Kolom Sosial Politik

Mabuk KECUBUNG

396views

 

Oleh Budi Setiawan

BANJARMASIN menjadi sorotan, hanya gara-gara kecubung. Ya, tanaman bernama kecubung itu nyata-nyata mampu merenggut dua nyawa dan menjerumuskan 47 warga masuk ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ).

Dalam sekejap, media sosial dipenuhi video-video tragis yang menunjukkan mereka yang mabuk sempoyongan di jalan, mulut berbusa, hingga ada yang asik berendam di selokan pinggir jalan.

Dalam salah satu video, seorang remaja tampak duduk di teras rumah dengan ekspresi kebingungan. Mulutnya berbusa, pandangannya kosong. Di sudut lain, temannya berlari-lari sambil tertawa tanpa henti, sebelum akhirnya diikat dan dibawa ke rumah sakit. Semua ini karena kecubung.

Kecubung, yang dulunya cuma dikenal sebagai bunga hias, kini berubah menjadi tumbuhan “mematikan” bagi mereka yang putus asa. Pengangguran, tekanan hidup, dan kemiskinan menjadi alasan utama mengapa kecubung begitu mudah merasuki kehidupan masyarakat. Mereka yang mabuk kecubung, seolah-olah hidup di dunia yang berbeda, melupakan sejenak kerasnya realita.

Saya jadi teringat, tetangga saya juga pernah mengalami hal serupa. Dia harus mabuk kecubung dulu hanya untuk merasakan bagaimana nikmatnya roti. Dalam kondisi mabuk, dia mengigau, “Enak bener ini roti,” sambil menggigit sandal jepitnya. Lucu memang, tapi juga tragis. Karena itulah potret sebenarnya dari kehidupan masyarakat di negeri ini.

Tragedi ini adalah gambaran pelarian dari kenyataan pahit. Mereka, yang berada di kasta terendah, memilih mabuk kecubung karena alkohol dan narkoba lainnya terlalu mahal dan sulit didapat. Kecubung, bunga yang bisa ditemukan di pekarangan, menjadi alternatif yang terjangkau.

Namun, mabuk kecubung bukan hanya masalah masyarakat bawah. Ini adalah peringatan bagi kita semua, termasuk para penguasa. Jangan sampai kita semua, terutama mereka yang berada di puncak kekuasaan, ikut mabuk oleh kekuasaan itu sendiri. Mabuk yang bisa membuat mereka melupakan derita rakyat. Rakyat yang semakin hari semakin terpuruk oleh kebijakan yang tak berpihak.

Para penguasa, dengan segala fasilitas dan kenyamanan, seringkali lupa akan tanggung jawab mereka. Mereka terbuai dalam kemegahan kekuasaan, mementingkan keluarga dan kroninya, hingga tak lagi peduli pada jeritan rakyat. Mabuk kekuasaan ini jauh lebih berbahaya daripada mabuk kecubung, karena dampaknya merembet ke seluruh sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ketika para penguasa mabuk kekuasaan, mereka lupa bahwa di bawah sana, ada rakyat yang sedang berjuang untuk sekadar bertahan hidup. Rakyat yang terpaksa memilih mabuk kecubung demi melupakan rasa lapar yang menyiksa.*

* Budi Setiawan adalah pemerhati sosial politik alumnus FISIP Universitas Padjadjaran  Bandung, mantan jurnalis senior media ibu kota Jakarta, bermukim di Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Leave a Response