DaerahSekolasiana

Melihat Pelajar SMA Latihan dan Lomba Baca Puisi di Rumah Puisi

276views

RUMAH Puisi Taufiq Ismail pada Ahad, 25 Januari 2026, semarak sekali. Langit tampak rancak, meski siangnya Gunung Marapi bererupsi, menyemburkan debu tebal ke udara.

Di lutut gunung itu, di antara pertemuan Marapi dan Singgalang, berdiri Rumah Puisi yang telah bertransformasi menjadi Museum Sastra Indonesia.

Semarak, karena hari itu Rumah Puisi & Museum Sastra Indonesia sedang “baralek literasi” setelah sehari sebelumnya Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, secara resmi mengaktivasi ruang publik kantong sastra dan budaya tersebut. Dengan aktivasi itu, Rumah Puisi & Museum Sastra Indonesia dibuka kembali untuk umum dan siap dihidupkan dengan berbagai kegiatan literasi, seni, dan sastra.

Saya mendapat kehormatan diundang oleh Kementerian Kebudayaan RI sebagai salah seorang narasumber dalam kegiatan tersebut, khususnya pada Bengkel Baca Puisi dan Bedah Buku. Pada bengkel baca puisi, selain saya, juga diundang Dr. Sulaiman Juned, S.Sn., M.Sn., penyair yang juga sutradara teater. Selama empat jam yang dibagi dalam dua sesi, bengkel baca puisi digelar sebelum lomba dilaksanakan. Panitia menyediakan sejumlah hadiah bagi pelajar pembaca puisi terbaik, buah dari pendampingan dan latihan yang berlangsung di Rumah Puisi & Museum Sastra Indonesia.

Sehabis menyampaikan materi bertajuk Proses Kreatif Baca Puisi, Sulaiman Juned langsung membimbing pelajar yang didampingi guru mereka, untuk menjalani latihan dasar. Latihan itu mencakup olah vokal, olah tubuh, dan olah rasa, tiga fondasi utama dalam membaca puisi. Di luar panggung utama, tepat di hadapan Rumah Gurindam, para pelajar membentuk lingkaran dan memulai latihan pernapasan.

Latihan dasar menjadi kebutuhan mutlak bagi seorang pembaca puisi.

Olah vokal melatih kekuatan, kelenturan, dan ketepatan bunyi agar kata-kata tidak jatuh hambar atau berlebihan saat puisi dibacakan. Olah tubuh membantu pembaca memahami sikap, posisi, dan gerak yang wajar di atas panggung sehingga tubuh tidak kaku atau justru terlalu banyak bergerak.

Sementara itu, olah rasa melatih kepekaan batin agar pembaca mampu menyelami suasana, emosi, dan makna puisi. Tanpa latihan dasar, pembacaan puisi mudah tergelincir menjadi sekadar membaca teks, bukan menghadirkan pengalaman estetik bagi pendengar.

Sulaiman Juned juga menegaskan pentingnya membedakan berbagai bentuk ekspresi puisi yang kerap disalahpahami. Deklamasi adalah puisi yang dihafal dan dibaca dengan gerak-gerik tertentu, dengan irama yang dialun-alunkan seperti saritilawah. Baca puisi berbeda; pembaca tetap menggunakan teks, meskipun telah hafal, demi menjaga ketepatan dan kerendahan hati pada kata-kata penyair.

Puisi pertunjukan menghadirkan unsur seni pertunjukan—akting dan spektakel—dan memungkinkan pemenggalan larik. Musikalisasi puisi menjadikan puisi sebagai lagu dengan aransemen musik, namun teks puisi tetap dibaca. Dramatisasi atau teatrikalisasi puisi menjadikan pembacaan puisi menyerupai dialog dalam pertunjukan teater.

Ia juga menekankan pentingnya penghayatan dan analisis puisi sebelum dibaca.

Pembaca perlu memahami tema, amanat, nada, irama, intonasi, pengulangan, perangkat kebahasaan, hingga tipografi puisi. Sulaiman mengingatkan agar pembaca berhati-hati memilih puisi: ada puisi podium yang kuat pada bunyi dan cocok dibacakan, ada pula “puisi kamar” yang lebih mengedepankan makna dan nikmat dibaca dalam kesunyian.

Dari sisi vokal, pembaca harus mampu memainkan ritme, jeda, artikulasi, dan warna suara dengan memanfaatkan suara hidung, dada, dan perut. Penampilan dan penguasaan pentas pun tak kalah penting: teknik muncul, rias dan busana, properti, hingga kemampuan memberi sugesti kepada audiens.

Setelah bengkel baca puisi selesai, sesi siang dilanjutkan dengan Lomba Baca Puisi yang diikuti para pelajar. Lomba ini dinilai dua juri, yakni penyair Indonesia asal Payakumbuh, Adri Sandra, serta seniman Muhammad Jujur, sosok yang dikenal luas karena pernah menjadi tamu acara Kick Andy.

Muhammad Jujur bukan nama asing di Rumah Puisi; ia kerap mendampingi Taufiq Ismail mengiringi pembacaan puisi sang sastrawan dengan musik yang menyentuh. Kehadiran kedua juri ini memberi bobot artistik sekaligus inspirasi tersendiri bagi para peserta, karena mereka tidak hanya dinilai, tetapi juga disaksikan dan diapresiasi oleh pelaku seni yang telah menempuh perjalanan panjang dalam dunia sastra dan kebudayaan.

Pada kesempatan yang sama, saya membedah teori dan petunjuk teknis lomba baca puisi yang sering diabaikan calon peserta. Banyak kesalahan yang berulang dari lomba ke lomba. Peserta kerap tidak membawa naskah puisi, padahal membaca puisi bukan adu hafalan. Ada yang membaca mendayu-dayu tanpa alasan estetik, atau sebaliknya membaca terlalu keras hingga kehilangan nuansa. Kontak mata dengan audiens sering diabaikan, dinamika pembacaan monoton, dan emosi datar dari awal hingga akhir.

Kesalahan lain yang jamak terjadi ialah gerak tubuh berlebihan, kostum yang terlalu ramai, mata yang liar dan tidak fokus, serta membaca terburu-buru seolah ingin cepat selesai. Ada pula peserta yang menggunakan musik latar tanpa fungsi artistik, wajah menutup teks, salah menafsirkan puisi, tidak memahami teknik menggunakan mikrofon, bahkan melempar, merobek, atau membuang naskah puisi di akhir pembacaan.

Semua itu menunjukkan kurangnya pemahaman dasar tentang etika dan estetika baca puisi.

Sastrawan Taufiq Ismail dan istri yang menyaksikan pelajar-pelajar kembali meramaikan Rumah Puisi tampak haru. Taufiq Ismail mendirikan Rumah Puisi pada 2008 bukan sekadar sebagai tempat menyimpan buku-bukunya, melainkan sebagai ruang temu gagasan, tempat belajar, dan ruang tumbuh apresiasi sastra, terutama bagi guru dan siswa.

Hari itu, tawa, suara latihan, dan puisi yang dibacakan pelajar seolah menegaskan bahwa Rumah Puisi benar-benar hidup kembali. Menjadi rumah bagi kata-kata, bagi generasi baru, dan bagi harapan bahwa sastra akan terus menemukan pembacanya. **Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis

Leave a Response