Opini

Santri dan Skabies: Antara Tradisi dan Tantangan Kesehatan Pesantren

5views

Oleh  Julia Hartati, dr., M.Kes dan Dr. Ratna Dewi Indi Astuti, dr., M.Kes (Dosen Bagian Mikrobiologi-Parasitologi FK Unisba)

PESANTREN merupakan salah satu institusi pendidikan yang memiliki karakteristik unik. Selain menjadi tempat menimba ilmu agama dan pengetahuan, pesantren juga merupakan ruang kehidupan bersama. Para santri belajar, beribadah, makan, dan beristirahat dalam lingkungan yang relatif padat. Karakter kehidupan komunal tersebut menjadi bagian penting dalam pembentukan kemandirian dan solidaritas santri. Namun, pada saat yang sama, kondisi tersebut dapat menjadi tantangan dalam pengendalian penyakit menular.

Salah satu penyakit yang masih sering dijumpai di lingkungan pesantren adalah skabies, yang dalam percakapan sehari-hari dikenal dengan istilah “budug”. Penyakit ini bahkan telah menjadi bagian dari anekdot di kalangan sebagian santri. Ungkapan seperti “belum santri kalau belum budug” atau anggapan bahwa penyakit gatal merupakan “ujian” bagi santri baru untuk menentukan apakah ia akan bertahan di pesantren atau memilih pulang, menunjukkan bahwa skabies dalam konteks tertentu telah mengalami normalisasi.

Sebagai humor, ungkapan tersebut mungkin tidak bermasalah. Namun, dari perspektif kesehatan, normalisasi skabies perlu disikapi secara kritis. Skabies bukan sekadar “gatal biasa”. Penyakit ini merupakan infestasi oleh tungau Sarcoptes scabiei var. hominis yang hidup dan berkembang biak pada lapisan terluar kulit manusia. Tungau betina membuat terowongan di lapisan epidermis dan meletakkan telur di dalamnya. Keberadaan tungau, telur, dan produknya kemudian memicu respons imun yang menimbulkan peradangan dan rasa gatal.

Gejala yang paling dikenal adalah rasa gatal yang sering kali lebih berat pada malam hari. Pada kulit dapat ditemukan bintil-bintil kecil dan ruam yang terasa gatal. Lesi sering ditemukan pada sela-sela jari tangan, pergelangan tangan, siku, ketiak, pinggang, serta area genital. Pada anak-anak, distribusi kelainan kulit dapat lebih luas.

Persoalannya, keluhan tersebut sering dianggap sederhana. Seorang santri mungkin mengira rasa gatal disebabkan oleh keringat, cuaca panas, alergi, atau gigitan serangga. Apabila beberapa orang dalam satu kamar mengalami keluhan serupa, kondisi tersebut bahkan dapat dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Padahal, gatal yang dominan pada malam hari dan munculnya lesi pada lokasi khas perlu menjadi alasan untuk mempertimbangkan skabies.

Skabies terutama menular melalui kontak kulit yang dekat dan berkepanjangan. Penularan melalui benda yang terkontaminasi juga dapat terjadi. Kepadatan penghuni, interaksi fisik yang intensif, serta penggunaan fasilitas dan perlengkapan secara bersama-sama dapat menciptakan kondisi yang mendukung penyebaran penyakit. Pakaian, handuk, selimut, tempat tidur, karpet, dan perlengkapan berbahan kain perlu menjadi perhatian dalam pengendalian skabies.

Namun, penting untuk dipahami bahwa skabies bukan semata-mata persoalan kebersihan individu. Siapa pun dapat mengalami penyakit ini. Penderita tidak seharusnya mendapatkan stigma sebagai seseorang yang “jorok” atau tidak mampu menjaga kebersihan diri. Kontak dekat dan kondisi kehidupan komunal memiliki peranan penting dalam penularan.

Dari Gatal Menjadi Komplikasi

Dampak skabies tidak berhenti pada rasa gatal. Gatal yang intens dapat menyebabkan penderita menggaruk kulit berulang kali. Garukan dapat merusak lapisan pelindung kulit dan membuka jalan masuk bagi bakteri sehingga terjadi infeksi sekunder.

Infeksi bakteri sekunder dapat menyebabkan kulit menjadi lebih merah, nyeri, berkrusta, atau bernanah. Pada kondisi tertentu, infeksi yang berhubungan dengan Streptococcus pyogenes dapat berkontribusi terhadap komplikasi seperti glomerulonefritis pascastreptokokus dan demam rematik akut. Demam rematik akut pada sebagian kasus dapat berkembang menjadi penyakit jantung rematik.

Dengan demikian, anggapan bahwa skabies hanya merupakan penyakit kulit yang tidak berbahaya perlu diluruskan. Sebagian besar kasus dapat ditangani dengan baik, tetapi komplikasi dapat terjadi apabila penyakit tidak ditangani secara tepat, terutama ketika terdapat infeksi bakteri sekunder.

Dampaknya juga dapat bersifat psikososial. Rasa gatal yang berat, terutama pada malam hari, dapat mengganggu tidur dan aktivitas sehari-hari. Pada lingkungan pendidikan seperti pesantren, gangguan tidur dapat memengaruhi konsentrasi belajar dan aktivitas santri.

Mengapa Skabies Sering Berulang?

Pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa skabies masih ditemukan meskipun berbagai upaya pengobatan telah dilakukan. Persoalannya bukan semata-mata ketersediaan obat. Pengendalian skabies memerlukan ketepatan diagnosis, penggunaan obat yang benar, penanganan kontak dekat, serta upaya mencegah reinfestasi.

Salah satu kesalahan yang dapat terjadi adalah mengoleskan obat hanya pada bagian kulit yang terlihat mengalami kelainan atau hanya pada bagian yang terasa gatal. Pada terapi topikal tertentu, obat harus diaplikasikan pada area tubuh yang lebih luas sesuai petunjuk penggunaan. Misalnya, permethrin 5% untuk skabies klasik umumnya diaplikasikan pada seluruh tubuh dari leher ke bawah selama waktu yang direkomendasikan, bukan hanya diaplikasikan pada kulit yang terasa gatal saja. Pada bayi dan anak kecil, cakupan aplikasi dapat berbeda. Karena itu, penggunaan obat harus mengikuti petunjuk obat dan rekomendasi tenaga kesehatan.

Mengoleskan obat hanya pada kulit yang terasa gatal berpotensi tidak efektif karena tungau dapat berada di lokasi lain yang belum menunjukkan gejala jelas seperti gatal. Tungau berada pada terowongan-terowongan yang dibuat oleh tungau pada kulit yang berukuran sangat kecil yang tidak terlihat oleh mata kecuali dengan pemeriksaan khusus.

Masalah lainnya adalah reinfestasi. Apabila seorang santri telah diobati tetapi orang yang memiliki kontak dekat dengannya belum ditangani ketika memang diperlukan, ia dapat kembali mengalami skabies. Oleh sebab itu, pengendalian skabies tidak dapat hanya berorientasi pada pengobatan satu penderita, tetapi harus mempertimbangkan mata rantai penularan.

Pesantren Memerlukan Pendekatan Berbasis Kesehatan Masyarakat

Jika skabies ingin dikendalikan secara berkelanjutan di lingkungan pesantren, pendekatan yang diperlukan bukan sekadar pemberian obat ketika seorang santri mengeluh gatal.

Pertama, literasi kesehatan mengenai skabies perlu ditingkatkan. Santri perlu mengetahui bahwa gatal malam hari dan lesi pada lokasi khas dapat merupakan tanda skabies. Pengetahuan ini penting agar santri tidak menunggu penyakit menjadi berat sebelum mencari pertolongan.

Kedua, perlu tersedia akses yang mudah terhadap layanan kesehatan. Pesantren dapat membangun kerja sama dengan puskesmas, klinik, atau fasilitas pelayanan kesehatan sehingga santri dengan keluhan kulit dapat memperoleh pemeriksaan dan pengobatan yang tepat.

Ketiga, penggunaan obat harus dilakukan dengan benar. Edukasi mengenai cara pemakaian obat sama pentingnya dengan penyediaan obat itu sendiri. Santri perlu memahami bahwa terapi topikal tertentu harus digunakan pada area yang ditentukan, dengan lama pemakaian sesuai petunjuk.

Keempat, kontak dekat perlu diperhatikan. Jika ditemukan kasus skabies, orang-orang yang memiliki kontak dekat dengan penderita perlu dievaluasi dan, bila diindikasikan, ditangani sesuai rekomendasi tenaga kesehatan. Pendekatan ini penting untuk mencegah terjadinya siklus penularan kembali.

Kelima, pakaian, handuk, sprei, selimut, dan perlengkapan tidur yang digunakan penderita perlu ditangani sesuai rekomendasi. Barang yang tidak dapat dicuci dapat dikelola dengan cara yang sesuai untuk mengurangi kemungkinan paparan. Tungau skabies umumnya tidak dapat bertahan lama di luar tubuh manusia.

Pengendalian skabies juga tidak berarti bahwa pesantren harus melakukan penyemprotan insektisida secara berlebihan. Fokus utama tetap pada penemuan kasus, pengobatan yang tepat, penanganan kontak, dan pengelolaan barang yang berpotensi terkontaminasi.

Mengubah Cara Pandang

Barangkali sudah waktunya kita melihat kembali ungkapan “belum santri kalau belum budug”. Ungkapan tersebut mungkin merupakan humor yang lahir dari pengalaman bersama. Namun, ketika humor tersebut membuat skabies dianggap sebagai sesuatu yang normal dan tidak perlu ditangani, kita berisiko kehilangan kesempatan untuk mencegah penularan. Menjadi santri tidak seharusnya identik dengan mengalami skabies.

Kehidupan pesantren memang memiliki tantangan tersendiri. Kepadatan hunian dan interaksi yang intensif dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit menular. Namun, kondisi tersebut bukan alasan untuk menerima skabies sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan pesantren. Justru sebaliknya, lingkungan komunal membutuhkan sistem kesehatan yang lebih kuat. Pesantren dapat menjadi tempat yang strategis untuk membangun budaya hidup sehat. Edukasi mengenai skabies dapat menjadi bagian dari pendidikan kesehatan santri. Pengasuh dapat berperan mendorong santri untuk melaporkan keluhan kulit tanpa rasa malu. Orang tua dapat dilibatkan dalam pemantauan kesehatan, sementara tenaga kesehatan dapat membantu melakukan deteksi dini dan memberikan tata laksana yang tepat.

Kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keberhasilan pendidikan. Santri yang sehat memiliki kesempatan lebih baik untuk belajar, beribadah, berinteraksi, dan mengembangkan potensinya. Ketika skabies ditemukan, respons yang diperlukan bukanlah stigma, bukan pula candaan tentang “ujian menjadi santri”. Respons yang diperlukan adalah pengetahuan, pemeriksaan, pengobatan yang tepat, penanganan kontak, dan pencegahan penularan.

Pesantren tidak hanya menjadi tempat membentuk generasi yang berilmu dan berakhlak, tetapi juga menjadi lingkungan yang mampu membangun budaya hidup sehat. Santri sehat akan lebih siap belajar, lebih nyaman beribadah, dan lebih optimal dalam menjalani proses pendidikan.

Pada akhirnya, mengendalikan skabies di pesantren bukan sekadar menghilangkan rasa gatal dari kulit seorang santri. Lebih dari itu, upaya tersebut merupakan bagian dari ikhtiar membangun pesantren yang sehat, aman, dan mendukung tumbuh kembang generasi penerus bangsa.

Salah satu upaya yang dilakukan kami adalah melaksanakan Pengabdian Kepada Masyarakat Fakultas Kedokteran Unisba dengan “Pelatihan Pengolesan Obat Antiskabies pada Santri di Pesantren Nurul Huda Kota Bandung” selama 2 hari yaitu 10 dan 11 September 2026 yang memuat pemeriksaan Kesehatan dan skrining skabies serta pelatihan pengolesan obat antiskabies dan penyuluhan menegenai pola hidup bersih dan sehat.***

Leave a Response