
BANDUNG. BANDUNGPOS (4/11/2026). Di tengah derasnya arus budaya populer dan perubahan selera masyarakat, keberadaan seni tari klasik Sunda menghadapi tantangan besar. Bukan semata-mata soal berkurangnya ruang pertunjukan, melainkan juga menyangkut keberlanjutan pewarisan karya, pengetahuan, dan keterampilan dari generasi terdahulu kepada generasi berikutnya.
Di tengah tantangan tersebut, Paguyuban Seni Sunda Galih Pakuan berupaya mengambil bagian dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya Tatar Sunda. Salah satu langkah nyatanya diwujudkan melalui penyelenggaraan Pagelaran Ibing Sunda Galih Pakuan 2026, yang dijadwalkan berlangsung pada 6 November 2026 di Gedung Pusat Kebudayaan Jawa Barat, Kota Bandung.
Pagelaran ini bukan sekadar menghadirkan tontonan seni tradisional. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk menghidupkan kembali khazanah tari klasik Sunda, mengenang karya para maestro, sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat luas, terutama generasi muda atau Generasi Z.
Semangat pelestarian dan regenerasi tersebut mengemuka dalam konferensi pers Pagelaran Ibing Sunda Galih Pakuan 2026 di Hotel Savoy Homann Bandung, Selasa (3/11/2026). Hadir dalam kesempatan itu Ketua Umum Paguyuban Galih Pakuan Risyani, maestro tari Sunda sekaligus Pembina Galih Pakuan Indrawati Lukman, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat Iendra Sofyan, serta sutradara pagelaran Dida Marganan.
Empat Pilar Menjaga Keberlangsungan Budaya
Pelestarian seni tradisi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Tidak cukup hanya mengandalkan para seniman dan komunitas budaya, tetapi juga memerlukan dukungan pemerintah serta partisipasi masyarakat, khususnya generasi penerus.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat, Dr. Iendra Sofyan, menjelaskan bahwa upaya menjaga kebudayaan harus dilakukan secara berkesinambungan melalui empat pilar utama, yakni perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan.
Perlindungan diarahkan untuk menjaga karya serta warisan budaya agar tidak hilang. Pengembangan memberikan ruang bagi kesenian tradisional untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar dan identitasnya.
Sementara itu, pemanfaatan diwujudkan melalui berbagai kegiatan pertunjukan dan aktivitas kebudayaan yang memungkinkan masyarakat berinteraksi langsung dengan warisan seni. Adapun pembinaan ditujukan untuk menyiapkan generasi penerus agar memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepedulian terhadap kebudayaan daerah.
Iendra menekankan pentingnya memperkenalkan seni tradisi kepada Generasi Z. Generasi muda tidak cukup hanya mengetahui keberadaan kesenian daerah melalui cerita atau dokumentasi, tetapi perlu diberi kesempatan untuk menyaksikan, mempelajari, bahkan terlibat langsung dalam aktivitas kesenian.
Terkait keberadaan sanggar-sanggar seni yang mulai berkurang aktivitasnya, pemerintah provinsi bersama dinas kebudayaan kabupaten dan kota tengah melakukan penelusuran serta pendataan untuk mengetahui kondisi komunitas dan sanggar seni di berbagai daerah.
Pendataan tersebut diperlukan agar dapat diketahui sanggar yang masih aktif, yang mengalami kesulitan, maupun yang membutuhkan perhatian dan dukungan lebih lanjut.
Selain itu, upaya perlindungan warisan budaya juga dilakukan melalui pencatatan dan penetapan secara berjenjang, mulai dari tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional.
Dukungan pemerintah, menurut Iendra, tidak hanya berkaitan dengan anggaran, tetapi juga penyediaan fasilitas kebudayaan. Gedung pusat kebudayaan dan amfiteater, misalnya, dapat dimanfaatkan sebagai ruang ekspresi bagi para seniman untuk berkarya, berlatih, dan menampilkan pertunjukan kepada masyarakat.
Indrawati Lukman Terharu, Karya Maestro Kembali Dihidupkan
Salah satu bagian penting dari Pagelaran Ibing Sunda 2026 adalah upaya menghadirkan kembali karya-karya tari klasik yang pernah mewarnai perjalanan seni budaya Sunda.
Bagi maestro tari Sunda sekaligus Pembina Galih Pakuan, Indrawati Lukman, penyelenggaraan pagelaran ini memiliki makna yang sangat mendalam.
Ia mengaku terharu melihat kesungguhan Galih Pakuan dalam mengangkat kembali tarian tradisional, lengkap dengan kekuatan iringan karawitan Sunda, termasuk tabuhan kendang yang menjadi salah satu unsur penting dalam karakter tari Sunda.
Sebagai seniman tari yang telah berkecimpung sejak 1955, Indrawati memiliki perjalanan panjang dalam dunia tari. Ia menyaksikan bagaimana karya-karya para maestro tumbuh, berkembang, dan menjadi bagian penting dari khazanah seni pertunjukan Sunda.
Karena itu, melihat generasi muda kembali mempelajari dan membawakan karya-karya tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri baginya.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan penari dari berbagai kelompok usia, mulai dari generasi muda hingga mereka yang telah lanjut usia. Perjumpaan lintas generasi ini memperlihatkan bahwa seni tradisi bukan hanya milik satu kelompok usia, melainkan ruang bersama untuk belajar, berkarya, dan meneruskan warisan budaya.
Dalam pagelaran tersebut, sejumlah karya maestro tari Sunda terdahulu turut diangkat, di antaranya karya almarhumah Irawati Durban dan almarhum Salim.
Bagi Indrawati, wafatnya para maestro tidak seharusnya membuat karya dan pemikiran mereka ikut terkubur oleh waktu. Sebaliknya, karya-karya itu perlu terus dipelajari, dipentaskan, dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya.
Dengan demikian, warisan para maestro tidak hanya tersimpan dalam arsip atau menjadi kenangan masa lalu, tetapi tetap hidup melalui gerak para penari, iringan musik, serta apresiasi masyarakat.
Lagean Tabuhan, Ketika Kendang Menjadi Inspirasi Gerak Tari
Selain mengangkat kembali karya para maestro terdahulu, Pagelaran Ibing Sunda 2026 juga menjadi ruang untuk memperkenalkan kreativitas dalam tradisi.
Salah satu karya yang diperkenalkan Indrawati Lukman adalah Lagean Tabuhan, sebuah karya tari yang berangkat dari gagasan mengembangkan permainan kendang menjadi sajian pertunjukan yang lebih dinamis dan atraktif.
Karya ini lahir dari pemikiran Indrawati bahwa permainan kendang tidak harus selalu ditampilkan dalam pola yang cenderung statis. Unsur tabuhan dapat dikembangkan menjadi inspirasi gerak, sehingga tercipta perpaduan antara musikalitas dan ekspresi tubuh dalam sebuah koreografi.
Dalam proses penciptaannya, Indrawati memperoleh inspirasi dari gerakan serta pola tabuhan kendang Afrika. Inspirasi tersebut kemudian diolah menjadi gagasan artistik dengan karakter dan pendekatan tersendiri.
Lagean Tabuhan menggambarkan keceriaan muda-mudi ketika bercengkerama. Suasana riang itu diterjemahkan melalui gerak tubuh yang berpadu dengan permainan tabuhan kendang, sehingga menghadirkan pertunjukan yang komunikatif dan penuh energi.
Karya tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa tradisi bukan sesuatu yang harus dibekukan dalam bentuk masa lalu. Sebaliknya, seni tradisional dapat terus berkembang melalui kreativitas dan eksplorasi, selama tetap berpijak pada akar serta identitas budayanya.
Galih Pakuan dan Ikhtiar Menjembatani Lintas Generasi
Bagi Galih Pakuan, menjaga kelangsungan seni tari dan karawitan Sunda merupakan tanggung jawab budaya yang harus terus diperjuangkan.
Tantangan pelestarian saat ini bukan hanya mempertahankan keberadaan karya-karya lama, tetapi juga membangun ketertarikan generasi muda agar mau mengenal, mempelajari, dan meneruskannya.
Di sinilah pentingnya sebuah pagelaran seni. Pertunjukan bukan sekadar ruang bagi seniman untuk tampil, melainkan juga media pembelajaran, dokumentasi, apresiasi, dan pewarisan nilai budaya.
Melalui keterlibatan maestro, seniman senior, penari lintas generasi, serta dukungan pemerintah, Galih Pakuan berupaya mempertemukan kekayaan masa lalu dengan semangat dan kreativitas generasi masa kini.
Harapannya, tari klasik Sunda tidak hanya dikenal oleh kalangan tertentu atau menjadi kebanggaan dalam seremoni kebudayaan, tetapi kembali memperoleh tempat di tengah kehidupan masyarakat.
Pagelaran Ibing Sunda Galih Pakuan 2026 menjadi salah satu ikhtiar untuk membuktikan bahwa warisan budaya akan tetap hidup apabila ada yang bersedia merawat, mempelajari, dan mewariskannya.
Sebab, sebuah karya seni tidak akan benar-benar lestari hanya karena namanya tercatat dalam sejarah. Ia harus terus ditarikan, musiknya harus kembali dimainkan, dan nilai-nilainya harus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Menjaga tari klasik Sunda bukan sekadar mengenang kejayaan masa lalu, melainkan memastikan kebudayaan itu tetap memiliki masa depan. Melalui Pagelaran Ibing Sunda 2026, Galih Pakuan berharap denyut seni tari dan karawitan Sunda terus berdetak, menemukan penari-penari baru, serta semakin dikenal dan dicintai oleh generasi muda.
Bukan sekadar agar seni Sunda tidak punah, tetapi agar tetap hidup, tumbuh, dan berkembang di tengah perubahan zaman. (kin sanubary/sir)





