dengan prospek gaji tinggi. Tidak lagi terlalu dipedulikan.
Hasil Penelitian
Penelitian terhadap 3.000 pekerja berusia 20 hingga 59 tahun — yang dilakukan oleh Mynavi Career Research Lab, sebuah lembaga penelitian ketenagakerjaan yang berbasis di Tokyo — melaporkan kecenderungan baru quiet quitting sudah dikisaran 45% dari populasi pekerja perusahaan swasta di dunia.
Studi Mynavi juga menyimpulkan bahwa memiliki lebih banyak waktu untuk diri sendiri adalah motivasi utama sebagian besar pekerja di era baru quiet quitting. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komuniaksi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.





