Kolom Sosial Politik

Supersemar: Selembar Kertas Gaib

411views

 

Oleh Ridhazia

Naskah asli Supersemar gaib. Naskah sejarah politik tentang peralihan kekuasaan di Indonesia era tahun 65-an itu hilang tak berjejak.

Entah di mana, dan disimpan oleh siapa. Dibakar atau diumpetin agar kerahasiaannya tetap menjadi misteri yang tak terjawab.

Dua naskah yang disimpan di gedung Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) yang selama ini dikenal publik dan tersebar di media sosial ternyata palsu.

Pencarian naskah asli sudah dilakukan di gedung Sekretariat Negara dan kantor tempat Presiden Soeharto berkuasa. Bahkan di Istana Negara tempat tinggal Presiden Soekarno. Tapi tak ditemukan jejaknya.

Ben Anderson, sejarawan Barat yang menulis ikhwal kegaiban naskah Supersemar menulis — berdasarkan kesaksian seorang tentara yang pernah bertugas di Istana Bogor — menyebutkan bahwa Supersemar diketik di atas surat yang berkop Markas Besar Angkatan Darat, bukan di atas kertas berkop kepresidenan.

Perbedaan bukti keotentikan inilah yang menurut Ben menjadi alasan mengapa Supersemar hilang atau sengaja dihilangkan. Diduga terkait dugaan kudeta militer atas Bung Karno.

Apa itu Supersemar

Mungkin generasi terbaru seusia 50 tahun ke bawah tidak faham tentang Supersemar yang membuka episode perubahan politik Tanah Air.

Surat perintah resmi Presiden Soekarno tertanggal 11 Maret kepada Letnan Jenderal Soeharto, yang saat itu menjabat sebagai Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) untuk memulihkan keamanan mengubah tatanan politik Indonesia. Bahkan hingga terjadi konflik berdarah paling masif di negeri Pancasila.

Otoriterisme Militer

Supersemar telah membuka babak baru kehadiran tentara dan sekonconya menjadi kekuatan yang mengubah wajah negeri. Tak terkecuali format demokrasi.

Jenderal Soeharto yang menjadi kekuatan kendali politik era tahun 1965 — kerap dilukiskan dalam “Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia (1981:664) sebagai “satu-satunya jenderal” — yang sangat berkuasa, sedangkan militer lainnya hanya kopral.

Supersemar telah memposisikan Soeharto bukan hanya jenderal terkuat. Juga punya pasukan yang kuat saat. Ia juga didukung penuh para jenderal matra angkatan darat sebagaimana dicatatkan dalam sejarah dukungan itu disampaikan dalam rapat di Yogyakarta pada 7 Oktober 1965. *

 * Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response