
Titik Hitam
Oleh: Hamdan Juhannis (Rektor UIN Alauddin)
Refleksinya bahwa begitulah kehidupan ini terpandang oleh kebanyakan mata. Mata manusia lebih tertarik melihat hal-hal kecil yang sering tidak penting. Pikiran manusia terdoktrin untuk menguliti “semut di lautan lautan” di banding “gajah di pelupuk mata”.
KONON, ada seorang Profesor Filsafat memberikan soal ujian kepada mahasiswanya. Ternyata soal ujian itu adalah kertas putih, yang berisi titik hitam kecil di tengah-tengahnya. Profesor itu meminta kepada para mahasiswa untuk menjelaskan apa yang dipahami dengan kertas yang diumumkan itu. Profesor itu memberi waktu satu jam untuk menjawab satu-satunya pertanyaan dalam ujian itu.
Setelah habis, Profesor itu meminta semua mengumpulkan kertas jawaban dan langsung memeriksa setiap jawaban, sambil meminta siswa tetap berada di dalam ruangan. Setelah Profesor memeriksa semua, dia memberi komentar umum tentang jawaban dari para mahasiswanya.
Ada yang menjawab bahwa kertas itu mengibarat bumi, dan titik hitam itu adalah poros bumi itu sendiri. Ada juga yang menjelaskan bahwa titik hitam itu adalah “pusat gravitasi” dari sebuah daratan yang disimbolkan oleh kertas itu.
Ada juga yang melihatnya bahwa titik hitam adalah pertengahan dari semua sisi yang ada di dalam kertas itu. Dengan merujuk pada titik hitam itu, menjadi mudah untuk membagi ruang-ruang dalam kertas itu.
Bahkan ada yang mencoba menyampaikan dengan perspektif teologis bahwa titik hitam itu adalah titik dosa, dan sekiranya berwarna merah itu adalah titik keberanian. Dan sejumlah penjelasan lain tentang keberadaan titik hitam di tengah kertas itu. Profesor itu menyimpulkan bahwa semua jawaban pelajar berakhir pada keberadaan titik hitam kecil di kertas itu.
Profesor itu lalu mulai berefleksi. Jawaban semua siswa mewakili kebanyakan manusia dalam memandang kehidupan ini. Semua mahasiwa terfokus pada titik hitam. Padahal itu hanya titik kecil yang kebetulan berada di tengah-tengah kertas. Semua bagian lain kertas itu berwarna putih. Namun tidak ada satu pun yang tetarik untuk menjelaskan warna putih yang mendominasi kertas itu.
Profesor itu melanjutkan refleksinya bahwa begitulah kehidupan ini terpandang oleh kebanyakan mata. Mata manusia lebih tertarik melihat hal-hal kecil yang sering tidak penting. Pikiran manusia terdoktrin untuk menguliti “semut di lautan lautan” di banding “gajah di pelupuk mata”.
Banyak yang lebih tertarik untuk menggosipkan hal-hal yang tidak penting di bidang hamparan kehidupan yang sebenarnya lebih dominan. Banyak yang lebih suka membicarakan setitik keburukan orang dibandingkan sebelanga kebaikannya. Tidak sedikit yang berkaitan dengan berdesak-desakan dan sumpek pada hal receh, dan abai pada hal-hal yang lebih mendasar dalam hidup. Anda tahu kan? Saya juga. Penulis Rektor UIN Alauddin, tinggal di Kota Makasar
Redaktur : Rianto Muradi




