Kolom Sosial Politik

Menghitung Hari HIJRIYAH

799views

 

Oleh Ridhazia

Kalender Hijriah semakin dipopulerkan ini agar umat Islam semakin nyaman beribadah. Sekaligus menjadi kalender hidup muslim.

Bahwa masih terdapat perbedaan diantara ormas keagamaan di Indonesia terutama dalam menentukan awal puasa ramadan dan pelaksanaan solat idul adha, itu soal lain.

Menghitung Hari

Kata Hijriah berasal dari peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah pada 622 Masehi. Momentum ini disepakati menjadi perhitungan awal Tahun Baru Islam yang dimulai pada bulan Muharram.

Sedangkan kalender sejarah Masehi sudah menjadi patokan waktu manusia sejak di Julius Caesar (100-44) berkuasa pada era Kerajaan Romawi. Saat itu sang penguasa menetapkan 1 tahun itu 365 hari. Dengan demikian, ¼ hari yang tersisa selama 4 tahun ditambahkan ke dalam bulan Februari yang hanya terdiri atas  28 hari.

Dibedakan kalender Hijriyah dengan kalender Masehi, di antaranya jumlah hari. Jika kalender Masehi 28-31 hari, kalender Hijriya dalam satu bulan 29-30 hari.

Ada selisih perbedaan hari dan tanggal di kedua kalender ini sehingga tahun baru juga berbeda. Misalnya saja 1 Muharram 1446 bertepatan pada Minggu, 7 Juli 2024. Sedangkan kalender Masehi dimulai 1 Januari 2024.

Jika perhitungan kalender Masehi didasari oleh perputaran bumi mengelilingi Matahari (revolusi) — kemudian disebut tahun Masehi sebagai tahun Syamsiah atau tahun Matahari — mama satu hari adalah jumlah waktu yang diperlukan bumi untuk melakukan rotasi, dan satu tahun adalah jumlah waktu yang diperlukan Bumi untuk mengelilingi Matahari. Satu tahun revolusi sama dengan 365,25 hari

Dengan ketentuan ini, bulan Februari memiliki 29 hari setiap 4 tahun sekali, tahun spesial ini disebut juga tahun kabisat. Tahun kabisat terjadi jika suatu tahun habis dibagi 4, misalnya tahun 2012, 2016, dan tahun 2020.

Dasar perhitungan kalender Hijriah dimulai dari revolusi bulan atau peredaran bulan mengelilingi Bumi atau populer sebagai tahun komariah (bulan) atau tahun Islam. Satu bulan sama dengan 29,5 hari.

Sehingga, satu tahun kalender Hijriah terdiri atas 354 hari, atau tepatnya 354,36708 hari. Jika dibulatkan, kalender Hijriah juga mempunyai tahun kabisat yang terdiri dari 355 hari. Penentuan awal bulan ditandai dengan munculnya penampakan bulan sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru (konjungsi atau ijtimak).

Hal ini menunjukkan bahwa kalender Hijriah lebih pendek 10–11 hari daripada kalender Masehi. Berdasarkan hal tersebut, hari-hari besar Islam setiap tahun bergeser lebih awal 11 hari pada tahun Hijriah biasa, dan bergeser 12 hari pada tahun kabisat.

Perhitungan tahun kabisat Hijriah adalah setiap jangka 30 tahun sejak kalender ini ditetapkan pada 638 Masehi. Dalam setahun, tahun Hijriah dibagi menjadi 12 bulan yang penamaan bulan pun berbeda dengan kalender masehi.

Memaknai Peristiwa

Masih menggunakan huruf, tanggal berbahasa Arab, kalender Hijriyah sarat makna dan representasi sejarah.

Sekedar contoh saja. Kata Muharram merupakan penanda awal dimulainya kalender Hirjiah memiliki arti terlarang atau haram. Pesan yang mengingatkan pada bulan ini tidak melakukan konflik sosial.

Safar yang berarti kosong sebagai catatan peristiwa sosial kalau pada bulan kedua dalam tradisi Arab penduduknya meninggalkan rumahnya dalam keadaan kosong. Juga identik dengan musim gugur. Sedangkan Rabi’ul awal berarti permulaan musim semi pertama. Demikian pula Rabi’ul akhir juga waktu terjadinya periode akhir.

Rajab berasal dari kata rajaba yang berarti hormat. Arab akan diam di rumah dan menahan diri untuk berperang sebab mereka menghargai bulan yang terhormat ini.

Pun, Ramadan merupakan bulan ketika orang Arab melakukan puasa kepada Allah. Akan tetapi secara arti, Ramadan berasal dari kata ar-Ramda yang berarti panas. Sebab pada bulan ini biasanya tengah berlangsung musim panas.

Di bulan Zulhijah, orang Arab biasanya melakukan ibadah haji ke Mekkah. Begitu juga dengan berkurban dan ziarah. Zulhijah sendiri memiliki arti ziarah. *

 Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response