Opini

Stress Cycle

Penulis Rektor UIN Alauddin bertempat tinggal di Kota Makasar

113views

Oleh:  Hamdan Juhannis ( Rektor UIN Alauddin)

Salah satu berkah Ramadhan yang saya rasakan adalah menikmati sajian ceramah dari para Da’i inspiratif di Masjid kompleks saya. Yang paling saya nikmati adalah ceramah salah seorang kawan dokter spesialis tentang esensi stres dan peran puasa dalam mengelola stres.

MESKIPUN   ceramahnya mengandung banyak istilah teknis, dan selayaknya saya harus membawa buku catatan, tetapi pesan ceramahnya tetap mudah untuk ditangkap.

Ternyata berbicara tentang stres tidak hanya mengarah pada hal negatif, tetapi ada yang stres positif. Yang kita pahami secara umum, bahwa stres itu selalu berdampak negatif. Ustad dokter ini betul menjelaskan bahwa stres negatif dapat merusak seluruh sendi tubuh dan bahkan mematikan.

Namun tekankan positif bahwa jika terkelola bisa membawa perubahan dan kemajuan. Pak dokter memberi contoh bahwa dirinya saat diminta untuk ceramah, hal itu mengakibatkan dirinya stres karena itu bukan profesinya. Tapi stres itulah yang mendorong dirinya melakukan aktivitas positif; membaca buku tentang stres, latihan ceramah, mencari referensi tentang ceramah yang baik, mencari dalil tentang stres. Termasuk mencari cerita lucu yang terkait dengan stres.

Ternyata menurut pak dokter, ekspresi berlebihan tentang pencapaian itu juga memberikan tekanan positif. Misalnya, seorang striker memasukkan bola, lalu melakukan gerakan atraktif itu juga karena efek stres positif.

Pak dokter membayangkan bahwa fungsi puasa adalah untuk mengontrol laju stres negatif. Sumbangsi nyata puasa adalah amaliyah yang dilakukan memberikan kontribusi langsung terhadap perenggangan saraf-saraf yang bisa mengontrol stres.

Pak dokter menutup dengan cerita yang dialaminya, bahwa ada temannya yang datang berkonsultasi karena stres berat. Pak dokter mengatakan bahwa dia bukan dokter yang tepat karena bukan ahli jiwa.

Ditunjuklah teman-teman yang ahli jiwa. Terlebih lagi, teman-teman diminta mengatakan dengan lantang setiap saat di depan cermin, tiga kalimat singkat: saya sehat, saya tenang, saya kuat. Setelah beberapa lama, temannya bertemu kembali dengan ahli jiwa, dan ditanyai kondisinya. Dengan lantang dia jawab: saya sehat, saya tenang, saya kuat.

Dokter ahli jiwa mengatakan, terima kasihlah. Dan temannya itu menyela dokter bahwa ada masalah baru yang lebih besar terjadi. Isteri dan anak-anaknya semua stres berat sekarang di rumah karena bingung dengan perilakunya berbicara sendiri siang malam di depan cermin.

Pak Ustad dokter berhenti tiba-tiba ceramahnya, tanpa deskripsi tentang jalan keluar yang terjadi dengan keluarga temannya yang stres berat. Menggambarkan banyak jamaah yang jadi stres, mendengar ceramah yang berakhir dan sengaja tidak dituntaskan. Anda juga ikut stres? Mungkin inilah yang disebut “siklus stres.” ** Penulis Rektor UIN Alauddin bertempat tinggal di Kota Makasar

Editor: Rianto Muradi

Leave a Response