Ngopi Literasi: Berbagi Praktik Baik, Menguatkan Literasi, Mendorong TBM Semakin Berdampak bagi Masyarakat
Dian Ratnasari, S.Pd. — Pengelola Saung Baca Sekolah Inspiratif

KOTA BANDUNG, Bandungpos, — Gerakan literasi berbasis masyarakat terus berkembang dan menunjukkan peran pentingnya dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Semangat tersebut hadir dalam kegiatan Talkshow “Ngopi Literasi: Berbagi Praktik Baik, Menguatkan Literasi” yang diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian Pages & Plates, Big Bad Wolf Books, bersama Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung. Kegiatan yang berlangsung di Bikasoga Sport Center, Bandung, ini menjadi ruang berbagi pengalaman dan praktik baik para pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dalam mengembangkan gerakan literasi yang dekat dengan masyarakat, kreatif, kolaboratif, dan memberikan dampak nyata.
Demikian diungkapkan Rd. Nonih Suarsih, S.Pd., Pengelola TBM Sukamulya Cerdas sekaligus Pendiri Kampung Wisata Literasi Cinambo kepada awak media, hari ini. di ruang kerjanya.
Lebih lanjut Ny. Nonih mengungkapkan, keseruan kegiatan diawali dengan musikalisasi puisi oleh Adewe Habtsa dari Asia Africa Reading Club. Perpaduan antara sastra dan musik tersebut menghadirkan suasana yang hangat sekaligus menunjukkan bahwa literasi dapat hadir melalui berbagai bentuk ekspresi seni yang menyenangkan dan dekat dengan generasi muda. Kegiatan dilanjutkan dengan talkshow yang menghadirkan tiga narasumber yang memiliki pengalaman dalam mengembangkan gerakan literasi di berbagai ruang masyarakat, yaitu: Rd. Nonih Suarsih, S.Pd. — Pengelola TBM Sukamulya Cerdas sekaligus Pendiri Kampung Wisata Literasi Cinambo. Dian Ratnasari, S.Pd. — Pengelola Saung Baca Sekolah Inspiratif dan Heri Djuhaeri, S.S. — Pengelola Rumah Baca Taman Sekar Bandung sekaligus Pengurus Pusat Forum TBM. “Ketiganya berbagi pengalaman tentang bagaimana TBM dapat tumbuh dari inisiatif masyarakat, dikelola dengan kreativitas, serta dikembangkan menjadi ruang belajar dan pemberdayaan yang menjawab kebutuhan warga, ” katanya.
Ditegaskan Ny. Noniih, TBM bukan sekadar tempat menyimpan dan meminjamkan buku. TBM dapat menjadi ruang belajar sepanjang hayat, ruang bertemu masyarakat, ruang berkarya, ruang pengembangan keterampilan, sekaligus ruang pemberdayaan. Berbagai aktivitas yang dilakukan TBM dapat mencakup kegiatan membaca, mendongeng, pelatihan keterampilan, kreativitas anak, penguatan literasi keluarga, literasi digital, kegiatan seni dan budaya, hingga program pemberdayaan masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, TBM dapat mengambil peran sebagai salah satu simpul pendidikan nonformal yang hadir di tengah masyarakat dan memberikan kesempatan belajar secara lebih fleksibel dan kontekstual. Hal ini tambah Nonih, sejalan dengan Keputusan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 3 Tahun 2024 tentang Panduan Pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat Desa. Dalam panduan tersebut, TBM disebut sebagai lembaga atau unit layanan yang dikelola masyarakat untuk memberikan akses bahan bacaan dan sumber belajar, serta secara eksplisit ditempatkan sebagai bagian dari pendidikan nonformal untuk membudayakan kegemaran membaca masyarakat.
Kebijakan tersebut menjadi momentum penting bagi gerakan TBM karena memberikan penguatan terhadap keberadaan TBM dalam pembangunan masyarakat, khususnya di tingkat desa. Ketika masyarakat memiliki akses terhadap bahan bacaan, ruang belajar, informasi, dan kesempatan mengembangkan keterampilan, maka literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis. Literasi dapat berkembang menjadi kemampuan masyarakat untuk belajar, berpikir kritis, mengambil keputusan, berkarya, serta meningkatkan kapasitas dirinya.
Sementara itu Heri Djuhaeri, S.S, Pengelola Rumah Baca Taman Sekar Bandung mengatakana, .program TBM yang menyasar anak-anak, keluarga, remaja, hingga masyarakat umum dapat mendukung peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan kualitas pembelajaran masyarakat. Dalam jangka panjang, berbagai proses tersebut dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mendukung pencapaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Dengan demikian, keberadaan TBM perlu dipandang bukan hanya sebagai gerakan sosial di bidang buku dan membaca, tetapi juga sebagai investasi sosial dalam pembangunan manusia.
Dian Ratnasari, S.Pd. Pengelola Saung Baca Sekolah Inspiratif menegaskan, sejalan dengan semakin luasnya peran TBM di masyarakat, penguatan posisi TBM dalam ekosistem pendidikan nonformal menjadi salah satu isu penting yang terus didorong oleh Forum Taman Bacaan Masyarakat (Forum TBM). Forum TBM mendorong agar keberadaan dan kontribusi TBM semakin mendapatkan pengakuan dan ruang yang kuat dalam kebijakan pembangunan, termasuk melalui penguatan regulasi di lingkungan Kementerian Dalam Negeri. Talk Show Ngopi Literasi dalam event The Book Sale Expresierience By Bic Bad Wold Books kerja bareng Disarpuas Kota Bandung dipandu Gita Auliya.S.Pd, di Bikasoga Sport Center Kota Bandung. **( Nicky P/ RM/BNN)





