
Oleh: Ridhazia
Pasupati akronim dari Pasteur dan Surapati. Jalan layang sepanjang 2,8 kilometer menghubungan dua jalan utama Jalan Pasteur dan Jalan Surapati melewati lembah Cikapundung sekaligus pemukiman padat penduduk.
Cikal bakal jalan layang yang diresmikan 2005 ternyata idenya sudah ada sejak era Hindia Belanda, sekitar tahun 1920-an. Sang penggagas adalah arsitek asal Belanda bernama Herman Thomas Karsten (1884-1945) yang juga merencanakan tata kota di seluruh pulau Jawa.
Ikonik
Jalan layang Pasupati ini dirancang dengan cable-stayed pertama di Indonesia yang menerapkan teknologi anti gempa. Kabel utama pada bagian tengah jalan layang ratusan meter meter dan ditopang belasa kabel baja.
Tapi pencahayaan jalan layang Pasupati telah menciptakan pemandangan memukau dan estetik di malam hari.
Sebuah landmark visual yang memperkuat siluet jalan layang sangat memukau untuk dinikmati di malam hari.
Pencahayaan yang spektakuler dengan siluet yang tampak megah oleh cahaya yang artistik, menjadikannya salah satu lokasi atraksi visual terbaik di Bandung pada perayaan Malam Tahun Baru. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.



