OpiniPendidikan

Anak Hebat Tak Dilahirkan, Tapi Ditemani

Dr.dr. Andi Kurniawan, SpKO, dokter spesialis kedokteran olahraga, menegaskan bahwa aktivitas fisik harian mampu meningkatkan daya pikir dan konsentrasi anak. “Olahraga meningkatkan aliran darah ke otak, memperbaiki mood, dan membentuk disiplin,” ujarnya dalam Kompas Health (2023). Ketika anak berlari, melompat, atau bermain bola, mereka sebenarnya sedang membangun fondasi keberhasilan akademik dan sosialnya. Maka mari jadikan olahraga bukan sekadar kewajiban Jumat pagi, tetapi bagian dari budaya hidup sehat yang menyenangkan.

430views

Oleh: Entang Rukman, S.Pd

Dr.dr. Andi Kurniawan, SpKO, dokter spesialis kedokteran olahraga, menegaskan bahwa aktivitas fisik harian mampu meningkatkan daya pikir dan konsentrasi anak. “Olahraga meningkatkan aliran darah ke otak, memperbaiki mood, dan membentuk disiplin,” ujarnya dalam Kompas Health (2023). Ketika anak berlari, melompat, atau bermain bola, mereka sebenarnya sedang membangun fondasi keberhasilan akademik dan sosialnya. Maka mari jadikan olahraga bukan sekadar kewajiban Jumat pagi, tetapi bagian dari budaya hidup sehat yang menyenangkan.

KETIIKA– halaman belum sepenuhnya membuka matanya, saya pernah melihat seorang anak kecil berjalan melewati gang sempit, mengenakan seragam sekolah yang subur namun rapi. Di tangannya terdapat buku tulis, dan di wajahnya tergurat semangat yang tulus. Ia berjalan sendiri, tanpa gawai, tanpa keluhan. Saya bertanya dalam hati: apakah ini salah satu anak Indonesia hebat yang kita impikan itu?

Tujuh kebiasaan yang sering digaungkan—bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat—sebenarnya bukan sekadar tuntutan perilaku. Ia adalah cermin dari harapan besar: tentang anak-anak yang tumbuh dengan jiwa sehat, hati bening, dan semangat juang. Tapi mari kita jujur, jalan kebiasaan baik itu tidak selalu mudah, terutama menuju tengah arus zaman yang deras dan kompleks.

Bangun pagi, misalnya, kini bukan lagi hanya soal disiplin, tapi juga soal kondisi rumah. Bagaimana anak bisa bangun pagi jika malamnya harus membantu orang tua berjualan, atau terpaksa tidur larut karena tidak ada tempat yang tenang untuk istirahat? Maka kebiasaan baik tidak bisa ditanam tanpa empati. Kita harus hadir bukan hanya sebagai pengarah, tapi sebagai pendamping yang memahami realita anak.

Beribadah pun bukan sekedar rutinitas. Ia adalah ruang spiritual yang memberi ketenangan dan arah hidup. Tapi anak tidak akan mencintai ibadah jika yang ia lihat hanya tanpa perintah makna, atau hukuman tanpa pemahaman. Anak belajar bukan dari suruhan, tapi dari kehangatan teladan. Sebuah pelukan saat mengajak salat berjamaah bisa jauh lebih mengena daripada suara keras yang menggema di pagi hari.

Sayangnya, berolahraga sering dianggap sebagai pelengkap—bukan kebutuhan utama dalam kehidupan anak. Padahal, tubuh yang sehat adalah pintu masuk bagi jiwa dan pikiran yang kuat. Di berbagai sudut negeri, kita masih melihat anak-anak duduk berjam-jam di kelas tanpa cukup kesempatan untuk bergerak. Ironisnya, di rumah pun mereka lebih banyak bersantai di layar daripada menari bersama angin di halaman.

Dr.dr. Andi Kurniawan, SpKO, dokter spesialis kedokteran olahraga, menegaskan bahwa aktivitas fisik harian mampu meningkatkan daya pikir dan konsentrasi anak. “Olahraga meningkatkan aliran darah ke otak, memperbaiki mood, dan membentuk disiplin,” ujarnya dalam Kompas Health (2023). Ketika anak berlari, melompat, atau bermain bola, mereka sebenarnya sedang membangun fondasi keberhasilan akademik dan sosialnya. Maka mari jadikan olahraga bukan sekadar kewajiban Jumat pagi, tetapi bagian dari budaya hidup sehat yang menyenangkan.

Tentang makan sehat, saya sering melihat anak-anak yang harus puas dengan sebungkus kerupuk dan teh manis di pagi hari. Bukan karena tak tahu pentingnya gizi, tapi karena memang itulah yang mampu disajikan. Maka bicara tentang makan sehat harus juga bicara tentang keadilan sosial. Menurut UNICEF Indonesia (2023), satu dari tiga anak Indonesia mengalami kekurangan gizi mikro yang mempengaruhi konsentrasi dan perkembangan otak. Oleh karena itu, promosi makanan bergizi harus disertai aksi nyata yang melibatkan sekolah, posyandu, dan program bantuan pangan.

Gemar belajar adalah cita-cita yang indah. Tapi adakah ruang belajar yang menyenangkan? Adakah guru yang mau mendengar isi hati murid, bukan hanya menilai angka mereka? Anak akan mencintai belajar jika mereka merasa dicintai. Maka mari ajarkan ilmu dengan hati. Ki Hadjar Dewantara mengingatkan, “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya.Pendidik hanya dapat menuntun tumbuhnya kodrat itu.” Maka tugas pendidik sejatinya adalah mendampingi, bukan mengontrol.

Dan bermasyarakat—kebiasaan yang kini semakin rapuh oleh tembok digital. Anak-anak kita lebih cepat mendapatkan cahaya di layar daripada menyapa tetangga. Maka penting menghidupkan kembali kegiatan gotong royong, proyek sosial, dan dialog antar generasi. Anak tidak akan bisa mencintai bangsanya jika tidak lebih dulu belajar mencintai lingkungannya.

Terakhir, tidur cepat. Kedengarannya sepele, tapi sesungguhnya itulah landasan semua kebiasaan lain. Tidur yang cukup memberi anak kekuatan fisik, ketenangan jiwa, dan kejernihan berpikir. American Academy of Pediatrics (2016) menyebutkan bahwa anak usia sekolah membutuhkan 9–12 jam tidur setiap malam agar tumbuh optimal. Maka mari kita ubah rumah menjadi tempat istirahat, bukan tempat gangguan. Batasi gawai bukan dengan marah, tapi dengan cinta. Jadikan malam sebagai waktu berkisah, bukan berteriak.

Psikolog anak Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., Psi., menyatakan bahwa rutinitas yang konsistensi dan lingkungan yang mendukung sangat mempengaruhi pembentukan kebiasaan baik pada anak. “Anak-anak meniru apa yang mereka lihat. Jika lingkungan rumah penuh dengan kebiasaan sehat, anak pun cenderung mengikutinya,” ungkapnya (Kompas, 2022). Maka, peran orang tua sebagai panutan sangat menentukan apakah tujuh kebiasaan ini akan dihilangkan dalam keseharian anak.

Anak Indonesia hebat tidak lahir dari tekanan, tapi dari kasih sayang dan keteladanan. Mereka tumbuh bukan karena sistem yang sempurna, tapi karena ada orang dewasa yang mau hadir, mau memahami, dan mau membersamai. Pendidikan karakter sejati bukan diukur dari berapa banyak anak yang hafal teorinya, tapi dari berapa banyak anak yang merasa dihargai, dimengerti, dan dicintai.

Karena pada akhirnya, membentuk kebiasaan baik bukan soal memaksa anak menjadi hebat versi kita, tapi menemani mereka menjadi hebat versi mereka sendiri.** Penulis Pemerhati Pendidikan & Guru Merdeka

Leave a Response