Perpustakaan Sebagai Episentrum Pengetahuan
Bambang Prakoso (Dosen Ilmu Perpustakaan FISIP UWKSO)
Oleh Bambang Prakoso (Dosen Ilmu Perpustakaan FISIP UWKSO)
Cendekiawan muslim tidak bisa dilepaskan dari bacaan dan perpustakaan. Pada tahun 786-809 M. Khalifah Harun al-Rashid mendirikan Rumah Kebijaksanaan yang sekaligus perpustakaan sebagai sentrum. Perpustakaan ini mencapai masa kejayaannya saat putra Khalifah Harun al-Rashid, yakni Khalifah al-Mamun memerintah pada 813-833 M. Khalifah al-Mamun membawa banyak cendekiawan terkenal untuk berbagi informasi, gagasan, dan budaya di Rumah Kebijaksanaan.
PERPUSTAKAAN– sebagai lumbung pengetahuan umat manusia khususnya kaum intelektual “kalau shalat tiangnya agama maka perpustakaan adalah tiangnya peradaban”. Sekolah adalah perpustakaan yang dikelilingi kelas-kelas lalu ada kegiatan belajar mengajar memanfaatkan seluruh sumber informasi dari perpustakaan. Begitupun kampus, kampus adalah perpustakaan yang dikelilingi kelas-kelas lalu ada kegiatan belajar mengajar, dialektika para akademisi, ilmuan, peneliti, guru, siswa, dan seluruh insan pendidikan yang menambang informasi dari perpustakaan, lembaga pendidikan tanpa perpustakaan akan gagal dan batal.
Cendekiawan muslim tidak bisa dilepaskan dari bacaan dan perpustakaan. Pada tahun 786-809 M. Khalifah Harun al-Rashid mendirikan Rumah Kebijaksanaan yang sekaligus perpustakaan sebagai sentrum. Perpustakaan ini mencapai masa kejayaannya saat putra Khalifah Harun al-Rashid, yakni Khalifah al-Mamun memerintah pada 813-833 M. Khalifah al-Mamun membawa banyak cendekiawan terkenal untuk berbagi informasi, gagasan, dan budaya di Rumah Kebijaksanaan.
Perpustakaan Baytul Hikma yang dikenal dengan nama Rumah Kebijaksanaan adalah salah satu perpustakaan terbesar umat Islam pada masanya. Perpustakaan yang berdiri di Baghdad, Irak ini menjadi tempat para cendekiawan Muslim dan cendekiawan agama lain berkumpul.
Rumah Kebijaksanaan berdiri pada abad ke-9 hingga ke-13 di Baghdad, Irak. Perpustakaan ini memperbolehkan cendekiawan Muslim, Hindu, Yahudi, dan Kristen belajar di sana. Mereka menerjemahkan buku-buku ke dalam bahasa Arab dan melestarikannya. Para sarjana di Rumah Kebijaksanaan membuat banyak karya hebat dan berjasa di berbagai bidang.
Bangunan Rumah Kebijaksanaan terdiri dari perpustakaan, biro terjemahan, observatorium, ruang baca, tempat tinggal para ilmuwan, dan gedung administrasi. Salah satu ulama yang pernah dipekerjakan di sana adalah Elan al-Sha’oobi. Di bawah pengawasannya, banyak naskah kuno disalin. Sementara, Abu Sahal dan Abu al-Fazal bin Naubakht mengemban tugas memperluas dan memperkaya perpustakaan.
Menteri Yahya bin Khalid Barmaki pernah mengundang para cendekiawan Hindu untuk menerjemahkan buku-buku berbahasa Sansekerta ke dalam bahasa Arab di Rumah Kebijaksanaan. Karena Yahya Barmaki adalah orang Iran, dia juga memiliki banyak buku Persia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Abu Sahal dan Abu al-Fazal.
Para pribadi luhur yang menggandrungi pengetahuan dari berbagai negara didunia ini tidak berjarak dengan bacaan, terutama bacaan tekstual. Mereka juga membaca secara kontekstual, mereka sangat literate daya juang pribadi pembelajar yang organik, untuk mendapat pengetahuan tidak peduli apa yang dikorbankan, sejauhmana jarak yang ditempuh, merka membaca, memahami, menganalisi, memahami persoalan, dan tau cara mengurai persoalan, inilah sesungguhya literasi.
Buku bukan segalanya tapi segalanya bisa dimulai dari buku, artefak peradaban yang disebut “buku’’, magnum opus, kitab-kitab, manuskrip, hasil penelitian, hasil pemikiran ide gagasan lintas disiplin ilmu semua bermuara diperpustakaan, sebab itulah perpustakaan disebut episentrum pengetahuan, lokomotif perubahan peradaban umat manusia.
Pengetahuan adalah anugrah yang tak ternilai dari Sang Maha Misteri, bahkan dalam Islam wahyu pertama yang turun menyoal pengetahuan dan ketauqidan (Iqro) pengetahuan ini pemandatan semesta jika tidak kita akses, tidak diakrab’i maka kita kufur nikmat. Tidak ada medium lain selain ilmu pengetahuan menuju titik capaian tertentu dan semua itu sudah terhampar di perpustakaan. Perpustakaan adalah kuil universal dan juga firdaus agung bagi para cindekia yang merawat akal budi dan kejernihan ruhani. ** Penulis Ketua PD GPMB Provinsi Jawa Timur, Dosen Ilmu Perpustakaan FISIP UWKS, Bertempat tinggal di Surabaya





