Bandung Raya

Program Zero Waste Unisba Jadi Model Pengelolaan Sampah Kampus, Universitas Al Ghifari Lakukan Benchmarking

21views

METRO BANDUNG, bandungpos.id– Program Zero Waste yang dikembangkan Universitas Islam Bandung (Unisba) semakin mendapat pengakuan sebagai model pengelolaan sampah di lingkungan perguruan tinggi. Keberhasilan tersebut mendorong Universitas Al Ghifari melakukan kunjungan benchmarking guna mempelajari konsep dan implementasi pengelolaan sampah berkelanjutan yang telah diterapkan Unisba.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Rektorat Unisba, Selasa (11/8/2026), menjadi wadah pertukaran pengetahuan sekaligus memperkuat sinergi antarkampus dalam membangun budaya peduli lingkungan melalui sistem pengelolaan sampah yang terpadu.

Delegasi Universitas Al Ghifari dipimpin jajaran pimpinan universitas, mulai dari Wakil Rektor I, Wakil Rektor II, Wakil Rektor III, Direktur Pendidikan Tinggi, Direktur Khusus, Ketua LPPM, Ketua Pusat Studi Perubahan Iklim dan Manajemen Bencana, Sekretaris Pusat Penelitian, anggota pusat studi, hingga Humas. Kehadiran mereka diterima langsung oleh Ketua LPPM Unisba bersama tim Program Zero Waste.

Kunjungan tersebut bertujuan menggali pengalaman Unisba dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang tidak hanya terstruktur, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata terhadap lingkungan kampus.

Sekretaris LPPM Unisba sekaligus Koordinator Program Zero Waste, Dr. Titik Respati, drg., M.Sc.PH., mengatakan Universitas Al Ghifari memiliki perhatian yang besar terhadap isu pengelolaan sampah sehingga ingin mempelajari praktik yang telah dijalankan Unisba.

“Universitas Al Ghifari juga sangat peduli terhadap persoalan sampah. Mereka tertarik mempelajari program yang kami jalankan karena memiliki sistem yang jelas dan manfaatnya dapat dirasakan secara langsung,” ujarnya.

Selain mengikuti sesi diskusi, rombongan Universitas Al Ghifari juga meninjau Saung Kompos di Kampus Utama Unisba. Di lokasi tersebut, mereka melihat secara langsung proses pengelolaan sampah internal, mulai dari pemilahan, pengolahan, hingga pemanfaatan kembali sebagai bagian dari penerapan prinsip ekonomi sirkular.

Menurut Dr. Titik, pengelolaan sampah harus dimulai dari lingkungan kampus melalui perubahan pola pikir seluruh sivitas akademika. Sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, tetapi sebagai sumber daya yang dapat diolah dan dimanfaatkan kembali.

Zero Waste Perkuat Tri Dharma Perguruan Tinggi

Keunggulan Program Zero Waste Unisba tidak hanya terletak pada aspek lingkungan, tetapi juga pada integrasinya dengan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Program tersebut melibatkan dosen dan mahasiswa dalam kegiatan penelitian serta pengabdian kepada masyarakat sehingga memberikan nilai tambah bagi proses pendidikan.

“Program Zero Waste bukan hanya mengubah perilaku warga kampus terhadap sampah, tetapi juga menghadirkan manfaat akademik bagi institusi, dosen, dan mahasiswa. Pendekatan seperti inilah yang dinilai layak untuk diadopsi oleh perguruan tinggi lain,” jelas Dr. Titik.

Ia menambahkan, kunjungan ini juga membuka peluang kerja sama antara Unisba dan Universitas Al Ghifari, khususnya dalam pengembangan program pengabdian kepada masyarakat yang berkaitan dengan pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan.

“Kami siap menjadi mitra berbagi pengalaman tentang bagaimana membangun Program Zero Waste yang dirancang secara sistematis, menyeluruh, berdampak, dan berkelanjutan,” katanya.

Menurutnya, kepercayaan yang diberikan perguruan tinggi lain menjadi bukti bahwa Program Zero Waste Unisba telah berkembang sebagai praktik baik yang dapat direplikasi di berbagai kampus di Indonesia.

Universitas Al Ghifari Siapkan Implementasi di Kampus

Wakil Rektor III Universitas Al Ghifari, Nuchrodin, S.Ag., M.Pd., mengatakan pihaknya ingin menerapkan sistem pengelolaan sampah secara mandiri dengan menjadikan pengalaman Unisba sebagai referensi utama.

“Kami ingin belajar bagaimana sampah dapat dikelola di lingkungan kampus sendiri. Selama ini sampah selalu dibawa keluar, sedangkan ke depan kami ingin mulai mengolahnya secara mandiri,” ujarnya.

Sebagai tahap awal, Universitas Al Ghifari akan memperkuat budaya memilah sampah di kalangan sivitas akademika. Saat ini fasilitas pemisahan sampah organik dan anorganik telah tersedia sebagai langkah awal membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih baik.

“Kami masih berada pada tahap awal. Fokus kami sekarang adalah menumbuhkan kesadaran warga kampus agar terbiasa memilah sampah sebelum dibuang. Kebiasaan itu masih perlu terus dibangun,” katanya.

Usai kegiatan benchmarking, Universitas Al Ghifari berkomitmen melanjutkan komunikasi dengan Unisba untuk memperdalam penerapan Program Zero Waste serta menyesuaikannya dengan kebutuhan dan karakteristik kampus mereka.

“Mudah-mudahan kami dapat menerapkan dan mengembangkan praktik baik yang telah dijalankan Unisba sehingga pengelolaan sampah di kampus kami menjadi lebih optimal,” pungkasnya.(ask)***

Leave a Response