Oleh Ridhazia
Hari ini Senin (5/1/25) anak sekolah mulai Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam bahasa lokal Bandung, program MBG presiden Prabowo sebagai “ransum Prabowo” yang dianggarkan 71 triliun rupiah.
Ransum adalah makanan yang diberikan kepada ternak atau manusia dalam jumlah dan ukuran yang sudah ditentukan.
Jika ransum ternak dihitung untuk memenuhi kesesuaian dengan tingkat produksi. Antara laim mengandung zat nutrisi yang seimbang, seperti protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral.
Sedangkan ransum militer dalam bentuk kaleng atau kemasan yang memiliki nilai kalori yang besar dan nutrisi yang tinggi untuk mendukung performa prajurit.
Umumnya ransum dibuat instan yang terdiri atas beberapa menu, mulai dari nasi kuning ayam, nasi kebuli daging, sup krim jagung, dan nasi laksa ikan hingga susu bubuk yang dicampur dengan sereal.
Atau nasi ayam bumbu rujak, nasi daging lada hitam, dan nasi ikan saus tomat. Ransum selanjutnya berisi kudapan, yang bukan menu nasi melainkan biskuit tanpa tambahan topping atau pemanis.
Diduga
MBG itu baik. Tapi operasionalnya bakal bermasalah. Selain merepotkan katering dan sekolah. Juga selera makan anak-anak tidak bisa diseragamkan.
Dua anak cucu saya saja, selera makannya berbeda-beda. Bagaimana dengan jutaan anak-anak yang tidak bisa diseragamkan seleranya.
Berbanding terbalik dengan ternak dan tentara. Apa pun makannya, seleranya bisa dipaksakan.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.





