Oleh: Ridhazia
MUNGKIN, wayang golek tidak akan sepopuler sekarang tanpa Asep Sunandar Sunarya (1952-2014).
Dan, meski ia sudah wafat sebelas tahun lalu dalang wayang Sunda ini tidak tergeser posisinya sebagai seorang maestro.
Kepiawaiannya memainkan wayang golek, tidak saja membuat namanya Asep Sunandar Sunarya meroket. Ia juga membawa kesenian tradisional rakyat Jawa Barat itu tidak dilindas zaman.
Konsisten dan Tekun
Modal Asep Sunandar Sunarya untuk mencapai puncak prestasi sebagai maestro hampir dipastikan karena tekun dan konsisten.
Dalam basa Sunda ia tipe pribadi yang pa’teu incah balilahan’ . Ia total menyatu dengan dunia wayang golek meneruskan rintisan sang ayah Abah Sunarya yang juga dalang wayang golek terkenal.
Membawa Pesan Agama
Meski ia memilih kebudayaan sebagai konsentrasi hidupnya, Asep Sunandar Sunarya juga bergaul dengan tokoh-tokoh agama dan kiai pemimpin pondok pesantren.
Ternyata kebiasaanya itu membentuk Asep Sunandar Sunarya menjadi sosok dalang yang “berdakwah” sebagai menu wajib dalam setiap pergelarannya.
Profesor di Perancis
Tahun 1986, Asep Sunandar Sunarya mendapat mandat dari pemerintah sebagai duta kesenian. Ia diterbangkam ke Amerika Serikat.
Tidak berhenti disitu, tahun 1993, Asep Sunandar Sunarya diminta oleh Institut International De La Marionnette di Charleville, Prancis, sebagai dosen luar biasa selama dua bulan. Ia diberi gelar profesor oleh komunita akademis di negeri itu sebagai penghargaan tertinggi.
Keberhasilan dalam dua event internasional itulah mendorong langkah berikutnya di melanglang buana di benua Eropa.
Tahun 1994, Asep Sunandar Sunarya mulai pentas di luar negeri, antara lain di Inggris, Belanda, Swiss, Prancis, dan Belgia.
Tahun 1995, ia,mendapat penghargaan bintang Satya Lencana Kebudayaan. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.





