Uncategorized

Jejak Baru Muawia YI Alzamli, Mahasiswa Gaza yang Memulai Hidup Baru di Unisba

Muawia berasal dari keluarga akademisi di Palestina. Ayahnya merupakan Wakil Rektor di Universitas Al-Aqsa, salah satu perguruan tinggi terbesar di Jalur Gaza. Namun, universitas tersebut hancur akibat serangan pendudukan Israel.(foto: komhumas unisba)
301views

DI tengah konflik berkepanjangan yang melanda tanah kelahirannya, Muawia YI Alzamli, pemuda asal Gaza, Palestina, menapaki lembaran baru dalam hidupnya sebagai mahasiswa Universitas Islam Bandung (Unisba). Kehadirannya bukan sekadar menjadi mahasiswa baru, melainkan juga simbol harapan, keteguhan, dan semangat juang yang lahir dari keterbatasan.

Lahir dari keluarga akademisi, Muawia tumbuh dalam lingkungan pendidikan. Sang ayah bahkan pernah menjabat sebagai Wakil Rektor di Universitas Al-Aqsa, Gaza. Namun, kampus itu luluh lantak akibat gempuran Israel. “Saya berasal dari Palestina. Keluarga saya tinggal di Gaza, dan pada 24 April 2025 mereka terkena serangan. Tiga anak dari saudara laki-laki saya syahid, ayah saya terluka. Itu membuat saya sangat sedih dan tertekan, tapi saya hanya bisa berkata Hasbunallahu wa ni‘mal wakil,” tuturnya dengan nada haru. Meski duka masih menyelimuti, ia tetap menggenggam harapan agar keluarganya bisa keluar dari Gaza dengan selamat dan suatu saat menyusulnya ke Indonesia.

Motivasi Muawia melanjutkan studi sangat jelas: memperdalam ilmu dan memberi manfaat bagi masyarakat serta masa depannya. Indonesia ia pilih bukan tanpa alasan — negeri ini dikenal ramah, biaya pendidikan dan hidup terjangkau, serta memiliki kualitas pendidikan Islam yang mumpuni. “Bandung sangat nyaman untuk belajar, dan Unisba punya reputasi baik,” ucapnya.

Di Unisba, Muawia menekuni Program Studi Perbankan Syariah di Fakultas Syariah. Pilihan itu sesuai dengan minat sekaligus peluang karier yang ia lihat ke depan. Ia pun beruntung karena mendapat beasiswa penuh dari kampus. Sebelumnya, ia sempat kuliah di jurusan perbankan di Universitas Al-Aqsa Gaza, namun konflik memaksanya mencari jalur baru demi melanjutkan pendidikan.

Sesampainya di Indonesia, Muawia merasakan sambutan hangat dari dosen dan mahasiswa. Lingkungan kampus yang nyaman membuatnya cepat beradaptasi. Tantangan terbesarnya adalah bahasa. Namun, dengan semangat belajar setiap hari melalui kamus digital, bantuan teman, hingga mengikuti kelas dengan serius, ia yakin bisa menguasai bahasa Indonesia. “Bahasa dan sistem pembelajaran di sini berbeda dengan Gaza. Tapi insyaAllah saya berusaha keras,” jelasnya.

Muawia menargetkan bisa lulus tepat waktu, empat tahun, dengan IPK di atas 3,5. Ia juga berniat aktif di organisasi mahasiswa agar memiliki jejaring luas sekaligus melatih keterampilan sosialnya. Bahkan, ia bercita-cita menjadi wajah kampus yang dikenal media. Interaksi dengan mahasiswa dari berbagai negara juga ia sebut sebagai pengalaman berharga yang memperluas wawasan.

Ke depan, setelah menyelesaikan S1, Muawia ingin melanjutkan studi hingga S2 dan S3 di Unisba. Baginya, pendidikan harus tuntas sebelum terjun ke dunia kerja. Selepas itu, ia bercita-cita pulang ke Palestina untuk berkontribusi dalam pembangunan, khususnya bidang pendidikan. Namun, jika peluang karier terbuka di Indonesia, ia juga siap menapaki jalan baru di negeri ini.

Dengan keteguhan hati dan semangat pantang menyerah, Muawia Y.I. Alzamli bukan hanya mahasiswa baru Unisba tahun 2025, melainkan juga cermin harapan seorang anak Gaza yang tetap menyalakan mimpi, meski jauh dari tanah kelahiran.(sani/bnn)

Leave a Response