Kolom Sosial Politik

“Pokoknya Ada”

241views

 

Oleh: Ridhazia

FRASA  “pokoknya ada” menjadi viral setelah dinyatakan Seskab Teddy Indra Wijaya terkait program pasar murah di kawasan Monas, Jakarta.

Jawaban singkat dengan gaya komunikasi yang lugas dari mantan ajudan Presiden Jokowi dan Presiden Prabowo itu alih-alih menjelaskan, malah menyisakan keraguan publik.

Ambigu

Dalam perspektif ilmu komunikasi, frasa singkat “pokoknya ada” itu sebagai ambigu, yakni pernyataan dengan keragu-raguan dan ketidakpastian tinggi.

Mungkin saja, sedang dalam tekanan karena ada situasi yang tak jelas, atau karena data dan informasi yang tak lengkap hingga ia gagap berkomunikasi dengan media.

Menjaga Status Quo

Frasa pendek ” pokoknya ada” yang menurut psikiater Robert Jay Lifton (1927-2025) bisa dimaknai sebagai pernyataan untuk menghentikan pemikiran kritis dan menutup dialog. Bahkan untuk menjaga status quo.*

   * Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response