Kolom Sosial Politik

Agenda Terselubung di Balik Pembantaian Gaza

751views

Oleh Budi Setiawan

KONFLIK berkepanjangan di Gaza, Palestina, antara pasukan Zionis Israel dan militan Hamas terus berlanjut setelah “jeda kemanusiaan” baru-baru ini berakhir pada 1 Desember 2023. Serangan Zionis terhadap wilayah sipil semakin mengungkap agenda genosida dan pembersihan etnis oleh Zionis terhadap rakyat Gaza. Namun, dunia Barat, yang sering vokal terkait hak asasi manusia, tetap terdiam.

Upaya genosida Zionis di Gaza semakin meningkat, dengan pemerintah Israel dengan gigih menegaskan dominasinya atas wilayah itu, tanpa mempedulikan korban sipil yang mencapai puluhan ribu. Apa yang memotivasi agenda genosida Zionis ini, yang terbungkus dalam keinginan untuk menghancurkan terowongan pejuang Hamas? Selanjutnya, mengapa Amerika Serikat dan sekutunya di Barat tampak impoten, membiarkan tragedi di Gaza berlanjut?

Dalam artikel terbaru yang ditulis jurnalis Inggris, Richard Medhurst di AlMayadeen.net (24 November 2023), sebuah analisis disajikan mengenai agenda tersembunyi Israel dan AS dalam konteks geostrategi dan ekonomi di wilayah tersebut. Medhurst menyelami korelasi-korelasi yang telah terjadi, baik sebelum maupun setelah serangan roket Hamas ke wilayah Israel.

Analisis Medhurst dimulai dengan pengungkapan rencana Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk membangun visi “Timur Tengah Baru,” yang disampaikannya di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Visi ini menawarkan upaya membangun koridor ekonomi yang melibatkan negara-negara dari India hingga Uni Emirat Arab, dengan Israel sebagai bagian integral. Motivasi di balik visi ini menandakan perlawanan terhadap BRICS (Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan) dan Inisiatif Jalur Sutra Baru Tiongkok. Jelas, tawaran ini sejalan dengan kepentingan AS, pendukung setia Israel, dalam mempertahankan dominasinya dalam dunia multipolar.

Rencana ini menghadapi tantangan karena AS dan sekutunya gagal memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Rusia menyusul invasi Ukraina. Selain itu, rekonsiliasi antara Arab Saudi dan Iran mendorong AS mencari solusi agar eksistensinya tetap relevan. Serangan terhadap infrastruktur gas Rusia dan penolakan terhadap kesepakatan nuklir Iran adalah langkah-langkah kritis dalam mencapai tujuan geopolitik dan ekonomi AS, yang ternyata gagal.

Selain itu, menurunnya signifikansi dolar di pasar mata uang global, ditambah beberapa negara mencoba bergabung dengan BRICS, mendorong AS merancang strategi melawan pergeseran ini.

Jalur Sutra Kuno dan Gas Rusia
Lanskap geostrategi mulai berubah ketika Iran dan Irak menandatangani perjanjian kereta api, dan Suriah memasuki kemitraan strategis dengan Tiongkok. Jalur Sutra kuno, jalur perdagangan vital dari Tiongkok ke Suriah dan Laut Tengah, mendapat perhatian baru. Memahami implikasi ekonomi dan politiknya, banyak negara, termasuk Tiongkok, aktif menghidupkannya kembali.

Di sisi lain, kudeta Maidan di Ukraina pada 2014, yang dilakukan AS, bertujuan tidak hanya sebagai upaya ekspansi NATO untuk mengepung Rusia, tetapi juga sebagai upaya mengendalikan dan mengganggu pasokan gas Rusia ke Eropa. Rusia, pemilik cadangan gas alam terbesar, memiliki jaringan pipa gasnya yang melewati Ukraina.

Namun, AS melihat adanya rute utama lain bagi gas Rusia ke Eropa, kali ini dari utara: jalur pipa Nord Stream. Selama beberapa dekade, politisi Amerika dari setiap rezim AS secara berulang kali menyatakan ketidaksukaan mereka terhadap jaringan pipa Nord Stream. Pada 2022, tepat sebelum konflik di Ukraina meletus, Presiden Biden mengeluarkan ancaman keras bahwa ia akan “mengakhiri” Nord Stream – meskipun pipa tersebut sebenarnya merupakan proyek Rusia-Jerman, namun Kanselir Scholz, yang saat itu berdiri di samping Biden, hanya bisa terdiam.

Tiba-tiba, baik Nord Stream 1 maupun 2 meledak pada 2022. Ini merupakan salah satu serangan teroris terbesar dan paling mengerikan terhadap infrastruktur Eropa dalam sejarah modern. Seperti yang diungkapkan Medhurst, hanya tiga negara di dunia yang bisa melakukan operasi semacam ini: Rusia, Inggris, dan Amerika Serikat. Tentu saja, Rusia, pemilik pipa tersebut, akan sangat konyol untuk menghancurkan pipa gasnya sendiri.

Serangan ini memastikan bahwa tidak ada lagi gas Rusia yang dapat mengalir ke Eropa. Dengan demikian, AS mencapai tujuan kebijakan luar negerinya yang sudah lama: menjauhkan Rusia dan Jerman.

Gas dan Minyak Iran
Iran, pemilik cadangan gas terbesar kedua di dunia, telah menandatangani Kesepakatan Nuklir Iran pada 2015. Meskipun Iran mematuhinya sepenuhnya, nyatanya AS melanggar janjinya dan memberlakukan kembali sanksi terhadap Iran. Hal ini efektif menghambat Iran menjual minyak dan gas ke Eropa dan negara lain.

Sekarang, dengan Rusia dan Iran keluar dari peta pemasok gas Eropa, Israel tiba-tiba muncul sebagai solusi untuk kekurangan gas di Eropa, menandatangani kesepakatan gas dengan blok itu pada Juni 2022. Ursula Von der Leyen, Presiden Komisi Eropa (EC), menyatakan pada Juni 2022 bahwa UE akan membebaskan diri dari ketergantungan bahan bakar fosil Rusia. Sebagai gantinya, UE mencari cara meningkatkan kerja sama energi dengan Israel, melalui pipa gas dan hidrogen bersih di Timur Tengah.

Ladang Gas Leviathan
Survei geologi pada 2010 menemukan ladang gas raksasa di Timur Tengah, yaitu Leviathan, terletak di Cekungan Levantine, lepas pantai Palestina, Lebanon, dan Suriah.

Mengetahui hal ini, Suriah tidak akan memberikan izin bagi perusahaan-perusahaan Barat untuk mengekstraksi gasnya. Hal ini juga berarti ambisi membangun pipa minyak Qatar yang akan melewati Suriah tidak akan pernah terwujud. Kejatuhan Suriah, mungkin ini sesuatu yang direncanakan, membuka pintu bagi AS membangun pangkalan militer di sana.

Selanjutnya, AS juga berupaya menimbulkan kerugian di Suriah untuk menguasai seluruh ladang minyak Suriah. Di sisi lain, Israel telah beberapa kali membombardir pelabuhan Suriah yang paling vital, Latakia. Semua ini dilakukan untuk mengurangi pendapatan minyak dan menghambat aktivitas maritim, termasuk eksplorasi gas Suriah.

Analisa Medhurst lebih lanjut memantau pelabuhan besar lainnya di pesisir Levantine, yaitu Pelabuhan Beirut, yang meledak secara misterius pada 2020. Dua tahun kemudian (2022), Israel muncul dengan kapal besar untuk mencoba mengekstraksi gas dari ladang gas Karish di Lebanon. Ini memicu kembali perselisihan perbatasan laut dengan Lebanon. Bahkan setelah Hizbullah mengancam akan menembaki kapal-kapal baru tersebut, Israel mundur dan meminta AS menyelesaikan masalah ini atas nama mereka.

Gaza, Ladang Gas Terabaikan
Gaza, sebuah wilayah pesisir, ternyata juga memiliki ladang gas yang belum dijelajahi, namun saat ini telah berada di bawah blokade Angkatan Laut Israel dan Mesir sejak 2007. Pengepungan dan sejumlah perang yang dilancarkan Israel terhadap Gaza membuat warga Palestina bahkan tidak dapat menangkap ikan, apalagi mengekstrak gas.

Jadi, dengan semua pelabuhan di Lebanon, Suriah, dan Palestina tidak berfungsi, satu-satunya pelabuhan yang masih aktif di pesisir pantai adalah pelabuhan Haifa, yang dikendalikan oleh Zionis Israel.

Hal ini menjadikan Israel satu-satunya yang mampu mengekstraksi gas dan menerapkan koridor ekonomi. Dengan kata lain, Zionis Israel dan AS mematikan semua pesaing (Iran, Rusia, Suriah, Lebanon, Palestina), mencuri sumber daya mereka, dan menguasai pasar.

Menariknya, ketika Zionis Israel mengebom Gaza pada 29 Oktober lalu, negara Yahudi radikal ini memberikan 12 izin kepada perusahaan untuk memulai ekstraksi gas di cekungan Leviathan di Laut Mediterania.

Penyelesaian Masalah Palestina
Musim dingin di Eropa semakin dekat. Hal ini mendorong Israel untuk memenuhi janjinya mengisi kebutuhan gas Eropa. Di sisi lain, AS semakin putus asa seiring dengan semakin populernya BRICS dan Inisiatif Sabuk dan Jalan Tiongkok. Oleh karena itu, diperlukan stabilitas di kawasan ini melalui penyelesaian masalah Palestina.

Saat Netanyahu mengumumkan rencananya di PBB, Israel berpikir kesepakatan tersebut sudah tercapai dengan meminta Arab Saudi menormalisasi hubungan. Dengan begitu, diharapkan masalah Palestina akan selesai. Namun, kenyataannya, ini belum terjadi, dan rakyat Palestina tetap berada di dalam penderitaan.

Menurut Medhurst, inilah alasan mengapa Zionis membantai warga Palestina dengan cara yang biadab dan gila. Zionis Israel telah menduduki dan menyerang Gaza berkali-kali sebelumnya, tetapi tingkat kekerasan saat ini melampaui apa pun yang pernah kita lihat. Zionis berusaha membunuh sebanyak mungkin warga Palestina di Gaza dan menakut-nakuti warga Palestina lainnya agar meninggalkan rumah mereka dan pergi ke perbatasan Mesir, Rafah. *

* Budi Setiawan, mantan jurnalis salah satu media terkemuka di Jakarta, pengamat sosial politik, alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unpad, bermukim di Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Leave a Response