Opini

Multiplier Effect

UIN Alauddin, Makasar)

153views

Multiplier Effect

Oleh:  Hamdan Juhannis (UIN Alauddin, Makasar)

Penghasilannya, satu cabang minimal keuntungannya 500 ribu perhari. Jadi perhari rata-rata dia mendapatkan 17 jutaan (500 ribux35 hari), dan perbulan bisa meraup keuntungan sebanyak 500an juta, jauh melebihi ekspektasinya ketika dia memutuskan menyedekahkan uangnya sebanyak 75 juta.

SAYA tertarik pada ulasan salah satu penceramah di kampus saya saat kultum duhur. Ustadnya mengulas tentang esensi sedekah. Dia memang dikenal sebagai salah satu penceramah kaliber dari ratusan penceramah yang ada di kampus saya. Saat mengulas topik ceramahnya, dia menceritakan sebuah kasus menarik yang dalam istilah ekonomi, memiliki “multiplier effect” (efek berganda). Ulasannya seperti di bawah ini.

Seorang jamaah menyimak ceramah seorang ustad tentang keutamaan sedekah. Ustad itu berjanji bahwa bila seseorang bersedakah, maka yakinlah harta yang disedekahkan akan dilipatgandakan. Ustad itu menjanjikan jamaah bahwa itu adalah janji Allah. Ustad itu mengutip ayat yang bebicara pengandaian sedekah ibarat satu benih yang menghasilkan tujuh tangkai, dan setiap tangkai menghasilkan seratus tangkai. Jadinya 700 kali lipat.

Setelah ceramah, anggota jamaah itu termenung dan sangat yakin dengan janji Allah pasti akan memenuhi Nya. Masalah dia saat ini, bahwa dia ingin merenovasi rumahnya yang membutuhkan biaya 300 juta. Sementara dia hanya memiliki 75 juta. Jangankan tujuh ratus kali, tujuh kali lipat saja sudah lebih dari cukup untuk merenovasi rumahnya. Singkatnya, dia memutuskan sedekahkan uangnya kepada yang membutuhkan sebanyak 75 juta itu.

Tidak lama setelah anggota jamaah itu bersedekah, rumahnya terbakar habis, ludes. Dia sangat bersedih dan mendatangi Ustad untuk menyampaikan protesnya. Bahwa yang dialami bukan berlipat ganda hartanya, tetapi rumahnya justru terbakar habis. Lalu Ustadnya menimpali dan menyabarkannya bahwa memenuhi janji Allah tidak sesuai dengan skenario dirinya, atau keinginan manusia, tetapi meyakini bahwa Allah punya skenario sendiri.

Dengan penuh kesedihan, dia pergi menyewa kamar kos bersama keluarganya. Untuk bertahan hidup, dia membuka usaha penjualan nasi dan ayam penyet. Tidak berselang lama, penjualannya berkembang, dan dia terus membuka cabang, dan saat ini sudah lebih dari 35 jaringan yang didirikan. Menurut Ustad penceramah, usahanya sudah sampai merambah ke Malaysia.

Ustad pernah menanyakan penghasilannya, satu cabang minimal keuntungannya 500 ribu perhari. Jadi perhari rata-rata dia mendapatkan 17 jutaan (500 ribux35 hari), dan perbulan bisa meraup keuntungan sebanyak 500an juta, jauh melebihi ekspektasinya ketika dia memutuskan menyedekahkan uangnya sebanyak 75 juta.

Dari contoh ini, Ustad penceramah memastikan bahwa jangan pernah ragu dengan janji Allah, bahwa Allah akan memenuhi dengan cara yang tidak pernah disangka-sangka atau dari kalkulasi manusia. Jadi ternyata sedekah itu adalah perilaku ekonomi yang bisa melahirkan efek berganda yang tak terkira, mulai dari membuka lapangan kerja, sampai pada peningkatan kesejahteraan banyak orang, khususnya pemicu utamanya.

Pada akhir kultumnya, Ustad menyampaikan pertanyaan menggelitik bahwa apakah bersedekah dengan mengharapkan pamrih kepada Allah itu dikategorkan ikhlas. Ustad membuat pertanyaan analogis, bahwa apakah kita shalat karena ingin masuk surga atau takut dimasukkan ke dalam nerakanya Allah. Ustad mengunci bahwa itu menyampaikan ikhlas selama pamrihnya kepada Allah, bukan ke yang lain. Jadi ngomong-ngomong, berapa yang mau disedekahkan ke saya ini? **PenulisRektor  UIN Alauddin, Makasar, bertempat tinggal di Kota Makasar.

Editor : Rianto Muradi

Leave a Response