Semula Ingin Jadi Dokter dan Tentara, Akhirnya Jadi Bupati Maros
Dr.HASChaidir Syam, S.IP.MH Sang bupati Maros

Oleh : Bachtiar Adnan Kusuma, Tokoh Literasi dan Penulis Nasional
Lelaki bugis pemilik kearifan
Bupati luwes penuh wibawa
Merubah pola pikir rakyat
Dari aspel ke gagasan membumi
Engkau mengajarkan ringkas
Di kamar dan di mobil asyik membaca buku

SETIAP– Tanggal 2 Februari setiap tahun, penanggalan ini penulis takkan melupakan begitu saja, tanpa melahirkan sederhana. Inilah persahabatan, persaudaraan yang begitu akrab antara penulis dengan pribadi Dr.HASChaidir Syam, S.IP.MH Sang bupati Maros yang hari ini, tepat berusia 49 tahun, ASChaidir Syam lahir 2 Februari 1977. Ini adalah untaian diksi cinta, tentang dua insan. Allah menemukan mereka dalam ikatan suci.
Yang jejakanya bernama Andi Syamsuddin. Lalu sang dara adalah Andi Nadjemiah. Keduanya masih ada hubungan kekerabatan. Cukup dekat. Andi Syamsuddin dan Andi Nadjemiah adalah sepupu. Sepupu itu bukan saudara yang serasa saudara. Bukan saudara dalam makna, dia bukan lagi mahram kita. Namun serasa saudara. Karena kekerabatan yang sangat dekat.
Perjalanan cinta, biasanya tidak mulus. Ada saja rintangannya. Justru ini yang membuat kisahnya semakin seru untuk diceritakan. Ada sekian banyak rintangan yang coba menghalangi cinta Andi Syamsuddin dan Andi Nadjemiah. Agaknya Andi Nadjemiah ini adalah wanita primadona. Andi Syamsuddin, salah satunya.
Pernikahan antara Andi Syamsuddin dan Andi Nadjemiah terlaksana. Di lingkaran keluarga Andi Nadjemiah, seperti ada aturan yang dipegang teguh. Tidak boleh menikah kecuali dengan keluarga sendiri.
Orang Bugis sebagian memang masih memegang tradisi seperti itu. Itupun harus berdasarkan pilihan orang tua. Mirip-mirip cerita Siti Nurbaya. Waktu itu anak-anak yang dijodohkan tidak membangkang. Mereka yakin orang tua akan memilih yang terbaik.
Adalah Andi Nadjemiah, putri dari seorang ayah bernama Andi Baso Petta Tunru anak lelaki dari pasangan Petta Nompo dan Sakka Petta Sinnong. Kalau dilihat dari latar belakangnya, Andi Nadjemiah berasal dari keluarga sederhana yang urusan ekonomi boleh dikata berkecukupan.
Ayahnya adalah petani dan ibu seorang pedagang kelontong. Dari hasil bertani dan berbisnis itu, roda ekonomi keluarga bisa berputar. Andi Nadjemiah bisa sekolah, juga hasil dari situ, bertaninya sang ayah dan berdaganganya sang ibu.
Calon bayi yang merepotkan ya. Saya tidak mau berspekulasi tentang pepaya masak dan mangga yang sempurna. Apalagi mencocok-cocoknya dengan fenomena kehidupan.
Hingga hari yang dinanti itu tiba. Bayi yang ditunggu-tunggu itupun lahir ke dunia. Melalui perjuangan yang tidak mudah. Bayi mungil itu lahir di Bone. Sesuai permintaan orang tua bunda Andi Nadjmiah. Chaidir, nama yang dihadiahkan kepadanya. Ya, Chaidir Syam. Bayi itu adalah ASChaidir Syam.
Ayah Chaidir Syam memberikanku nama Chaidir. Ini juga ada ceritanya. Dulu salah satu dokter yang merawat ibu sewaktu mengandung adalah Dokter Chaidir. Ayah memberikan Chaidir Syam, memberi nama Chaidir dengan harapan semoga kelak bisa menjadi dokter juga.
Kemudian kakek memberikan tambahan nama; Syafril. Alasannya karena Chaidir lahir di bulan Syafar. Kalau di Maros Chaidir Syam dipanggil Chaidir. Sedangkan di Bone lebih dikenal dengan Syafril.
Baru beberapa hari lahir, Chaidir Syam langsung dibawa ke Maros. Di sana pesta akikah diadakan. Jadi boleh dikata, Chaidir Syam hanya menumpang lahir di Bone. Perjalanan hidup selanjutnya akan banyak berlangsung di Maros.
Sejak TK sampai SMA, semuanya Chaidir Syam selesaikan di Maros. Sejak kecil Chaidir Syam telah diajari hidup mandiri. Tidak bergantung pada orang tua. Sejak SD Chaidir Syam dititipkan kepada pamannya bernama Andi Masykur Petta Nasse. Ia menetap di Maros.
Tepatnya di Kassi Kebo, Desa Baju Bodoa. AS Chaidir, nama yang diambil dari seorang dokter. Sederhananya saja harapan ayahnya mengambil nama itu, agar kelak anaknya bisa menjadi dokter. Namun terkadang harapan orang tua, harapan anak dengan kenyataan, tidak segaris lurus.
Beberapa orang pun bertanya-tanya, ketika menginjak dewasa saya tidak memilih jalan hidup sebagai seorang dokter. Tapi seorang politisi. Sungguh, dua dunia yang jauh berbeda.
Kini, AS Chaidir Syam yang dipersiapkan menjadi dokter, nyatanya menjadi Bupati Kabupaten Maros dua periode. Tak heran kalau sedari kecil memang tanda-tanda untuk menjadi dokter, sepertinya tidak ada. Kalau disodori permainan yang berhubungan dengan dokter, Chaidir Syam kurang senang. Dan memang tidak begitu lumrah untuk anak kecil di masa itu.
Justru Chaidir Syam begitu antusias ketika menawarkan mainan pistol-pistol. Seperti merasakan menjadi lelaki seutuhnya kalau sudah memegang pistol. Meskipun itu hanya mainan. Dan pelurunya pun dari air.Pistol air, permainan yang menjadi primadona.Apalagi kalau ditambah dengan seragam tentara. Luar biasa. Merasa gagah sekali.
“Saya ingat sekali, ada foto yang mengabadikan momen bersejarah itu. Berseragam tentara dengan memegang pistol udara. Sempat saya bercita-cita ingin jadi tentara. Ya, cita-cita anak-anak pada umumnya. Sementara dokter, belum terbesit.
Menyelesaikan jadi Bupati Maros yang kini menyandang dua gelar Doktor di depannya, sebagai Doktor Ilmu Hukum Universitas Muslim Indonesia dan Doktor di bidang Ilmu Pemerintahan dari Universitas Hasanuddin. Menjadi tokoh yang selalu sederhana, luwes dan tidak berubah.
Cerita menarik tentang Chaidir Syam, menceritakan Andi Nadjemiah kepada Bachtiar Adnan Kusuma yang juga dianggapnya sebagai anaknya sendiri. Nah, cerita tentang Andi Nadjemiah dan Andi Syamsuddin (almarhum), penulis urai kembali
Saat saya akan melahirkan Chaidir Syam, ternyata terlilit oleh ari-ari. Melilit hingga keleher yang menyebabkan Chaidir Syam sulit bernafas, ini kondisi yang genting, demikian seuntai kisah penggal tentang Chaidir Syam dari cerita Hj. Andi Nadjemiah yang resmi menikah dengan Andi Syamsuddin pada Bulan Maret 1976.
Kurang lebih setahun setelahnya, Allah bermurah hati menghadirkan Chaidir Syam ke dunia, lewat pertemuan keduanya. Tanggal 2 Februari 1977, pasangan Andi Nadjemiah dan Andi Syamsuddin resmi dikaruniai anak lelaki kesatu dan satu-satunya.
Nah, Andi Nadjemiah kembali membuka memori ungatannya pada 49 tahun yang lalu, tepatnya pada 1 Februari 1977, ia mulai merasakan sakit yang tdk ada lagi sakit di atasnya. Andi Nadjemiah didampingi bidan dan ibunya yang terus-menerus memeluk Andi Nadjemia dan Petta Latokku yang tercinta mendoakan semoga saya selamat dengan bayi yang telah ditunggu Andi Nadjemiah. Sementara ayah Chaidir Syam, Andi Syamsuddin masih di Maros, dan segera menuju ke Bone. Syukur alhamdulilah pas Tgl 2 Februari 1977, pukul dua Andi Nadjemiah merasakan nikmat yang tidak ada di atasnya, terharu dan gembira serta bersyukur atas nikmat Allah karena Chaidir Syam telah lahir.
Karena setelahnya Chaidir Syam lahir tidak lagi memiliki adik. Dikata orang, anak semata wayang. AS Chaidir Syam adalah satu-satunya putra dari pasangan Andi Syamsuddin dan Andi Nadjemiah.**





