Oleh Ridhazia
Kematian ketika bersepeda, sebagaimana dialami jurnalis Yusran Pare mengingatkan kembali betapa penting memahami informasi di balik keputusan memilih olahraga bersepeda untuk menghindari aksiden. Kejadian di luar dugaan.
Disarankan
Bersepeda itu disarankan. Melimpah manfaatnya. Selain bisa melancarkan peredaran darah sebagaimana aerobik. Juga memperkuat kesehatan jantung. Selain memelihara kehidupan seks.
Asalkan..
Dilakukan dengan intensitas yang ringan-ringan saja. Yang penting : fun! Tidak berkompetisi. Apalagi untuk alasan gengsi. Terutama yang memilih bersepeda berkelompok.
Dalam berkelompok pesepeda lazim dipaksa mengikuti irama orang lain dalam kelompoknya. Tidak mempertimbangkan lagi kemampuan diri.
Aksiden
Jika ada kematiam karena bersepeda itu hanya aksiden. Bukan sebab secara langsung. Dan, lazim terjadi untuk penjelajah dengan jarak dan jalur yang ditempuh melebihi kapasitas kemampuan dan takaran diri.
Aksiden kematiam tidak mustahil terjadi karena otot yang bergerak ketika menggenjot pedal sepeda selalu membutuhkan lebih banyak aliran darah dan oksigen. Dan, jantung pun akan bekerja lebih keras.
Jika tidak mencukupi aliran darah dan oksigen ke jantung maka jantung akan infal. Berhenti dan beresiko mati.
Memeriksa diri secara rutin ke dokter menjadi keharusan. Bahkan mempertimbangkan rekomendasi ahli sebagai norma standar pesepeda sehat.
Ramah
Bersepeda ramah kesehatan. Terutama meloncerkan sendi panggul, lutut dan ankle. Ketiga sendi tersebut tidak mendapatkan gaya berat dari tubuh. Berbeda jalan kaki biasa.
Juga ramah seksual. Dugaan bersepeda menimbulkan disfungsi ereksi karena — gesekan antara sadel dengan area genital — ternyata tidak terbukti. Bantahan ini dikeluarkan berdasarkan riset Harvard Medical School.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologidan komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.




