Oleh Bambang Prakoso (Dosen Ilmu Perpustakaan FISIP UWKS dan Ketua GPMB Jatim0)
Mudik adalah kultur yang diakrab’i masyarakat Indonesia, Kembali kepada diri kepada kemurnian. Leluhur kita mengajarkan pulang kampung bukan hanya menemui rumah, orang tua, saudara, membersihkan makam tetapi menemui dirimu sendiri, kata Rumi “sejauh-jauh pengembaraan adalah kedalam diri”. Bukan hanya leluhur kita tetapi para filsuf juma melakukan mudik lebaran untuk refleksi.
RUMI– tak sempat membawa kue kering, tapi ia membawa puisi. Di ruang tamu yang penuh sanak saudara, ia membacakan bait-bait tentang cinta dan kerinduan. Semua mendengarkan, meski tak semuanya mengerti, tapi hati mereka menghangat.
“kita semua sedang dalam perjalanan pulang,” ucapnya. Bahkan jika rumah itu belum kita temukan. Rumah keabadian tempat jiwa-jiwa damai berlabuh.
Sarte, pulang dengan kantung kosong tapi hati penuh tanya. Ia duduk diteras rumah sambil menatap langiT, bertanya pada dirinya sendiri “Apakah aku memilih pulang, atau aku hanyalah akibat dari pilihan-pilihan yang tidak kutolak?”
Ibunya menyodorkan ketupat, dan Sarte tersenyum, sebab dalam absurditas dunia, ketupat adalah satu dari sedikit hal yang bisa diterima tanpa perlu alasan. Sarte juga tidak perlu banyak alasan untuk memahami makna, historis, filosofis ketupat, ya Sarte tidak mengenal Sunan Kalijogo Filsuf Jawa yang melahirkan ide membuat “ketupat” sebagai simbul eksitensialisme juga transcendental.
Istilah “ketupat” atau “kupat” dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari “ngaku lepat,” yang berarti mengakui kesalahan. Tradisi sungkeman saat Lebaran menjadi implementasi dari konsep ini, di mana seseorang bersimpuh di hadapan orang tua atau kerabat yang lebih tua untuk memohon ampun.
Nietze tidak membawa oleh-oleh selain kegelisahan. Di meja makan Ketika ditanya “Kapan menikah?”, ia menjawab pelan, “Manusia unggul tidak tunduk pada kontruksi sosial.” Keluarganya diam, lalu tertawa, memganggap yang disampaikan Nietze adalah komedis dengan selera humor sufiketed.
Semua adalah kontruksi sosial kecuali mengandung, melahirkan, menyusui, haid itu hanya bisa dilakukan oleh Perempuan, tapi perkembangan TI sampai AI begitu dinamis hiangga absurditas hampir mencapai puncak, kita semakin mendekati zaman utopia dimana eksistensial manusia semakin absurd.
Kierkegaard duduk sendirian di pojok mushola. Ia baru saja bersalaman dengan banyak ratusan tangan, tapi tetap merasa sepi. “Kesunyian,” bisiknya, “adalah doa yang tak pernah membutuhkan kata.”
Dalam kesendirian itu, ia mengingat cinta yang tak sempat ia perjuangkan, dan merasa bahwa pulang bukanlah tentang tempat, tetapi tentang keberanian menghadapi bayangan sendiri.
Camus naik bus terakhir, pulang kekampunya yang sunyi senyap. Di halte, ia menulis catatan kecil : “ditengah hiruk pikuk silaturahmi, kita justru sadar bahwa hidup tidak harus selalu mengerti, cukup dijalani.
Ketika pinta rumah dibuka, dan aroma opor menusuk indra penciumanya, Camus merasa: absurditaspun bisa beristirahak sejenak oleh aktivitas kontruksi sosial dari dapur.
Banyak diatara kita yang senang ngobrol dari pada selfie jika bertemu sanak-saudara dikampung. Plato juga tidak suka selfie, ia sibuk berdialog. Ketika anak-anak sepupunya bertanya, “Kenapa lebaran selalu harus pulang?” ia menjawab ”kerena jiwa kita rindu pada bentuk yang sejati-yanki cinta yang tanpa syarat dari rumah, dari kampung.”
Anak-anak bingung lalu mengajak Plato maen petasan, Plato melakukan dengan tanpa syarat karena itu yang ia rindukan, menemukan makna dan cita kampung.
Simone de Beauvoir duduk berdampingan dengan neneknya. Ia tahu, menjadi Perempuan yang mandiri di kota bukan hal mudah. Tapi di rumah, ia Kembali menjadi cucu yang menyuapi, mencium tangan, dan mendengarkan kisah-kisah.
“Kebebasan,” pikiranya, “bukan berarti tak pulang. Tetapi memilih untuk pulang tanpa kehilangan diri sendiri.
Dostoyevsky membaca doa dalam hening, melangitkan haparan membumikan tindakan. Ia tahu banyak ia kecewakan, banyak banyak luka yang belum sembuh, tapi ia datang. Sebab baginya, pulag adalah pengakuan, dan lebaran adalah momentum pengampunan meski tak selalu diucapkan, tapi selalu diharapkan.
Schopenhauer pulang dengan pesimisme yang dilipat rapi di dalam koper. Di ruang keluarga, ia duduk tanpa banyak bicara. Ketika ditanya, “kenapa pendiam sekali?” ia hanya menjawab, “Kehidupan adalah penderitaan yang diselimuti ilusi. Tapi baiklah, aku coba makan ketupat dengan damai.”
Bahkan ia tahu, dalam kegetiran menjalani tugas kehidupan, kadang keluarga adalah penghibur yang tidak masuk akal, tatpi tetap nyata.
Franz kafka memeluk ibunya sambil merasa seperti tokoh dalam cerpenya sendiri. Di meja makan, ia merasa tubuhnya transparan. Ia menjawab salam, namun dalam hatinya ia mencatat absurditas obrolan. Ketika pamanya kapan menikah, ia membatin, “Apakah aku harus menjelaskan tentang transformasi menjadi kecoak dulu agar mereka paham agar mereka paham?”
Tapi Kafka tahu, lebaran bukan ruang untuk menjelaskan, tapi menerima bahwa ketidakpahaman pun adalah bagian bentuk dari cinta, yang butuh alasan untuk ditolak.
Osamu Dazai menyusuri gang sempit menuju rumahnya sambil membawa sekeranjang ketidakseimbangan. Wajahnya tersenyum tapi pikiranya gelap. Ia ditanya, “Kapan bisa Bahagia?” dan ia ingin menjawab: barangkali saat aku berhenti mencoba menjelaskan siapa aku.”
Tapi ia memilih diam, karena bahkan dalam diam, Dazai tahu: pulang adalah satu-satunya cara agar kesepian tidak menjadi satu-satunya rumah.
Kahlil Gibran mencium tangan ibunya seperti mencium nandi bumi. Ia tak banyak berkata-kata, hanya memeluk dan membisikan puisi dalam hati: “Cinta bukanlah memiliki tapi hadir meski tak dimengerti”. Ketika semua sibuk berfoto, ia menulis diujung sajadah: “Kita tidak pernah sungguh-sungguh pulang jika tidak membawa pulang kedamaian.”
Hidup adalah rekaat panjang pada hamparan sajadah semesta, ditengah kegetiran dalam menjalankan tugas kehidupan sebagai makhluk sosial. Pulang adalah jalan menemukan diri, kemurnian, kejernihan, berhenti sejenak dari absurditas juga kontruksi sosial yang membelenggu.**Bambang Prakoso
Dosen Ilmu Perpustakaan FISIP UWKS dan Ketua GPMB Jatim




