Kolom Sosial Politik

Kahlil Gibran “Nabi” Tak Mati

514views

 

Oleh Ridhazia

Sampai sekarang, Kahlil Gibran (1887-1933) dikenang sebagai penyair sekaligus dipercayai sebagai filsuf yang paling populer dan paling intens membahas hubungan antara keheningan, kesunyian dengan pengetahuan diri manusia.

Kontemplasinya berakar pada kerinduan akan kebebasan. Selain merenungkan cinta, kerinduan, dan kematian melalui eksplorasi tema-tema keagamaan.

Di usianya yang ke-18, ketika pindah ke Paris ia menulis buku pertamanya. Buku yang berjudul Spirit Rebellious terinspirasi dari tanah kelahirannya yang korup.

Sepanjang hidupnya, Kahlil Gibran membiarkan pemikiran dan perenungan begitu liar sebagaimana ditulis dalam prosa dan puisi sembilan buku dalam bahasa Arab dan delapan dalam bahasa Inggris.

Sang Nabi

Buku “The Prophet” — diterjemahkan sebagai ” Sang Nabi” — merupakan karya terakhir sebelum ajal tiba. Bahasanya indah dan mendalam.

Pesan spiritualnya abadi kuat melalui metafora tentang misteri kehidupan manusia dan telah diterjemahkan lebih dari 40 bahasa seumpama “kitab suci” saja.

Ia hadir dalam sosok manusia. Menawarkan spiritualisme universal yang bebas dari dogma tapi tidak bersifat moralistik. Dalam perjalanan hidup ia dekat dengan mistisisme kaum Sufi tanpa pernah menjadi muslim.

Melalu tokoh Almustafa dalam buku “Prophet” itu ia menyamakan dirinya dengan “setetes air yang tak terbatas di lautan yang tak terbatas.”

Hidup Abadi

Kahli Gibran lahir sebuah desa miskin di Libanon pada tahun 1883. Saat itu masih era kekuasaan Kekaisaran Ottoman.

Tapi besar dan menua sebagai imigran di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat bersama ibu dan adiknya. Pernah pula hidup di Perancis. Sedangkan kakeknya seorang pendeta Kristen Maronit. Ayahnya pengutip pajak.

Kahlil Gibran meninggal karena sirosis hati pada tanggal 10 April 1931 di New York City. Diduga penyakitnya itu akibat minuman beralkohol. Kematian hanya disaksikan manuskrip pribadinya. Ia tidak pernah menikah.Dimakamkan di tanah kelahiran di Libanon pada 1933.

Museum

Namanya tak pernah memudar karena kematiannya. Sebuah museum bekas biara — yang berjarak 120 kilometer dari Beirut — didedikasikan untuk sang penulis, filsuf, dan seniman.

Museum itu bekas gua tua yang sebelumnya menjadi tempat pertapa sejak abad ke-7 kemudian diubah menjadi biara secara bertahap hingga tahun 1862.

Kata-kata Bijak

Kata-kata bijak Kahlil Gibran tetap melekatkan melewati batas waktu. Salah satunya:

“Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu. Mereka adalah putra putri kerinduan Kehidupan pada dirinya sendiri. Mereka datang melaluimu, tapi bukan darimu. Dan sekalipun mereka bersamamu, mereka bukan milikmu”. *

* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response