Hiburan

Ferry Curtis: Menakar Tajam Nasionalisme Lewat Lirik dan Kedalaman Literasi

Menakar Tajam Nasionalisme

68views

Lebih dari sekadar mengajak masyarakat untuk membaca buku, karya-karya Ferry Curtis dinilai memiliki dimensi kedalaman sosial-politik yang kuat. Bagi para kritikus musik, ia dinilai handal dalam menangkap kegelisahan zaman dan merajutnya menjadi narasi kebangsaan yang kokoh.

DI TENGAH  hiruk-pikuk industri musik populer modern, nama Ferry Curtis tetap tegak berdiri sebagai salah satu begawan musik balada Indonesia yang konsisten. Musisi senior asal Purwakarta, Jawa Barat ini tidak hanya dikenal luas sebagai penggerak aktif kampanye literasi nasional, tetapi juga diakui sebagai penulis lagu nasionalisme kebangsaan yang tajam dan handal.

Melalui petikan gitar akustik dan lirik-liriknya yang sarat makna, alumnus teater Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung ini berhasil mengawinkan semangat mencerdaskan bangsa dengan kecintaan mendalam pada tanah air.

Konsistensi Menjaga Nyala Literasi
Sejak memulai karier profesionalnya pada awal 1990-an, Ferry Curtis telah melahirkan lebih dari 250 karya lagu dan menggelar puluhan konser tunggal. Salah satu tonggak penting dalam perjalanan bermusiknya adalah perilisan album bertema literasi bertajuk Jangan Berhenti Membaca pada tahun 2019, sebuah proyek kolaboratif strategis bersama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Lagu-lagunya tidak sekadar menjadi pelengkap hiburan, melainkan bertransformasi menjadi “himne pembakar semangat” di berbagai perpusatakaan daerah, sekolah, dan komunitas baca di seluruh pelosok negeri. Atas dedikasi tanpa batas tersebut, Pemerintah Kota Bandung menganugerahinya Anugerah Budaya Kota Bandung pada tahun 2021.

Menatap Kebangsaan dengan Lirik yang Tajam
Lebih dari sekadar mengajak masyarakat untuk membaca buku, karya-karya Ferry Curtis dinilai memiliki dimensi kedalaman sosial-politik yang kuat. Bagi para kritikus musik, ia dinilai handal dalam menangkap kegelisahan zaman dan merajutnya menjadi narasi kebangsaan yang kokoh.
Saat ditemui Penulis di sela-sela kegiatannya di Bandung, Ferry mengungkapkan bahwa literasi dan nasionalisme adalah dua sisi dari satu koin yang sama. Ia memandang bahwa sebuah bangsa tidak akan bisa memiliki nasionalisme yang sehat tanpa ditopang oleh masyarakat yang literat.
“Bagi saya, menulis lagu bertema kebangsaan itu bukan sekadar mengulang-ulang kata ‘merdeka’ atau menyebut nama tanah air. Nasionalisme yang tajam itu lahir dari kegelisahan melihat realitas sosial. Ketika masyarakat kita malas membaca, mereka akan mudah dipecah belah oleh hoaks dan propaganda. Di situlah lagu-lagu saya mencoba masuk, menjadi jembatan agar kita kembali berpikir jernih sebagai satu bangsa,” ujar Ferry sambil membenahi letak gitar akustiknya.

Ia menambahkan, musik balada dipilih karena formatnya yang jujur dan bercerita. Melalui medium ini, pesan kebangsaan yang berat bisa disampaikan secara personal, dari hati ke hati, tanpa terkesan seperti doktrinasi yang kaku.
“Kita tidak bisa memaksakan anak muda untuk mencintai negaranya hanya dengan pidato. Mereka harus disentuh lewat rasa. Lirik kebangsaan harus mampu memotret kemiskinan, keadilan yang belum merata, sekaligus keindahan gotong royong di akar rumput. Jika itu berhasil digambarkan dengan jujur, rasa memiliki terhadap bangsa ini akan tumbuh dengan sendirinya,” lanjut Ferry dengan nada bicara yang tenang namun tegas.

Lewat pendekatan musik balada yang komunikatif namun reflektif, lagu-lagu bertema nasionalisme milik Ferry mampu menggerakkan kesadaran sipil tanpa terkesan menggurui. Ia membuktikan bahwa kecintaan pada negara dapat ditumbuhkan dengan cara yang elegan: lewat kedalaman literasi dan keindahan harmoni nada.** Riato Muradi

Leave a Response