
Oleh: Ridhazia
KEKASARAN diksi belakangan ini menunjukan kalau di Indonesia telah terjadi pergeseran model komunikasi politik.
Dari semula debat dengan argumen yang substansial dan santun, kini tengah menuju gaya bahasa yang sarkastik yang kasar.
Dua diantara diksi yang paling populer belakangan ini adalah “ndasmu!” dan “presiden bodoh”.
Mana paling kasar?
Sebuah studi berbahasa mengungkapkan tingkat kesopanan dalam konteks budaya Indonesia, diksi “ndasmu” jauh lebih kasar dibandingkan dengan kata “bodoh”.
Meski kedua diksi ini serupa sebagai umpatan yang sangat tidak etis dalam konteks komunikasi formal, diksi “ndasmu” — ndas artinya kepala, dan ndasmu berarti “kepalamu” — dikatagorikan sebagai umpatan sangat kasar melebihi kata ejekan, atau penghinaan.
Sabab kata “ndas” dalam struktur sosial budaya Jawa adalah kata benda level terendah (ngoko kasar) untuk menggantikan kata kepala (sirah/krama inggil: mustaka).
Bagaimana dengan Bodoh?
Bandingkan dengan diksi bodoh. Sebagai kata sifat yang umum digunakan dalam bahasa Indonesia, diksi bodoh hanya menggambarkan seseorang yang kurang pandai atau lambat pemahaman.
Secara tingkat kebahasaan, bodoh lebih merujuk pada penilaian kecerdasan atau perilaku. Dan, diksi bodoh sudah umum digunakan sebagai kata dasar yang bersifat peyoratif untuk melabeli seseorang yang kurangnya kecerdasan, pemahaman, atau penalaran.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.




