Opini

Teori Kontradiksi

Rektor UIN Alauddin

136views

Oleh: Hamdan Juhannis Rektor UIN Alauddin

Ternyata semakin terang cahaya yang dihasilkan oleh lampu, maka semakin jelas bayang-bayang yang dihasilkan. Maknanya semakin kita ingin membuat benderang terang sebuah fenomena, maka sisi gelap fenomena tersebut akan semakin terungkap.

 

HIDUP  ini dihadirkan berpasang-pasangan. Ada dalilnya. Pasti tahulah khususnya kaum pengkaji. Namun saya mengatakan bahwa aktivitas hidup ini saling bertentangan. Kita sebut saja, teori kontradiksi.

Kita mulai dari kontradiksi antara terang dengan gelap. Untuk merekayasa kegelapan, manusia menciptakan lampu. Siapa lagi penemu pertama lampu, anak-anak? Lampu itu tujuannya melawan kegelapan. Ada yang dibuat remang, ada yang terang, atau ada yang berkilau.

Ternyata semakin terang cahaya yang dihasilkan oleh lampu, maka semakin jelas bayang-bayang yang dihasilkan. Maknanya semakin kita ingin membuat benderang terang sebuah fenomena, maka sisi gelap fenomena tersebut akan semakin terungkap.

Anda baru memeriksa waktu imsak di jam tangan Anda kan? Ternyata jam yang mengatur waktu anda, juga menyodorkan persimpangan. Jam membuat Anda tahu kapan waktu buka puasa, imsak, memenuhi janji, mengajar, atau menghadiri rapat. Jam mengajarkan kedisiplinan, “ketepatan waktu”, dan keefektifan atau keefesensian hidup.

Di sisi lain yang mungkin tidak Anda sadari, jam juga yang membatasi kehidupan Anda. Jam yang mengungkung kebebasan beraktifitas. Masih mau kongkow dengan teman, anda merelakan kegembiraan itu berakhir, karena jam menunjukkan anda harus antar anak sekolah atau antar isteri.

Itulah sebabnya banyak orang idealis memilih tidak memakai selai, preferensi tidak ingin diatur oleh waktu. Termasuk saya, tapi insentifnya berbeda, terasa gatal pergelangan tangan kalau memakai selai, tidak tahu kalau jam mahal yah.

Satu lagi contoh evolusi kehidupan. Kunci yang anda kantongi, kunci kamar, kunci kantor, atau kunci brangkas. Kunci yang membuka ruang tertutup. Kunci yang membuka akses hidup. Orang penting sering disebut “tokoh kunci”.

Di sisi lain, kunci juga yang membuat orang terjebak. Kunci yang menutup kesempatan anda. Kunci yang membuat anda kehilangan peluang karena “sudah terkunci.” Termasuk anak-anak kita yang tidak mengunci kamar karena kesalahan perilaku mereka. Ah, bukan hanya anak-anak, bapak-bapak juga kan **Penulis bertempat tinggal di Kota Makasar, Rektor UIN Alauddin

Leave a Response