RESENSI BUKU

Harry Tjahjono : Memoar dari “Selamat Tinggal Duka” hingga “Si Doel Anak Sekolahan”

487views

Oleh: Kin Sanubary

Kalaupun dikatakan Si Doel Anak Sekolahan sukses, tak lepas dari skenario yang ditulis oleh seorang penulis handal bernama Harry Tjahjono, yang menulis hampir 75 episode kisah legendaris itu.”
— Rano Karno

Kata yang Menjadi Cermin Kehidupan

Memoar Harry Tjahjono bukan sekadar catatan perjalanan seorang penulis. Ia adalah potret batin seorang jurnalis, sastrawan, dan penulis skenario yang menautkan kata dengan kemanusiaan.
Melalui buku Dari Selamat Tinggal Duka sampai Si Doel Anak Sekolahan, Harry menuturkan perjalanannya menulis dengan kejujuran, empati, dan ketekunan kualitas yang menjadikannya salah satu sosok penting dalam sejarah sastra dan perfilman Indonesia.

Bahasanya lugas, jujur, dan menyentuh. Ia menulis dengan kesadaran sosial yang kuat, menggambarkan kehidupan rakyat kecil dengan kedalaman rasa. Di antara halaman memoarnya, terselip pula sejumlah puisi, memperlihatkan luasnya cakrawala ekspresi serta kepekaan Harry dalam menangkap denyut kehidupan dan kemanusiaan.

Apresiasi untuk Penulis yang Rendah Hati

“Harry Tjahjono adalah sastrawan besar yang sangat sederhana dan tidak suka membanggakan diri, walaupun karya-karyanya populer dan dikenal luas di masyarakat.”
— Irwan Hidayat

Menurut Irwan, karya-karya Harry menggambarkan kehidupan mayoritas rakyat Indonesia mereka yang harus berjuang untuk hidup, disajikan dengan drama, parodi, dan komedi yang humanis.
Kekuatan Harry Tjahjono terletak pada kemampuannya menyelami dan mengarungi kehidupan masyarakat kecil secara langsung, bukan sekadar mengamati dari kejauhan.

“Memoar ini sangat bermanfaat bagi blantika sastra Indonesia,” tambah Irwan.

Dari “Selamat Tinggal Duka” hingga “Si Doel Anak Sekolahan”

Karier Harry Tjahjono dimulai pada 1978 melalui novel Selamat Tinggal Duka yang dimuat bersambung di Majalah Gadis, lalu difilmkan pada 1981 oleh sutradara M. Noor dengan skenario Syumanjaya, dibintangi Rano Karno, Yessy Gusman, dan Tino Karno.
Tahun 1984, ia menulis novel Dua Karcis Gratis, yang diadaptasi menjadi film legendaris Langitku Rumahku (1989) garapan Slamet Rahardjo dan Erros Djarot.
Ia juga menulis sejumlah novel lain seperti Kinanti, Mawar Cinta Berduri Duka, Menunggu Eksekusi Mati, serta serial anak-anak Anak Wartawan Cilik, Anak Pemberani, dan Serial Tantangan (1985).

Nama Harry semakin dikenal lewat skenario Si Doel Anak Sekolahan (RCTI, 1995–1997). Ia menulis hampir 75 episode serial tersebut salah satu karya televisi paling berpengaruh dalam sejarah pertelevisian Indonesia.
Selain itu, ia juga terlibat dalam Sarana Angkutan Rakyat, Keluarga Cemara, dan sejumlah FTV di TV7 seperti Perangkap Perkawinan, Perpisahan yang Indah, serta Sam Pek Eng Tay. Bersama Agus Noor, ia menulis program satir legendaris Sentilan Sentilun yang dibintangi Butet Kartaredjasa dan Slamet Rahardjo.

Karya Musik dan Penghargaan

Di dunia musik, Harry menulis lagu untuk Emha Ainun Nadjib, Novia Kolopaking, Yon Koeswoyo, Rano Karno, Mandra, Yuni Shara, Bunga Citra Lestari, dan Ayu Azhari.
Salah satu karyanya yang paling dikenal adalah “Harta Berharga”, lagu tema Keluarga Cemara (bersama Arswendo Atmowiloto), yang meraih Piala Maya 2020 dan Piala Citra FFI 2020.

Tahun 2023, ia menulis 20 lagu anak-anak yang ditayangkan di kanal YouTube KlipklapKlub.
Sepanjang kariernya, Harry telah meraih berbagai penghargaan, antara lain:

Pemenang Sayembara Cerpen Majalah Zaman (1982)

Pemenang Sayembara Novel Majalah Femina (1982)

Juara Lomba Tajuk Rencana Hari Ibu (1989)

Pemenang Sayembara Esai Majalah Tiara (1989)

Piala Maya & Piala Citra FFI (2019–2020)

Kiprah Jurnalistik

Sejak akhir 1970-an, Harry aktif di dunia jurnalistik:

Redaktur Budaya Majalah Sonata (1979–1980)

Redaktur Pelaksana Majalah Intan (1981–1982)

Reporter Majalah Zaman, Sarinah, Kartini (1983–1984)

Redaktur Madya Majalah Sarinah (1985–1992)

Wakil Pemimpin Redaksi Tabloid Bintang Indonesia & Fantasi (1992–1998)

Pemimpin Redaksi Tabloid PRO-TV (1999–2001)

Managing Editor DeFACTO.id (2002–sekarang)

Karya Terbaru dan Konsistensi Kreatif

Kini, Harry Tjahjono tetap aktif menulis berita, esai, serta karya sastra bertema seni, sosial, budaya, dan human interest.
Pada 2024, ia menerbitkan buku Prosa Liris Smaragama, disusul Kitab Madiun Heritage (2025). Tahun ini, dua buku barunya siap terbit:

Tanah Air Orang Miskin (kumpulan puisi)

Dari Selamat Tinggal Duka sampai Si Doel Anak Sekolahan (memoar)

Buku Memoar dan Sekumpulan Sajak karya Harry Tjahjono ini telah beredar dan diterbitkan oleh Penerbit Kosa Kata Kita, Jakarta.

Judul: Dari Selamat Tinggal Duka sampai Si Doel Anak Sekolahan
Penulis: Harry Tjahjono
Tebal: 214 halaman, full color, matte paper
Harga: Rp120.000,- (gratis ongkir)
ISBN: 978-623-8105-90-8
Tersedia di Tokopedia: kosakatakita
Pemesanan via WA: +62 812-2630-3652 (Teguh Bambang Hermanto)

Penulis yang Menulis dengan Nurani

Memoar ini bukan sekadar dokumentasi karya, melainkan refleksi hidup seorang penulis yang menulis dengan nurani.
Dari Selamat Tinggal Duka hingga Si Doel Anak Sekolahan, Harry Tjahjono menunjukkan bahwa tulisan yang lahir dari empati dan kejujuran akan selalu menemukan jalannya menuju hati pembaca.
Ia adalah penulis yang tidak hanya menulis tentang kehidupan, tetapi juga hidup bersama kata-katanya.*

* Kin Sanubary, pegiat media sosial, kolektor, pendiri dan pengelola Rumah Media Lawas, penerima Penghargaan PWI Jawa Barat 2023 kategori pelestari media massa nasional, bermukim di Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Leave a Response