
Ngopi Sewarung
Akhlak
SEORANG pemimpin tidak perlu pintar atau berpendidikan tinggi. Yang penting punya kualitas pribadi. Berintegritas pribadi kuat. Berakhlak. Orang pintar banyak, tinggal meng-organize. Orang berpendidikan tinggi juga banyak, tinggal diseleksi dan ditempatkan sesuai keahlian.
Pak Jokowi, Gibran, tidak pintar, bahkan banyak orang bilang bodoh, planga-plongo. Gak berpendidikan tinggi juga. Itu benar ! Tapi menjadi presiden. Kenapa? Ya akhlaknya bagus, disukai leluhur
Nabi Muhammad gak sekolah, gak bisa membaca dan menulis. Malah dibilang gila. Tapi kenapa diangkat menjadi nabi? Ya karena budi pekertinya hebat. Diberi gelar al -amien (orang yang dipercaya).
Prabowo tiga kali mencalonkan diri jadi presiden dan wakil presiden kalah mulu. Karena saat itu sombong, sok pintar, sering menilai negerinya sendiri dengan kalimat buruk. Indonesia mau bubar lah, korupsilah dst. Juga bergaul dan didukung oleh kelompok orang tak berakhlak (kelompok agama garis keras jarum pendek-mulut bau berapi). Ya kalah.
Setelah beliau berubah sikap, tunduk, merendah, merangkul Jokowi (orang yang berakhlak), tidak melupakan akar, dst, baru lah dia menang. Jika nanti akhlaknya berubah lagi, mendukung Israel, takut sama Donald Trump, gak mau dengar kritik, malas turun ke rakyat, jual kekayaan SDA negeri ini ke pihak asing, ya bisa tumbang lagi dia.
Get the feeling
Uten Sutendy



