Opini

Kolaborasi Tim PKM dan Dokter Alumni FK Unisba Wujudkan Pesantren Sehat

Hasil survei Tim PKM FK Unisba tahun 2022–2023 menunjukkan, sekitar 50–60 persen santri laki-laki di Pesantren Sabilunnajat, Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis, masih menderita skabies, dan 5 persen di antaranya mengalami infeksi sekunder.(foto: komhumas unisba)
268views

Oleh: dr. Winni Maharani Mauliani, M.Kes

FAKULTAS Kedokteran Universitas Islam Bandung (FK Unisba) yang kini berusia 21 tahun telah melahirkan 1.954 dokter yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Jumlah lulusan yang besar ini merupakan modal penting untuk dikembangkan dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, khususnya di wilayah-wilayah yang masih menghadapi tantangan kesehatan.

Salah satu kelompok masyarakat yang perlu mendapat perhatian serius adalah santri di pesantren tradisional. Selama ini, pesantren masih kerap diidentikkan dengan penyakit kulit skabies atau yang dikenal dengan istilah “budug” dalam bahasa Sunda. Ironisnya, di beberapa daerah masih berkembang anggapan bahwa penyakit ini merupakan “paket wajib” saat menimba ilmu di pesantren, bahkan dianggap sebagai “anugerah” bagi mereka yang sedang menuntut ilmu agama. Padahal, jika merujuk pada Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 247, generasi khalifah di muka bumi seharusnya tampil sebagai sosok yang kuat jasmani dan berilmu—basthotan fil ilmi wal jismi—bukan lemah karena terbebani penyakit.

Hasil survei Tim PKM FK Unisba tahun 2022–2023 menunjukkan, sekitar 50–60 persen santri laki-laki di Pesantren Sabilunnajat, Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis, masih menderita skabies, dan 5 persen di antaranya mengalami infeksi sekunder. Fakta ini mendorong FK Unisba bersama Unit Penelitian dan PKM melalui dana hibah internal tahun anggaran 2024–2025 menggelar program pengabdian masyarakat berjudul: “Pemberdayaan Dokter Alumni dalam Pendampingan PHBS dan Produksi Sabun Herbal sebagai Upaya Eliminasi Skabies di Pesantren Sabilunnajat Kabupaten Ciamis.”

Program ini diketuai oleh dr. Winni Maharani Mauliani, M.Kes dengan dukungan tim yang terdiri dari Ratna Dewi I.A., dr. Alvira Widiyanti, M.Kes, serta lima mahasiswa FK Unisba.

Awal Kolaborasi dengan Dokter Alumni

Kegiatan resmi dibuka pada 8 Juni 2025, ditandai dengan pertemuan antara tim pengabdi dan perwakilan Persatuan Dokter Alumni wilayah Priangan Timur. Organisasi alumni ini dipimpin oleh dr. Maryam Hazrina (angkatan 2010) dan beranggotakan 37 orang. Dari pertemuan ini disusun beberapa agenda, di antaranya pemeriksaan kesehatan santri untuk mendeteksi skabies yang dilakukan oleh para dokter alumni sekitar pesantren, penyusunan kurikulum edukasi kesehatan diri (self hygiene), hingga pelatihan keterampilan membuat sabun herbal berbahan alami.

Tujuan akhirnya adalah menumbuhkan kesadaran santri tentang pentingnya menjaga kebersihan diri, sehingga stigma “santri budug” bisa bergeser menjadi “santri sehat dan produktif.”

Hingga Juli 2025, kegiatan penjaringan kesehatan berhasil memeriksa 79 santri. Mereka dikategorikan dalam tiga kelompok: merah (skabies dengan infeksi sekunder), kuning (skabies tanpa infeksi sekunder), dan hijau (santri sehat). Dibandingkan survei dua tahun sebelumnya, hasilnya menunjukkan perbaikan signifikan. Kini hanya 32 persen santri laki-laki yang tercatat mengalami skabies, dengan 3 persen di antaranya menderita infeksi sekunder.

Capaian ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi dokter alumni FK Unisba dengan tim PKM dosen mampu memberikan dampak positif bagi peningkatan kesehatan pesantren. Harapannya, kerja sama ini terus berlanjut sehingga pesantren dapat melahirkan generasi santri yang sehat, tangguh, dan berdaya guna bagi umat.**

Leave a Response