
Oleh: Ridhazia
DARI Revolusi Prancis, Revolusi Bolshevik hingga Revolusi Islam Iran. Frasa revolusi kembali menyeruak di jagat politik Indonesia setelah lama tenggelam dalam kata reformasi pada 1998.
Kali ini, frasa revolusi kembali digunakan dalam demonstrasi bertajuk “Revolusi Rakyat Indonesia” di Jakarta (25/8/25).
Akar Kata
Kata revolusi berasal dari kata Latin yaitu revolutio, yang berarti perubahan haluan.
Kata revolusi kemudian diserap ke dalam bahasa lain seperti Prancis (révolution) dan Belanda (revolutie), sebelum masuk ke bahasa Indonesia (revolusi)
Revolusi itu identik perubahan besar dan kolosal selain luar biasa. Skala dan derajatnya besar, megah, dan spektakuler dalam sosial politik dalam menentang kemapanan dan hegemoni penguasa.
Akar Sejarah
Akar sejarah revolusi sudah terjadi sejak abad 15. Tapi hanya 4 revolusi sosial politik yang paling epik di permukaan Bumi.
Satu, Revolusi Prancis (1789–1799). Pergolakan politik ini tercatat paling radikal.
Terutama karena berhasil melakukan transformasi sosial politik dimana feodalisme, aristokrasi, dan monarki diruntuhkan.
Kedua, Revolusi Rusia tahun 1917 yang dikenal sebagai Revolusi Bolshevik.
Revolusi yang digagas Vladimir Ilyich Lenin (1870-1924) karena perbedaan sosial yang sangat mencolok antara rezim Tsar dengan kaum buruh dan petani.
Ketiga, Revolusi Amerika (1765-1783), yakni perjuangan kemerdekaan dari koloni Inggris di Amerika.
Pada pada awalnya dipicu oleh penolakan terhadap pajak yang dipungut Inggris yang memuncak menjadi perlawanan bersenjata dan pembentukan negara Amerika pada 4 Juli 1776.
Keempat, Revolusi Islam Iran pada 1979. Revolusi ini tercatat sebagai revolusi mengubah tatanan kehidupan peropolitikan negara monarki menjadi negara Republik Islam Iran.
Revolusi berpangkal dari tradisi Syiah telah melahirkan para pemikir dengan agenda intelektual yang revolusioner, seperti Ali Syari’ati dan Ayatollah Ruhollah Khomeini menjadi fenomena dunia.
Bahkan revolusi Iran Islam disetarakan sebagai “revolusi besar ketiga dalam sejarah” setelah Revolusi Prancis dan Revolusi Bolshevik. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.




