Tasawuf sebagai Ideologi Perlawanan Syekh Yusuf Al-Makassary dan Anti Kolonialisme Abad XVII
Tasawuf sebagai Ideologi Perlawanan Syekh Yusuf Al-Makassary dan Anti Kolonialisme Abad XVII

Oleh: Edi Kurniawan
DALAM--sejarah Islam Nusantara, tasawuf sering dipersepsikan sebagai jalan sunyi penuh dan keterasingan dari hiruk-pikuk dunia. Namun figur Syekh Yusuf al-Makassary mematahkan stereotip ini. Lahir sebagai pemikir neo-sufisme agung, pemimpin politik, panglima perang, dan ideolog perlawanan terhadap kolonialisme.
Bagi Syekh Yusuf, spiritualitas dan perlawanan tidak berdiri berseberangan, melainkan menyatu dalam etika tauhid, bahwa tidak ada kekuasaan yang mutlak selain Sang Maha Pencipta. Syekh Yusuf Al-Makassary begitu mahfum bahwa tasawuf tidak lagi menjadi pengungsi dari dunia, tetapi berfungsi sebagai senjata melawan moral yang terjadi.
Etika Tauhid dan Pemberontakan Melawan Kekuasaan Absolut
Akar perlawanan Syekh Yusuf lahir dari tauhid, bukan sentimen dan propaganda etnis. Baginya, tauhid tak cukup sebagai pengakuan bahwa Tuhan itu satu, melainkan penolakan terhadap segala bentuk “kepenuhan” selain Allah. Kekuasaan kolonial, dalam perbedaannya, adalah bentuk syirik sosial. Manusia, kekayaan dan senjata dijadikan “tuhan-tuhan kecil” yang menindas umat dan menentukan nasib bangsa yang tertindas.
VOC tak lagi sebatas kekuatan ekonomi, melainkan simbol dominasi yang memaksa manusia agar tunduk pada kekuasaan asing. Menolak VOC bukan hanya tindakan politik, tetapi kewajiban secara teologis, perintah moral yang lahir dari keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak menjadi pusat ketaatan dan ketundukan.
Dari prinsip nilai tauhid inilah tasawuf Syekh Yusuf berkembang menjadi ideologi kebebasan. Setiap ajaran senjata spiritual menjadi perlawanan moral, menyatukan semangat dan perlawanan dalam satu gerakan etis dan revolusioner. Pesan ini tetap relevan hingga hari ini.
Keyakinan yang tulus harus melahirkan keberanian sosial melawan ketidakadilan, melawan tirani dan menolak segala bentuk kekuasaan absolut yang mengekang martabat manusia. Tauhid adalah landasan batin dan landasan revolusi moral-sosial, menegaskan bahwa spiritualitas sejati selalu berpihak pada kedamaian dan keadilan.
Sufisme dan Revolusi Kehidupan yang Mengubah Dunia
Syekh Yusuf al-Makassary menegaskan bahwa tasawuf sejati tidak berhenti di ruang batin, melainkan merambah ke dunia nyata sebagai kekuatan moral dan sosial. Dalam kehidupannya sebagai guru spiritual, sosok mufti kerajaan dan panglima perang melawan VOC, menunjukkan bahwa kedekatan dengan Allah menuntut tindakan yang berani, bahwa keimanan tanpa aksi sosial hanyalah ilusi spiritual. Setiap langkahnya adalah perwujudan tasawuf yang menjadi revolusi kehidupan, dimana spiritualitas dan tanggung jawab sosial menyatu dalam misi moral yang utuh.
Yang membuat perjuangan Syekh Yusuf berbeda adalah perlawanan moral yang universal. Tidak mencerminkan perang atas nama fanatisme tarekat, etnis ataupun nasionalisme secara sempit dan kaku, terus memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan. Tasawufnya mengajarkan bahwa semakin tinggi kedekatan seseorang kepada Tuhan, semakin besar tanggung jawabnya untuk membela yang tertindas.
Dari tanah Makassar hingga Cape Town, dari pencahayaan hingga pengaruh global, Syekh Yusuf membuktikan bahwa spiritualitas yang dalam dapat menggerakkan revolusi sosial, dan seorang sufi sejati adalah mujahid kehidupan, melampaui ruang dan waktu. 8
Perlawanan Etis dan Revolusi Moral Tanpa Dendam
Syekh Yusuf al-Makassary memberikan pelajaran hidup bahwa perlawanan sejati tidak lahir dari kebencian, melainkan dari etika dan kesadaran moral. Bahkan setelah ditangkap dan diasingkan ke Sri Lanka maupun Afrika Selatan, ia tidak menulis satu pun risalah yang menyerang atau mengutuk Belanda.
Baginya, yang harus dilawan adalah struktur memilih. Prinsip ini menegaskan bentuk perlawanan spiritual yang unik, menolak penjajahan sambil menjaga kebersihan jiwa, menolak tirani tanpa memupuk balas dendam pribadi.
Ini menjadikannya ancaman berbahaya bagi kolonialisme. VOC mungkin bisa memenjarakan tubuhnya, tetapi mereka tidak bisa menahan pengaruh gagasan dan keteladanan moralnya. Tasawufnya menjadi senjata tak terlihat, membebaskan pikiran dan hati, menggerakkan revolusi moral melalui keimanan, keteladanan dan keberanian etis. Syekh Yusuf membuktikan bahwa kekuatan spiritual yang cerdas dapat melampaui batas fisik dan waktu, mengajarkan bahwa revolusi sejati lahir dari prinsip, bukan dari amarah.
Tasawuf sebagai Gerakan Perlawanan Internasional
Pengasingan Syekh Yusuf dari Nusantara ke Sri Lanka (Ceylon) lalu ke Afrika Selatan (Cape Town) bukanlah akhir dari pengaruhnya, justru menjadi panggung global bagi ajaran tasawufnya. Di tanah asing uang baru, jauh dari kampung halaman dan pusat kekuasaannya, ia menapak sebagai bapak komunitas spiritual Muslim yang menggagas sebagai “Pahlawan Aphartheid”.
Islam di Cape Town bukan diwariskan melalui dominasi politik atau penaklukan, melainkan jiwa keteladanan seorang sufi buangan, seorang pejuang yang mengubah penderitaan pribadi menjadi kekuatan moralitas yang menyatukan umat manusia di tanah perkemahan yang menakjubkan.
Yang luar biasa, Syekh Yusuf adalah ulama Nusantara pertama yang memformulasikan tasawuf sebagai gerakan perlawanan universal. Melawan ketidakadilan dan ketidakadilan yang melampaui batas geografis dan ruang-ruang sejarah. Dalam visinya, tasawuf semata-mata jalan batin menuju Tuhan, melainkan senjata mematikan untuk menggerakkan etika, moral, dan keadilan di panggung dunia.
Syekh Yusuf al-Makassary membuktikan satu kebenaran secara epik. Sosok sufi tidak perlu memilih antara sajadah dan medan perang, antara zikir dan keadilan. Di dalam dirinya, spiritualitas dan perlawanan menyatu, menjadi gerakan yang menegaskan, menuntut keberanian sosial. Tasawuf bukan pengungsi atas sejarah, melainkan intervensi secara ilahiyah yang mengubah alur geopolitik dan panggung perjuangan setelahnya.
Lebih dari tiga abad sejak wafatnya, Syekh Yusuf tetap berdiri, tidak hanya sebagai ulama, tetapi sebagai simbol abadi bahwa keyakinan sejati selalu berpihak pada kemerdekaan manusia, pada perlawanan terhadap segala bentuk pemikiran dan absolutisme. Ia mengajarkan kepada dunia bahwa spiritualitas yang autentik tidak menunggu izin dari kekuasaan, melainkan tindakan, keberanian dan revolusi moral.** Penulis pemerhati sejarah, budaya, pendidikan dan penggerak literasi





