
JAKARTA, Bandungpos.id – Gempa bumi tektonik dengan kekuatan Magnitudo (M) 7.7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Nusa Tenggara Timur, Jumat pagi (15/8/2026) pukul 04.58.23 WIB.
Dikutip dari laman siaran pers Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG), hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M7,7 pada kedalaman 15 km. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 8,41° LS; 121,39° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 30 Km arah timur laut Nagegeo, Nusa Tenggara Timur.
Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini berpotensi tsunami di wilayah provinsi Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Nusa tenggara Barat dengan tingkat status ancaman:
A. Siaga (0.5 – 3 meter) terjadi di wilayah:
Provinsi Nusa Tenggara Timur, dengan perkiraan waktu tiba di
1. Manggarai Bagian Utara, pukul 05:02 WIB
2. Ngada Bagian Utara, pukul 05:02 WIB
3. Ende, pukul 05:05 WIB
4. Flores Timur, pukul 05:15 WIB
Provinsi Sulawesi Selatan dengan perkiraan waktu tiba di:
1. Jeneponto, pukul 05:13 WIB
B. Waspada (<0.5 meter) terjadi di wilayah:
Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan perkiraan waktu tiba di
1. Flores Timur, pukul 05:15 WIB
Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan perkiraan waktu tiba di
1. Bima, pukul 05:12 WIB
2. Dompu, pukul 05:19 WIB
Provinsi Sulawesi Selatan dengan perkiraan waktu tiba di
1. Wajo, pukul 06:01 WIB
Berdasarkan SOP yang berlaku, BMKG telah menyampaikan peringatan dini tsunami kepada stakeholder dan masyarakat.
Peringatan Dini 1 telah diterbitkan pada pukul 05:00:39 WIB atau 2 menit 16 detik setelah gempa bumi.
Peringatan Dini 2 telah diterbitkan pada pukul 05:09:56 WIB atau 11 menit 33 detik setelah gempa bumi.
Berdasarkan estimasi peta tingkat guncangan (shakemap), gempa bumi ini dirasakan dengan skala intensitas:
VII MMI (Tiap-Tiap orang keluar rumah, kerusakan ringan pada bangunan kontruksi baik) di Aesesa, Nagekeo; Riung, Ngada; Kota Mbay
VI MMI (Getaran dirasakan oleh semua penduduk. Kebanyakan semua terkejut dan lari keluar) di Wolowae, Nagekeo; Kota Bajawa
V MMI (Getaran dirasakan hampir semua penduduk, orang banyak terbangun) di Kota Ende; Kota Borong; Kota Ruteng
Disebutkan, BMKG akan terus memonitor aktivitas gempa bumi susulan dan ketinggian tsunami berdasarkan observasi tinggi muka laut, serta menyampaikan pemutakhiran informasi kepada stakeholder dan masyarakat.
BMKG mengimba masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa bumi. Melakukan evakuasi bagi yang berada di wilayah dengan status “awas” dan “siaga”.
Kemudian menjauhi pantai dan tepian sungai bagi yang berada di wilayah dengan status “waspada”
Pastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi seperti media sosial @infoBMKG, website www.bmkg.go.id atau inatews.bmkg.go.id, dan Mobile Apps infobmkg atau wrs-bmkg.

Sementara itu dilaporkan akibat gempa telah menyebabkan dua orang tewas.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan masih terus mengumpulkan laporan terkait jumlah korban dan dampak gempa M 7,7 di wilayah NTT.
“Sejauh ini, ada dua orang meninggal,” kata Berton dalam konferensi pers yang digelar BMKG melalui siaran Zoom, Sabtu (15/8/2026). Dalam update berikutnya, disebutkan 1 orang meninggal, empat orang luka-luka.
Penyebab Gempa Dahsyat M 7,7 di NTT
Lebih lanjut, Direktur Seismologi Teknik, Geofisika, Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, mengatakan ada beberapa laporan sementara terkait kerusakan yang terjadi akibat gempa, dalam beberapa skala. Berikut penjelasannya:
Sedang-berat (4-5 MMI): ada tembok rumah sederhana roboh di Maumere, Manggarai Barat, Labuan Bajo.
Sedang (6-7 MMI): kerusakan di pelabuhan Maumere dan Hotel Jayakarta Bajo
“BMKG akan melakukan survei ke lokasi terdampak mulai hari ini, jika ada update dan berita terkini akan disampaikan,” kata Teguh.
Lebih lanjut, Berton mengatakan prioritas BNPB saat ini adalah memastikan keselamatan masyarakat, mencegah korban tambahan akibat gempa susulan, beserta bahaya ikutan lainnya.
“Kami sampaikan bahwa masyarakat tetap tenang, apalagi peringatan dini tsunami sudah berakhir. Namun, masyarakat tetap jauhi pantai, sebelum benar-benar ada peringatan lain dari BMKG. Kami juga sampaikan imbauan, masyarakat jangan masuki gedung retak, yang potensi bahaya saat ada susulan,” ia menjelaskan, seperti dikutip dari CNBC. (Ads)





