Oleh: Ridhazia
” Kalau kita berada di jalan yang benar tidak akan kalah oleh yang salah.”
H. Ma’soem (1923-2001)
Itu prinsip bisnis Haji Ma’soem yang terlahir dengan nama Dajoen asal Desa Cibuyut di kaki gunung di Tasikmalaya, Jawa Barat.
Hidup dalam kesederhanaan. Untuk bersekolah saja setiap hari harus berjalan kaki sejauh 16 kilometer. Sepulang dari sekolah, ia melanjutkan belajar di Pesantren Gereba.
Setelah dewasa, kembali mengaji di Pesantren Karangsambung dipimpin Kiyai Masduki. Nama Ma’soem, yang artinya “terpelihara dari sifat buruk” juga diperoleh dari sang kiyai.
Keringat Sendiri
Untuk membiayai sekolah, Dajoen merogoh uangnya hasil keringat sendiri dari jualan telor bebek. Semangat dagangnya dilanjutkan ketika pindah Cipacing, Bandung.
Pertama kali di tempat baru, ia berdagang kerajinan. Selanjutnya berdagang minyak tanah. Ia menyewa sepetak warung di depan Pasar Dangdeur, Rancaekek, Kabupaten Bandung.
Puncaknya menjadi agen minyak tanah. Selang beberapa tahun ia merintis usaha pompa bensin di Rancaekek hingga usaha ini dilajutkan pewarisnya.
Pesan Emas
Ia juga mewariskan pesan emas yaitu “jika mau sukses usaha selain mau bekerja keras, juga harus jujur”. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.





