LiterasiOpini

Refleksi Perjalanan 25 Tahun GPMB : Saatnya Gerakan Literasi Naik Kelas

Dewan Penasehat PP GLN Gareulis Nasional 2025-2030 Founder & CEO Padepokan Dakwah Kreatif Bandung

22views

Oleh : M Kh Rachman Ridhatullah, S.Sos, M.Si. Ketua 1 PP GPMB 2023-2027

Ada sesuatu yang terasa janggal ketika kita, para aktivis literasi GPMB, merayakan seperempat abad gerakan literasi, sementara masyarakat masih begitu mudah dipengaruhi informasi yang belum tentu benar, gampang terprovokasi potongan video, kesulitan membedakan fakta dan opini, dan sering mengambil keputusan tanpa cukup memahami persoalan. Jangan-jangan masalahnya bukan karena kita kurang melakukan kegiatan literasi. Jangan-jangan kita terlalu lama mengukur keberhasilan dari berapa banyak kegiatan yang dilakukan, bukan dari berapa banyak perubahan yang dihasilkan.

 

DI SINILAH-– 25 tahun perjalanan Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB) menjadi penting. Usia seperempat abad bukan sekadar angka untuk dirayakan. Ia adalah modal pengalaman untuk bertanya lebih berani : ke mana arah gerakan literasi Indonesia harus dibawa setelah ini? Terlebih, menurut saya, GPMB memiliki posisi yang sangat strategis untuk ikut menjawab pertanyaan tersebut. Bukan karena GPMB harus mengerjakan semuanya. Justru karena GPMB memiliki pengalaman panjang sebagai bagian dari perjalanan gerakan literasi di Indonesia, sehingga ia dapat mengambil peran yang lebih besar : menjadi penghubung, penggerak, sekaligus penguat ekosistem literasi nasional. Dari gerakan membaca menjadi gerakan perubahan.

Selama ini literasi terlalu sering dipersempit menjadi urusan membaca buku. Padahal membaca hanyalah pintu masuk. Literasi yang sesungguhnya adalah kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, menghubungkan pengetahuan dengan persoalan nyata, mengambil keputusan, memecahkan masalah, dan menggunakan pengetahuan untuk memperbaiki kehidupan. Seorang petani yang mampu membaca informasi cuaca dan harga komoditas lalu menggunakannya untuk menentukan waktu tanam, misalnya, sedang mempraktikkan literasi. Pelaku UMKM yang mampu memahami informasi pasar, menghitung risiko, membaca laporan keuangan, dan memanfaatkan teknologi digital juga sedang mempraktikkan literasi. Anak muda yang tidak langsung percaya pada video viral, tetapi memeriksa sumber dan membandingkan informasi, sedang menunjukkan literasi.

Artinya, ukuran keberhasilan literasi bukan sekadar apakah seseorang membaca. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah yang ia lakukan setelah membaca? Oleh karena itu, gerakan literasi Indonesia membutuhkan lompatan paradigma. Dari reading movement menjadi learning movement.

Dari gerakan membaca menuju gerakan belajar. Lalu, dari gerakan belajar menuju gerakan perubahan.

Di sinilah GPMB harus naik kelas.

GPMB memiliki sesuatu yang tidak bisa dibangun dalam semalam, antara lain pengalaman, identitas gerakan, jejaring, dan sejarah keterlibatan dalam isu minat baca dan literasi. Modal tersebut seharusnya tidak berhenti sebagai catatan perjalanan. Ia perlu dikonversi menjadi kapasitas kelembagaan. GPMB dapat mengambil peran sebagai orkestrator ekosistem literasi—sebuah simpul yang mempertemukan berbagai kekuatan yang selama ini bergerak di ruang masing-masing.

Pemerintah memiliki kewenangan dan sumber daya. Perpustakaan memiliki pengetahuan dan infrastruktur informasi. Sekolah memiliki peserta didik dan tenaga pendidik. Perguruan tinggi memiliki riset dan sumber daya intelektual. Komunitas memiliki kedekatan dengan masyarakat. Dunia usaha memiliki sumber daya dan inovasi. Media memiliki kemampuan membentuk percakapan publik. Keluarga adalah ruang pertama tempat kebiasaan membaca dan belajar tumbuh. Masalahnya, kekuatan-kekuatan tersebut sering kali berjalan sendiri-sendiri.

Di sinilah GPMB bisa mengambil posisi yang lebih strategis : menghubungkan yang tercerai-berai menjadi gerakan yang saling menguatkan. Bukan menjadi pemain tunggal, melainkan menjadi pengorkestra. GPMB perlu menjadi rumah bersama. Jika ingin naik kelas, GPMB juga perlu memosisikan diri bukan semata sebagai organisasi yang menjalankan program literasi, tetapi sebagai rumah bersama bagi gerakan literasi Indonesia.

Rumah yang terbuka bagi komunitas. Rumah bagi pegiat perpustakaan. Rumah bagi guru dan pustakawan. Rumah bagi akademisi. Rumah bagi anak muda. Rumah bagi dunia usaha. Bahkan rumah bagi siapa saja yang percaya bahwa pengetahuan adalah salah satu jalan untuk memperbaiki kehidupan. Posisi ini penting karena gerakan literasi tidak membutuhkan satu institusi yang paling dominan. Gerakan literasi membutuhkan simpul yang mampu mempertemukan banyak energi positif. Maka, GPMB dengan perjalanan 25 tahunnya, mempunyai alasan historis untuk mengambil peran tersebut. Tetapi jangan berhenti pada seremoni. Ada satu jebakan yang harus dihindari. Perayaan ulang tahun organisasi sering kali berakhir menjadi perayaan organisasi itu sendiri. Padahal 25 tahun GPMB semestinya menjadi kesempatan untuk memperbarui mandat.

Oleh karena itu, momentum ini layak diterjemahkan ke dalam agenda yang konkret. Misalnya, GPMB dapat mendorong peta jalan gerakan literasi berbasis dampak, bukan hanya berbasis kegiatan. GPMB juga dapat membangun mekanisme berbagi praktik baik antardaerah, memperkuat kapasitas pegiat literasi, mengembangkan indikator dampak program, dan mempertemukan hasil riset dengan praktik di lapangan. Yang tak kalah penting, GPMB dapat menjadi salah satu suara publik yang konsisten mengingatkan bahwa literasi bukan proyek musiman.

Literasi adalah investasi jangka panjang untuk kualitas manusia Indonesia. Dengan posisi seperti itu, GPMB tidak harus berebut ruang dengan lembaga lain. Sebaliknya, GPMB justru menjadi ruang yang membuat berbagai lembaga menemukan titik temu. Ukur perubahan, bukan sekadar keramaian. Sudah waktunya kita mengubah cara melihat keberhasilan. Jangan hanya menghitung jumlah buku yang dibagikan. Hitung berapa banyak orang yang kemudian membaca secara mandiri. Jangan hanya menghitung jumlah peserta pelatihan. Lihat apa yang berubah setelah pelatihan. Jangan hanya menghitung jumlah komunitas literasi. Lihat seberapa besar kapasitas mereka berkembang. Jangan hanya menghitung berapa banyak kegiatan yang berhasil diselenggarakan GPMB. Tanyakan : apa perubahan yang terjadi di masyarakat karena GPMB? Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi justru pertanyaan semacam inilah yang dapat membuat GPMB semakin matang sebagai organisasi. Sebab organisasi yang dewasa bukan organisasi yang tidak pernah dikritik. Organisasi yang dewasa adalah organisasi yang berani mengukur dirinya sendiri dengan standar yang lebih tinggi.

Epilog : Babak kedua GPMB

Usia 25 tahun sebaiknya tidak dibaca sebagai tanda bahwa perjalanan telah panjang. Sebaliknya, ia harus dibaca sebagai modal untuk melangkah lebih jauh. Babak kedua GPMB harus lebih berani. Berani memperluas definisi literasi. Berani membangun kolaborasi. Berani mengembangkan ukuran dampak. Berani memanfaatkan teknologi. Berani mendengar komunitas di lapangan. Dan yang paling penting, berani meninggalkan cara-cara lama yang tidak lagi cukup menjawab persoalan baru.

Indonesia hari ini tidak kekurangan informasi. Yang kita kekurangan adalah kemampuan untuk mengubah informasi menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi kebijaksanaan, dan kebijaksanaan menjadi tindakan. Di titik itulah GPMB dapat menemukan relevansinya yang baru. Bukan sekadar mengajak masyarakat membaca, tetapi mengajak bangsa ini belajar memahami dirinya sendiri. Maka, 25 tahun GPMB jangan berhenti sebagai perayaan. Jadikan ia deklarasi bahwa gerakan literasi Indonesia siap naik kelas. Dari kegiatan menuju dampak. Dari organisasi menuju ekosistem. Dari gerakan membaca menuju gerakan belajar. Akhirnya, dari gerakan belajar menuju perubahan sosial.

Sejarah GPMB tidak akan ditentukan oleh seberapa meriah kita merayakan 25 tahun perjalanan. Sejarah itu akan ditentukan oleh satu hal yang jauh lebih sederhana : apakah setelah 25 tahun, GPMB mampu membuat semakin banyak orang Indonesia bukan hanya gemar membaca, tetapi mampu berpikir, memahami, mengambil keputusan, dan bergerak memperbaiki kehidupannya? Kalau jawabannya kelak “ya”, maka 25 tahun bukanlah puncak perjalanan GPMB. Itulah titik ketika GPMB benar-benar mulai memainkan peran yang lebih besar bagi masa depan literasi Indonesia. Wallahu a’lam bishawwab. Cikarang, 29 Sept 2026 – 17 : 45 WIB. **  Dewan Penasehat PP GLN Gareulis Nasional 2025-2030,  Founder & CEO Padepokan Dakwah Kreatif Bandung

Editor : Rianto Muradi

 

Leave a Response