
Ku: Ridhazia
BEGITU masuk pintu gerbang utama, Camp David, ia begitu antusias mengambi alih komando. Ia berjalan di depan saat memasuki area pendakian Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Anak kelas dua SD yang baru berusia 8 tahun itu bernama Rasfard— saya memanggil cucu saya kedua itu De Rai sebagaimana memanggil cucu pertama, Kakak All— paling terdepan selama pendakian dan kembali pulang.
Sang komandan cilik juga menghibur. Tidak ada tanda-tanda kelelahan. Malah sesekali memberi semangat. Juga memberi isyarat ” Hati-hati, jalan licin!”. Atau, “Istirahat dulu. Nanti dilanjutkan lagi!”
Ia mengagumkan. Meskipun badannya kecil, ia seperti bernafsu “menundukan” medannya tanjakan dan jalan setapak yang berbatu. Ia begitu konsentrasi jika memasuki lokasi yang memerlukan kehati-hatian.
Apalagi saat mendaki kondisinya hujan, ia seperti tahu bagaimana solusinya menghadapi medan berat di tengah hutan yang mulai gelap. Berbeda saat kembali pulang. Jalan menurun. Tapi mulai panas sepanjang jalan.
Pertama Kali
Padahal ia untuk kali pertama kali dalam hidupnya menempuh trek pendakian gunung dengan ketinggian 2.665 mdpl. Medan yang menanjak dengan kemiringan 60 derajat di atas tanah berbatu tidak memaksa memanjakan diri.
Kurang lebih lima jam perjalanan, atau 10 jam pulang pergi, dengan cuaca dingin dan hujan, sang komandan terkecil diantara delapan keluarga justru paling terdepan sampai lokasi perkemahan Ghober Hoot (2.265 MDPL).
Demikian juga ketika sekembalinya di Camp David, pertama kali ia mengambil komando. Ia tidak menunjukan kelelahan.
Padahal pendakian dan kepulangan melewati area hutan mati. Ia tak mengurangi langkahnya yang tetap hebat. Ia masih terdepan menyusuri jalan setapak dan berundak-undak di atas sisa dari erupsi besar tahun 1772, yang memberikan suasana magis dan unik. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.



