LiterasiOpini

(Pengabdian Kepada Masyarakat Prodi Ilmu Perpustakaan FISIP UWKS) Sebuah Esai : Jantung Realitas dan Empirisme Paradok

Bambang Prakoso Dosen ilmu Perpustakaan FISIP UWKS, Penulis, Pegiat Literasi

71views

Oleh Bambang Prakoso

Di bawah relung langit yang merdu, tepat di sela-sela nisan kuno Makam Mataram Dukuh Kupang, sebuah realitas yang paradoks sedang dipentaskan. Setiap hari Rabu, pukul 13.00 hingga menjelang Asar, ruang sunyi yang biasanya menjadi muara akhir kehidupan, bertransformasi menjadi hulu harapan bagi sekitar seratus anak dari jenjang PAUD, TD, SD, hingga SMP.Di sinilah mereka berkumpul jiwa-jiwa polos berseragam sekolah yang masih menyisakan keringat siang berebut ruang dengan sejarah dan keheningan makam untuk membaca buku, mengeja aksara, menggambar, dan merajut tawa, bergembira.

FENOMENA  ini bukan sekadar potret aktivitas literasi biasa, melainkan sebuah tamparan keras bagi diskursus akademik yang sering kali terjebak dalam menara gading. Ketika berbicara tentang kemiskinan, keterpurukan, dan marginalisasi, dunia intelektual kita sering kali terlampau sibuk mengunyah data, grafik, dan statistik empiris. Namun, pendekatan empirisme yang canggih itu kerap kali gagal menyentuh detak jantung realitas yang sesungguhnya.

Indikator kuantitatif makro sering kali direduksi menjadi komoditas retorika dalam ruang-ruang akademik, seminar hingga panggung politik, sekadar alat pemuas bagi pembuat kebijakan untuk berdebat tentang “keadaan”. Angka-angka kemiskinan dipoles, tetapi wajah asli kemiskinan itu sendiri diasingkan dari kesadaran sosial kita.

Di Makam Mataram ini, retorika itu runtuh. Realitas tidak hadir dalam bentuk persentase, melainkan dalam wujud sosok-sosok masa depan yang terlahir dalam kondisi ekstrem, dimarjinalkan. Mereka adalah anak-anak yang lahir tanpa pernah tahu siapa dan di mana ayah mereka, anak-anak yatim-piatu yang kehilangan jangkar hidup, hingga anak-anak dari orang tua dengan gangguan jiwa.

Latar belakang mereka begitu kompleks, berkelindan dalam labirin kemiskinan struktural dan trauma psikologis. Seperti kisah memilukan tentang seorang anak kecil yang dipaksa tidur di bawah kolong meja makan setiap kali ibunya menerima tamu (hidungbelang) dan masih banyal lagi cerita yang mengaduk-aduk perasaan.

Potret dehumanisasi yang terjadi tepat di bawah hidung peradaban yang mengaku modern, ditengah kota urban Surabaya. Mereka semua berkumpul di sana, tumbuh dalam pelukan semesta yang sunyi, jauh dari jangkauan jaring pengaman negara. Namun, di tengah pekatnya kesunyian itu, keajaiban kemanusiaan menolak untuk mati.

Para penyumbang artikulasi bangsa, para pegiat literasi dari Yayasan Pondok Kasih yang bersinergi dengan warga lokal sekitar makam dan Prodi Ilmu Perpustakaan FISIP UWKS hadir sebagai perpanjangan tangan Tuhan. Mereka adalah para pribadi luhur yang tidak datang membawa teori-teori sosiologi yang rumit atau janji-janji politik yang muluk. Mereka datang dengan modal paling murni spirit cinta kasih terhadap sesama.

Kehadiran mereka menyapa hati-hati yang telanjur beku oleh kerasnya hidup, menetesi batin yang haus akan validasi, dan memeluk anak-anak ini dengan kehangatan yang tulus. Melalui tumpukan buku dan kesabaran mengeja huruf demi huruf, mereka membawa seberkas cahaya harapan bagi anak-anak marjinal kota urban ini, hari Rabu jam satu siang adalah sebuah oase. Antusiasme mereka memancar tanpa kepura-puraan. Ada yang membaca buku dengan kening berkerut serius, ada yang terbata-bata mengeja aksara baru, dan ada pula yang sekadar meluapkan energi masa kecilnya dengan bermain bebas.

Ruang makam yang magis, mistis kehilangan dayanya berubah menjadi ruang kelas terbuka yang penuh daya hidup. Kehadiran para pegiat literasi ini menjadi momen yang paling dinanti, sebuah jeda yang berharga sebelum jarum jam menunjukkan pukul tiga sore waktu di mana anak-anak itu harus menyudahi petualangan literasinya untuk pulang dan bergegas pergi mengaji.

Gerakan literasi di Makam Mataram ini mengajarkan kita sebuah esensi penting tentang kemanusiaan. Ketika data empiris mulai kehilangan jiwanya dan berubah menjadi retorika kosong, maka tindakan nyatalah yang menjadi penyelamat.

Melalui sinergi antara pegiat literasi, warga lokal dan Prodi Ilmu Perpustakaan UWKS, kita sama-sama belajar bahwa untuk mengubah masa depan bangsa, kita tidak selalu harus menunggu perubahan sistem dari atas. Terkadang, yang kita butuhkan hanyalah keberanian untuk turun ke ruang-ruang paling sunyi, memeluk mereka yang terlupakan, dan menyalakan lilin kecil di atas nisan, agar anak-anak itu tahu bahwa mereka masih memiliki harapan. ** Bambang Prakoso Dosen ilmu Perpustakaan FISIP UWKS, Penulis, Pegiat Literasi

Editor : Rianto Muradi

Leave a Response