Uncategorized

Membawa Hafalan 30 Juz ke Bangku Kuliah, Kisah Dua Hafizh Muda di Unisba

30views

HARI-HARI  pertama menjadi mahasiswa biasanya diwarnai dengan semangat mencari teman baru, mengenal lingkungan kampus, hingga beradaptasi dengan pola belajar yang berbeda. Namun, bagi Aghsally Tsabit Aqdami dan Muhammad Fauzan Nur Alif Lalana, ada bekal lain yang ikut mereka bawa ketika memasuki Universitas Islam Bandung (Unisba): hafalan 30 juz Al-Qur’an.

Keduanya kini tercatat sebagai mahasiswa baru Unisba sekaligus penerima Beasiswa Mujahid, Mujtahid, dan Mujaddid (3M) Kategori Hafizh Al-Qur’an.

Predikat hafizh 30 juz yang mereka sandang bukanlah pencapaian yang datang dengan mudah. Di baliknya terdapat perjalanan bertahun-tahun, rutinitas menghafal dan mengulang ayat, rasa lelah, dukungan keluarga, bimbingan para ustaz, hingga perjuangan menjaga hafalan setelah seluruh 30 juz berhasil diselesaikan.

Kini, tantangan mereka memasuki babak berbeda. Mereka harus membuktikan bahwa kehidupan sebagai mahasiswa tidak membuat kedekatan dengan Al-Qur’an berkurang.

Kisah Aghsally dengan dunia tahfizh bermula sejak usia sekolah dasar. Sejak kelas 4 SD, ia telah menjalani kehidupan di pesantren.

Namun, perjalanan menghafalnya sempat tidak berjalan sesuai harapan. Ketika duduk di bangku SMP, Aghsally mengakui belum memiliki keseriusan yang cukup.

“Saya waktu di SMP kebanyakan main,” katanya.

Pengalaman tersebut justru menjadi titik balik dalam kehidupannya.

Memasuki SMA, Aghsally mengambil keputusan untuk berpindah lingkungan. Ia melanjutkan pendidikan di Markaz Tahfizh Icakan, Ciamis, dengan harapan dapat membangun kembali kesungguhannya dalam menyelesaikan hafalan Al-Qur’an.

Baginya, lingkungan baru menjadi kesempatan untuk memulai sesuatu dengan lebih serius.

“Kalau di sini masih main-main terus, enggak diselesaikan hafalannya, bakal sama saja kejadiannya sama yang di SMP,” ujarnya.

Di Icakan, Aghsally kemudian membuat target pribadi. Ia menargetkan 10 juz dalam setiap semester.

Target itu dijalankan tahap demi tahap. Sepuluh juz pertama berhasil diselesaikan pada semester pertama. Kemudian sepuluh juz berikutnya pada semester kedua. Hingga akhirnya, hafalan 30 juz berhasil dituntaskan dalam waktu sekitar satu tahun empat bulan.

Dari Menghafal hingga Mengajar di Riau

Bagi Aghsally, menyelesaikan 30 juz bukanlah akhir perjalanan.

Setelah hafalannya tuntas, ia tetap melanjutkan proses belajar. Ia kemudian menjalani pengabdian dengan mengajar di Riau dan dipercaya mengampu halaqah tahfizh.

Pengalaman tersebut semakin mempertemukan dirinya dengan dunia pendidikan Islam.

Ketika akhirnya kembali ke Bandung dan menentukan pilihan perguruan tinggi, Aghsally memilih Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Unisba.

Pilihan itu terasa dekat dengan perjalanan hidupnya. Pengalaman mondok, tahfizh, serta mengajar membuat pendidikan Islam menjadi bidang yang ingin ia dalami secara akademik.

Namun, kehidupan kampus membawa tantangan baru.

Aghsally tidak lagi sekadar mengejar tambahan hafalan. Ia kini harus menjaga 30 juz yang telah dimilikinya sembari menjalani jadwal kuliah dan berbagai aktivitas mahasiswa.

Untuk menjaga hafalan, Aghsally memilih membangun rutinitas murajaah setiap hari.

Waktu sebelum atau setelah Subuh menjadi salah satu kesempatan yang ia manfaatkan. Dalam waktu tersebut, ia dapat membaca satu hingga dua juz.

Baginya, menjaga hafalan tidak selalu membutuhkan waktu yang panjang. Yang jauh lebih penting adalah mempertahankan kebiasaan tersebut secara konsisten.

“Yang penting istiqamah, konsisten tiap hari harus ada yang dibaca,” tuturnya.

Rutinitas sederhana itu kini menjadi bagian dari upayanya menjaga hafalan di tengah kehidupan sebagai mahasiswa.

Jika perjalanan Aghsally menemukan titik balik ketika SMA, Fauzan telah memulai proses menghafal sejak sekolah dasar.

Mahasiswa Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Unisba itu mulai menghafal Al-Qur’an ketika duduk di kelas 3 SD di Pondok Pesantren Tahfiz Al-Al Azka, Cisauk, Tangerang-Banten.

Empat tahun kemudian, tepatnya ketika berada di kelas 1 SMP, Fauzan berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz.

Pencapaian tersebut tetap menyimpan cerita perjuangan. Ia mengaku pernah merasa lelah dan sempat memiliki keinginan untuk menyerah.

Namun, dukungan orang tua dan bimbingan ustaz membuatnya terus melanjutkan proses.

“Saya tahu bahwa hafalan Al-Qur’an ini tujuan yang mulia,” katanya.

Kesadaran itulah yang menjadi salah satu pegangan Fauzan ketika menghadapi masa-masa sulit selama proses menghafal.

Setelah Lulus SMA, Fauzan Pilih Mengabdi

Perjalanan Fauzan menuju perguruan tinggi juga tidak berlangsung secara langsung.

Setelah lulus dari MAS Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Menawan Kudus pada 2025, ia memilih menjalani masa pengabdian selama satu tahun.

Selama pengabdian, Fauzan membantu pondok, terutama dalam urusan kedisiplinan dan tata tertib.

Barulah setelah itu ia melanjutkan pendidikan tinggi di Unisba.

Fauzan memilih Teknik Industri karena tertarik pada bidang yang memiliki cakupan luas. Unisba sendiri merupakan salah satu kampus yang telah menjadi impiannya.

Kedekatan lokasi kampus dengan rumah menjadi salah satu pertimbangan. Namun, ada alasan lain yang lebih penting baginya, yakni harapan agar lingkungan kampus dapat membantu mempertahankan hafalan Al-Qur’an yang telah dimilikinya.

Status sebagai penerima Beasiswa 3M Kategori Hafizh Al-Qur’an memiliki arti tersendiri bagi Fauzan.

Ia tidak melihat beasiswa tersebut hanya sebagai dukungan untuk menjalani pendidikan tinggi. Lebih dari itu, beasiswa menjadi pengingat agar perjuangan menghafal sejak kecil tetap dirawat.

“Dengan saya mendapatkan beasiswa ini, saya tahu ini dapat membantu saya tetap menjaga Al-Qur’an saya, hafalan saya,” ujarnya.

Fauzan pun menyiapkan kebiasaan sederhana agar tetap dekat dengan Al-Qur’an.

Di tengah aktivitas kuliah, ia tidak harus selalu menyediakan waktu yang panjang. Membaca lima hingga 10 halaman ketika memiliki waktu luang menjadi salah satu cara yang ia lakukan untuk mempertahankan kedekatan dengan Al-Qur’an.

Kini Aghsally dan Fauzan menghadapi fase yang sama.

Mereka meninggalkan lingkungan pesantren yang sebelumnya memiliki ritme belajar dan hafalan yang lebih teratur. Di perguruan tinggi, keduanya harus belajar mengatur waktu secara mandiri.

Kuliah, tugas, kegiatan mahasiswa, kehidupan sosial, serta murajaah harus berjalan beriringan.

Situasi tersebut membuat kemampuan mengelola waktu menjadi bagian penting dari perjalanan mereka sebagai mahasiswa.

Namun, keduanya tidak ingin kesibukan akademik menjadi alasan untuk meninggalkan Al-Qur’an.

Hafalan 30 juz yang mereka miliki justru diharapkan menjadi bagian dari perjalanan mereka dalam menuntut ilmu di Unisba.

Cita-Cita Aghsally Membangun Lembaga Tahfizh

Aghsally memiliki cita-cita yang lahir dari pengalaman panjangnya di dunia pesantren dan tahfizh.

Ia berharap suatu saat dapat membangun lembaga tahfizh atau pondok pesantren sendiri. Melalui lembaga tersebut, ia ingin ikut mencetak generasi Qur’ani.

Sementara Fauzan ingin membawa ilmu dan hafalan yang dimilikinya untuk ikut menyebarkan dan membumikan Al-Qur’an di tengah masyarakat.

Bagi keduanya, hafalan 30 juz bukan sekadar pencapaian pribadi. Ada tanggung jawab untuk menjaga, mengamalkan, dan menjadikannya sumber manfaat.

Perjalanan Aghsally dan Fauzan memperlihatkan bahwa menjadi hafizh bukan hanya tentang menyelesaikan hafalan.

Aghsally harus melewati fase ketika dirinya belum serius, kemudian menemukan lingkungan yang membantunya berubah hingga berhasil menuntaskan 30 juz. Setelah itu, ia menjalani pengabdian sebagai pengajar sebelum melanjutkan studi PAI di Unisba.

Fauzan memulai hafalan sejak kelas 3 SD, menyelesaikan 30 juz ketika kelas 1 SMP, lalu menjalani pengabdian selama satu tahun setelah lulus SMA sebelum memilih Teknik Industri di Unisba.

Kini, keduanya sama-sama membawa pengalaman tersebut ke dunia perguruan tinggi.

Di Kampus Biru, mereka memiliki tugas baru: mengembangkan ilmu, membangun prestasi, beradaptasi dengan kehidupan mahasiswa, sekaligus menjaga hafalan yang telah diperjuangkan selama bertahun-tahun.

Beasiswa 3M menjadi salah satu bentuk dukungan dalam perjalanan tersebut.

Harapannya, Aghsally dan Fauzan tidak hanya menjadi mahasiswa yang unggul dalam bidang akademik, tetapi juga mampu memadukan ilmu dengan nilai-nilai Al-Qur’an dan menghadirkannya dalam bentuk kontribusi nyata bagi masyarakat.

Dua hafizh, dua perjalanan, satu semangat: menuntut ilmu tanpa meninggalkan Al-Qur’an.

Kini, 30 juz yang telah mereka hafalkan menjadi bekal untuk melangkah lebih jauh. Bukan sebagai akhir dari perjuangan, melainkan sebagai awal untuk membuktikan bahwa ilmu, hafalan, dan pengabdian dapat tumbuh bersama di dunia kampus. (askur/nmn)***

Leave a Response